SIFAT SOMBONG
Sifat sombong (takabbur) adalah sikap membanggakan diri, merasa lebih hebat, pintar, atau kaya daripada orang lain, serta sering kali menolak kebenaran.
Ciri-Ciri Sifat Sombong
1. Meremehkan orang lain: Memandang rendah orang yang dianggap lebih rendah dari segi harta, status, atau ilmu.
2. Sulit menerima nasihat: Menolak kritik atau masukan karena merasa diri paling benar.
3. Suka pamer: Gemar menunjukkan kelebihan, harta, atau pencapaian agar mendapat pujian.
Penyebab Kesombongan
1. Harta dan kekayaan: Merasa memiliki segalanya dan kuasa atas materi.
2. Ilmu pengetahuan: Merasa paling pintar dan merendahkan pemahaman orang lain.
3. Kedudukan atau jabatan: Mengandalkan status sosial untuk bersikap sewenang-wenang.
4. Ibadah/Amalan: Merasa diri paling saleh dan suci dibandingkan orang lain.
Bahaya Sifat Sombong
- Dibenci oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
- Tertutupnya hati dari hidayah dan kebenaran.
- Mendapat adzab yang pedih di akhirat kelak.
Dalam bahasa Arab, kata angkuh atau sombong diterjemahkan dengan istilah "kibr" (كبر).
Al-Kibr (الكبر) sendiri dalam bahasa Arab secara etimologis bermakna "merasa diri lebih besar" atau "lebih tinggi" dibandingkan orang lain. Dalam konteks istilah, kibr mengacu pada sifat batin yang menjadikan seseorang merasa lebih unggul, lebih baik, atau lebih hebat dari orang lain, sehingga ia cenderung meremehkan dan merendahkan orang lain. Sikap ini sangat dicela dalam Islam karena menimbulkan berbagai dampak negatif, baik secara individu maupun sosial.
Alkibr atau kesombongan adalah penyakit hati yang mengakar dalam perasaan superioritas dan egoisme. Ulama Islam menjelaskan bahwa kibr adalah perasaan yang membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain dalam hal pengetahuan, kekayaan, keturunan, atau status sosial.
Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan kesetaraan dan rendah hati. Sikap sombong tidak hanya menunjukkan ketidakpedulian terhadap orang lain, tetapi juga merusak nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Kesombongan membuat seseorang buta terhadap kebajikan orang lain dan menciptakan jurang pemisah yang menghalangi
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
Surah Luqman (31:18)
“وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ"
“Dan janganlah engkau memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Hal yang sama juga oleh Nabi kita
Rasulullah SAW bersabda:
“Hadits dari Abdullah bin Mas’ud (HR. Muslim)
“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ"
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat biji zarrah dari kesombongan."
Penyebab Angkuh/Sombong
1. Merasa Lebih Baik dari Orang Lain
Seseorang merasa lebih baik dalam aspek-aspek tertentu seperti kekayaan, kedudukan, ilmu, atau keturunan.
Allah SWT. Telah berfirman di dalam Al-Qur’an :
Surah Al-Hujurat (49:11)
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ"
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi mereka (yang direndahkan) lebih baik daripada mereka (yang merendahkan)...”
2.Kurangnya Kesadaran Akan Keterbatasan Diri
Tidak menyadari bahwa segala sesuatu adalah pemberian Allah dan merasa bahwa pencapaian adalah hasil dari usaha pribadi semata.
Allah SWT. Berfirman didalam Al-Qur'an:
Surah Al-Qashash (28:78)
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي"
“Qarun berkata: Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”
3. Pengaruh Lingkungan
Lingkungan yang mendukung dan memupuk kesombongan juga menjadi salah satu faktor penyebab.
Imam Ghazali mengatakan dalam Ihya Ulumuddin bahwa lingkungan yang tidak mendidik sifat tawadhu' (rendah hati) dapat menjadikan seseorang sombong.
4.Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan yang tidak diiringi dengan kebijaksanaan dan keimanan sering kali menjadi sumber kesombongan.
Seseorang yang merasa lebih pintar atau lebih berilmu cenderung merendahkan orang lain yang dianggap kurang berpengetahuan.
Imam Ghazali dalam "Ihya Ulumuddin" menyatakan bahwa ilmu yang tidak dibarengi dengan ketakwaan dapat menimbulkan kesombongan dan kehancuran.
5. Kekayaan dan Harta Benda
kekayaan materi yang berlimpah sering kali membuat seseorang merasa lebih superior dibandingkan orang lain yang kurang berada. Ini mengarah pada sikap meremehkan dan memandang rendah mereka yang miskin.
