Musailamah Al-Kadzab (Maslamah bin Habib) adalah tokoh dari Bani Hanifah di wilayah Yamamah (kini Arab Saudi)
Musailamah Al-Kadzab (Maslamah bin Habib) adalah tokoh dari Bani Hanifah di wilayah Yamamah (kini Arab Saudi) yang mengaku sebagai nabi dan rasul baru pada masa Nabi Muhammad SAW. Julukan Al-Kadzab diberikan karena ia adalah "si pendusta besar" akibat ajaran sesat yang dibuatnya.
Ada beberapa tahun penting dalam linimasa sejarah Musailamah Al-Kadzab (si nabi palsu) berdasarkan kalender Hijriyah maupun Masehi:
- Tahun 9 Hijriyah (630 Masehi): Musailamah datang ke Madinah bersama delegasi sukunya (Bani Hanifah) untuk menyatakan masuk Islam secara lahiriah di hadapan Nabi Muhammad SAW.
- Tahun 10 Hijriyah (631 Masehi): Ia mulai murtad dan memproklamirkan dirinya secara terbuka sebagai nabi palsu, serta mengirim surat ke Nabi Muhammad SAW untuk meminta bagi kekuasaan. Di momen inilah Nabi menjulukinya Al-Kadzab (Sang Pendusta).
- Tahun 12 Hijriyah (akhir 632 Masehi atau awal 633 Masehi): Musailamah Al-Kadzab tewas terbunuh oleh Wahsyi bin Harb (dibantu oleh Abu Dujanah dan Abdullah bin Zaid) dalam Perang Yamamah pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Fakta Utama tentang Musailamah Al-Kadzab :
- Mengaku Nabi & Rasul: Ia mengklaim mendapatkan wahyu dan membagi kekuasaan kenabian bersama Nabi Muhammad SAW. Ia bahkan pernah mengirim surat kepada Rasulullah yang dibalas dengan sebutan pendusta.
- Ajaran Menyimpang: Musailamah membebaskan pengikutnya dari kewajiban salat dan menghalalkan minuman keras. Ia juga membuat surat atau "kitab" tandingan untuk meniru Al-Qur'an, yang isinya dinilai sangat tidak masuk akal dan menjadi bahan ejekan pada masa itu.
- Perang Yamamah: Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, pengaruhnya semakin besar dan memicu gerakan murtad (menolak membayar zakat dan keluar dari Islam). Hal ini direspons oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan mengirimkan panglima perang Khalid bin Walid.
- Akhir Hayat: Musailamah tewas dalam Pertempuran Yamamah pada tahun 632 M. Ia dibunuh oleh gabungan serangan dari Abdullah bin Zaid, Abu Dujanah, dan Wahsyi bin Harb.
Musailamah al-Kazzab adalah seorang tokoh Bani Hanifah, yang mengaku sebagai nabi. Ia hidup di Yamamah (kini Arab Saudi timur), semasa dengan Nabi.
Musailamah al-Kadzab (Si Pembohong) adalah salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah awal Islam. Lahir dengan nama Musailamah bin Habib dari garis keturunan Bani Hanifah, ia memimpin salah satu gerakan pemurtadan (riddah) terbesar di wilayah Yamamah (baca: wilayah subur di tengah Semenanjung Arab, dekat kota Riyadh modern) yang hampir saja mengancam stabilitas kekhalifahan Islam yang masih muda setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Berikut adalah rekam jejak sejarah lengkap mengenai ambisi, klaim kenabian, hingga kejatuhan Musailamah.
1. Latar Belakang dan Utusan dari Bani Hanifah
Bani Hanifah adalah suku Kristen-Arab yang besar, kuat, dan mendominasi wilayah Yamamah yang strategis dan subur. Pada tahun 10 Hijriah (yang dikenal sebagai Amul Wufud atau Tahun Delegasi), Bani Hanifah mengirimkan utusan ke Madinah untuk menemui Nabi Muhammad SAW guna menyatakan ketundukan dan masuk Islam. Musailamah adalah salah satu anggota dari delegasi tersebut.
Namun, sejak awal, Musailamah sudah menunjukkan gelagat ambisius yang ganjil. Kisah-kisah klasik mencatat bahwa ia menolak turun dari kendaraan atau menjaga barang-barang rombongan di luar, dan ia sesumbar bahwa ia hanya akan mengikuti Muhammad jika ia diberi kekuasaan atau dijadikan penerus kenabian. Ketika Nabi Muhammad mendengar hal ini, beliau menghampirinya sambil memegang sepotong pelepah kurma dan bersabda:
"Sekalipun kamu meminta sepotong pelepah kurma ini, aku tidak akan memberikannya kepadamu. Jika kamu berpaling, Allah pasti akan membinasakanmu."
