Saat Logika Buntu, Doa Mengambil Alih, Akal manusia itu ada batasnya
Ketika masalah berat datang bertubi-tubi, logika kita sering menyimpulkan satu hal: mustahil. Tapi kalau kita mau melirik balik ke sejarah para nabi, garis akhir sebuah peristiwa ternyata sama sekali tidak ditentukan oleh kalkulasi di atas kertas. Kuncinya ada pada seberapa kuat kita bersandar pada Sang Pencipta.
Coba bayangkan posisi Nabi Musa AS di tepi Laut Merah. Di depan cuma ada hamparan air raksasa, sementara di belakang kejaran prajurit musuh makin dekat. Secara teori militer, itu jalan buntu total. Habis sudah. Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, kepasrahan dan doa justru membelah lautan. Jawaban itu sama sekali di luar nalar manusia.
Kisah Nabi Yunus AS juga mirip. Terjebak di dalam perut paus, gelap gulita, di dasar lautan terdalam. Tanpa alat komunikasi, tanpa tim penyelamat. Logika mana pun bakal menyebut peluang hidupnya nol. Tapi doa singkat yang terucap dari lubuk hati paling dalam sanggup membalikkan keadaan. Perut paus yang mengerikan mendadak berubah menjadi ruang perlindungan.
Lalu ada Nabi Zakariyya AS. Secara medis dan biologis, harapan untuk punya anak sudah tertutup rapat karena faktor usia dan kondisi fisik. Dokter mana pun pasti menyerah. Beliau tahu itu, tapi beliau tetap mengetuk pintu langit tanpa ragu. Hasilnya? Hukum alam tunduk begitu saja pada kehendak Pemiliknya.
Nabi Ayyub AS bahkan kehilangan segalanya sekaligus. Harta ludes, keluarga wafat, dan tubuh digerogoti penyakit parah. Tidak ada harta tersisa, tidak ada dukungan sosial. Namun, pemulihan total yang mengembalikan semua nikmatnya justru bermula dari satu hal: kepasrahan dalam doa.
Hari ini, kita sering menguras energi hanya untuk memikirkan "bagaimana caranya". Kita memaksa otak menyusun skenario masa depan sampai stres sendiri ketika ada hal di luar kendali yang meleset. Kita ingin memegang kendali atas semua hal.
Ikhtiar dan rencana matang tentu wajib. Tapi ingat, kita tidak pernah dituntut untuk paham bagaimana cara Tuhan menyelesaikan masalah kita. Tugas manusia cuma berusaha sebaik mungkin, lalu melepaskan hasilnya.
Saat kemampuan kita sudah berada di titik nadir, iman dan doa adalah satu-satunya pegangan yang paling masuk akal.
Kanti Suci Project