2. Klaim Kenabian dan Surat untuk Nabi Muhammad
Sepulangnya ke Yamamah, melihat pengaruh Islam yang menyebar cepat dan persatuan bangsa Arab di bawah Madinah, Musailamah tergiur oleh kekuasaan politik dan spiritual tersebut. Ia mulai mengaku bahwa dirinya juga mendapatkan wahyu dari Tuhan (yang ia sebut sebagai Rahman).
Untuk memperkuat pengaruhnya, ia meniru gaya bahasa Al-Qur'an (berupa sajak-sajak pendek atau saj') namun dengan isi yang menggelikan dan remeh, seperti memuji katak, kelinci, atau urusan domestik. Ia juga menghalalkan khamr (minuman keras) dan perzinaan demi menarik simpati kaumnya yang enggan terikat aturan syariat Islam yang ketat.
Puncak keangkuhannya terjadi ketika ia mengirimkan sepucuk surat langsung kepada Nabi Muhammad SAW di Madinah. Surat tersebut berbunyi :
- "Dari Musailamah Utusan Allah, kepada Muhammad Utusan Allah. Keselamatan bagimu. Sesungguhnya aku telah dijadikan sekutu bersamamu dalam urusan ini (kenabian). Bagi kami setengah bumi ini, dan bagi Quraisy setengahnya lagi. Namun orang-orang Quraisy adalah kaum yang melampaui batas."
- Nabi Muhammad SAW membalas surat tersebut dengan tegas dan di sinilah julukan "Al-Kadzab" (Si Pembohong) disematkan secara resmi :
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Utusan Allah, kepada Musailamah al-Kadzab (Si Pembohong). Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya bumi ini milik Allah, Diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."
3. Aliansi Politik dan Perang Riddah
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 11 H (632 M), gelombang pemurtadan melanda Jazirah Arab. Banyak suku menolak membayar zakat atau ikut-ikutan mengaku sebagai nabi. Siasat Musailamah semakin kuat ketika ia melakukan pernikahan politik dengan Sajah binti al-Harits, seorang wanita dari suku Bani Taghlib yang juga mengaku sebagai nabi perempuan. Aliansi ini melipatgandakan jumlah pengikut Musailamah hingga mencapai sekitar 40.000 pasukan.
Melihat ancaman nyata yang bisa meruntuhkan sendi-sendi negara Islam, Khalifah pertama, Abu Bakar ash-Shiddiq, menaruh perhatian penuh pada Yamamah. Setelah pasukan pertama yang dikirim (di bawah pimpinan Ikrimah bin Abi Jahal dan Syurahbil bin Hasanah) mengalami kesulitan, Abu Bakar mengirimkan panglima terbaik Islam: Khalid bin al-Walid ("Pedang Allah yang Terhunus").
4. Pertempuran Al-Yamamah dan Akhir Hayat (632 M)
Pertempuran sengit meletus di dataran Aqraba di wilayah Yamamah (dikenal sebagai Perang Yamamah). Pasukan Bani Hanifah bertempur dengan fanatisme kesukuan yang luar biasa berat, sempat mendesak mundur pasukan Muslimin pada fase awal.
Dampak Sejarah Perang Yamamah
Kematian Musailamah menandai berakhirnya ancaman terbesar gerakan riddah di Jazirah Arab dan mengembalikan stabilitas di bawah Kekhalifahan Rasyidin. Namun, kemenangan ini dibayar sangat mahal.
Sekitar 700 orang penghafal Al-Qur'an (Huffaz) dari kalangan sahabat gugur dalam pertempuran ini. Banyaknya korban dari para penghafal Al-Qur'an inilah yang memicu Umar bin Khattab mendesak Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq untuk segera mengumpulkan dan membukukan lembaran-lembaran Al-Qur'an demi menjaga kelestariannya sebuah keputusan monumental yang pengaruhnya kita rasakan hingga hari ini.
Aqraba
Aqraba (عقرباء) adalah sebuah wilayah bersejarah yang terletak di kawasan Al-Yamamah, Semenanjung Arab (sekarang berada di wilayah Najd, Arab Saudi).
Tempat ini sangat terkenal dalam sejarah Islam karena menjadi lokasi pertempuran krusial pada masa Kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, yaitu Pertempuran Al-Yamamah (atau Pertempuran Aqraba) yang terjadi pada tahun 11 Hijriah (sekitar 632 M).
Berikut adalah beberapa poin penting mengenai Aqraba di wilayah Yamamah :
- Lokasi Pertempuran Melawan Musailamah al-Kazzab: Aqraba menjadi medan pertempuran antara pasukan Muslim yang dipimpin oleh Khalid bin Walid melawan pengikut Musailamah al-Kazzab, seorang nabi palsu dari Bani Hanifah yang memimpin gerakan kemurtadan (Riddah) di wilayah Yamamah.
- Taman Kematian (Hadiqat al-Mawt): Di tempat ini terdapat sebuah kebun atau taman berdinding kokoh tempat pasukan Musailamah mundur dan bertahan setelah benteng pertahanan mereka mulai runtuh. Pasukan Muslim berhasil menembus tembok tersebut setelah pahlawan Islam, Al-Bara' bin Malik, meminta dilemparkan ke dalam taman untuk membuka gerbang dari dalam. Pertempuran sengit di dalam kebun ini menewaskan Musailamah dan ribuan pengikutnya, sehingga tempat tersebut dijuluki Hadiqat al-Mawt (Taman Kematian).
- Gugurnya para Penghafal Al-Qur'an (Yusr): Pertempuran di Aqraba memakan korban jiwa yang sangat besar di kedua belah pihak. Di pihak Muslim, sekitar 1.200 sahabat Nabi gugur sebagai syuhada, termasuk puluhan di antaranya adalah para Huffaz (penghafal) Al-Qur'an senior seperti Zaid bin al-Khattab (saudara Umar bin al-Khattab) dan Salim Mawla Abi Hudhaifah. Banyaknya penghafal Al-Qur'an yang gugur di Aqraba inilah yang kemudian mendasari Umar bin al-Khattab mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar untuk pertama kalinya mengumpulkan dan membukukan ayat-ayat Al-Qur'an.
Saat ini, wilayah historis Aqraba ini terletak di dekat kota Al-Uyaynah (utara Riyadh, Arab Saudi), dan makam beberapa sahabat Nabi yang gugur di pertempuran tersebut masih dikenal di kawasan tersebut.
Namun, strategi brilian Khalid bin al-Walid berhasil memecah formasi musuh dan membalikkan keadaan. Pasukan Musailamah yang kocar-kacir akhirnya mundur dan mengunci diri di dalam sebuah kebun berdinding tebal yang luas, yang kelak dikenal dalam sejarah sebagai "Hadiqatul Maut" (Kebun Kematian).
Seorang sahabat nabi, Al-Bara' bin Malik, dengan berani meminta rekan-rekannya melemparkan dirinya ke dalam benteng lewat atas dinding. Ia berhasil membuka pintu gerbang dari dalam meskipun menderita puluhan luka. Pasukan Muslim merangsek masuk, dan terjadilah pembantaian besar-besaran di dalam kebun tersebut.
Musailamah al-Kadzab tewas di dalam kebun tersebut. Ia terbunuh oleh kombinasi serangan :
- Wahshi bin Harb: Menggunakan tombak legendarisnya (tombak yang sama yang digunakannya untuk membunuh paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, saat ia masih kafir di Perang Uhud).
- Abu Dujanah: Sahabat Ansar yang langsung menebas Musailamah dengan pedangnya begitu ia roboh oleh tombak Wahshi.
Siapa yang membunuh Musailamah al-Kadzab (si nabi palsu) ?
Musailamah al-Kadzab (si nabi palsu) tewas dalam Perang Yamamah pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Tokoh utama yang berhasil membunuhnya adalah Wahsyi bin Harb.
Menariknya, sejarah mencatat peristiwa ini melalui keterlibatan dua orang sahabat nabi :
- Wahsyi bin Harb: Ia melemparkan tombak khasnya yang tepat mengenai dan menembus tubuh Musailamah. Wahsyi adalah orang yang sama yang (saat belum masuk Islam) membunuh paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, di Perang Uhud. Wahsyi pernah berkata bahwa dengan tombaknya ia telah membunuh manusia terbaik (Hamzah) dan manusia terburuk (Musailamah).
- Abu Dujanah (Simak bin Kharasyah): Setelah Musailamah terkena tombak Wahsyi dan terhuyung-huyung, Abu Dujanah langsung merangsek maju dan menebasnya dengan pedang untuk memastikan kematian si nabi palsu tersebut. Beberapa riwayat lain juga menyebutkan keterlibatan sahabat Anshar lain seperti Abdullah bin Zaid bin Ashim dalam momen-momen terakhir penumpasan tersebut.
Perang ini berakhir dengan kekalahan telak pasukan murtad Bani Hanifah di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Hadiqotul Maut (Kebun Kematian).
Koleksi artikel Kanti Suci Project