Didalam Al-Qur'an:Surah Al-Hadid (57:23):
“لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ"
“Supaya kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."
6. Status Sosial dan Keturunan
Status sosial atau keturunan yang tinggi dapat menjadi sumber kibr, di mana seseorang merasa lebih mulia dan terhormat daripada orang lain yang dianggap lebih rendah.
Didalam Al-Qur'an : Surah Luqman (31:18):
“وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ"
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."
Ciri-Ciri Angkuh/Sombong
1. Merendahkan Orang Lain
Seseorang yang sombong
cenderung merendahkan dan memandang remeh orang lain.
Allah SWT. Telah berfirman dalam al-Quran didalam Surah Al-Hujurat (49:11):
“Janganlah sekumpulan orang merendahkan kumpulan yang lain..."
2. Sulit Menerima Nasihat
Orang yang sombong sering kali sulit menerima nasihat atau kritik dari orang lain.
Didalam Surah An-Nahl (16:23) Allah berfirman:
“إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ"
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.”
3. Menunjukkan Kelebihan dengan Berlebihan
Cenderung menonjolkan kelebihan dan keistimewaan diri secara berlebihan.Rasulullah SAW telah bersabda:
“Barang siapa yang menjulurkan pakaiannya (melebihi mata kaki) karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bahaya dan Efek Negatif
Bahaya terhadap Individu
1. Terhalang dari Rahmat Allah
Didalam Al-Qur'an: Alllah SWT.berfirman pada Surah An-Nahl (16:23):
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong."
2. Sulit Mencapai Kebahagiaan
Orang sombong sering kali hidup dalam tekanan untuk mempertahankan citra diri yang tinggi, yang akhirnya menghambat kebahagiaan sejati.
3. Kehilangan Teman dan Dukungan Sosial
Sikap sombong menyebabkan orang lain menjauh sehingga individu tersebut kehilangan dukungan sosial.
Bahaya terhadap Sosial
1. Merusak Keharmonisan Masyarakat
Kesombongan memicu perpecahan, konflik, dan ketidakadilan dalam masyarakat.
2. Menghambat Kerjasama
Orang sombong sulit bekerja sama dengan orang lain, yang pada akhirnya menghambat kemajuan bersama.
Solusi Mengatasi Angkuh/Sombong
1. Meningkatkan Kesadaran Diri
Sadar akan kelemahan dan keterbatasan diri, serta mengakui bahwa segala sesuatu adalah pemberian Allah.
Didalam Al-Qur'an Surah Al-Hashr (59:18):
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ"
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok...”
2. Membiasakan Diri dengan Sifat Tawadhu' (Rendah Hati)
Mencontoh sifat tawadhu' Rasulullah SAW dan para sahabat.
Umar bin Khattab berkata: "Barang siapa yang tawadhu' karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya."
3. Berkumpul dengan Orang-Orang Saleh
Lingkungan yang baik dan teman-teman yang saleh dapat membantu menjauhkan dari sifat sombong.
Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan pentingnya berkumpul dengan orang-orang yang tawadhu' untuk mengikis kesombongan.
4. Mengingat Akhirat
Mengingat kehidupan setelah mati dan hakikat manusia di hadapan Allah membantu menundukkan ego dan kesombongan.
Allah swt. Telah berfirman dlam Surah Al-Mu'minun (23:115):
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ"
“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami
Contoh Teladan dari Kisah Islami
Kisah Nabi Musa dan Qarun
Qarun adalah salah satu orang yang sombong karena kekayaannya dan akhirnya Allah menenggelamkan dia dan hartanya ke dalam bumi sebagai hukuman atas kesombongannya.
Surah Al-Qashash (28:81)
“فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ"
“Maka Kami benamkan dia (Qarun) beserta rumahnya ke dalam bumi…”
Jadi, kesombongan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya bagi individu maupun masyarakat. Dengan memahami pengertian, penyebab, ciri-ciri, dan bahayanya, serta menerapkan solusi yang berdasarkan pada Al-Qur'an, hadits, dan pandangan ulama, kita dapat berusaha untuk menjauhkan diri dari sifat ini. Tawadhu', atau rendah hati, adalah sikap yang harus senantiasa dijaga dan diteladani dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Dengan demikian, kita dapat hidup dalam keharmonisan dan memperoleh rahmat serta ridha Allah SWT.
Sifat sombong juga amat didukung oleh bicara. Sulitlah kita menjadi sombong tanpa ngomong. Oleh sebab itu peribahasa Indonesia yang mengatakan “Mulutmu harimau kamu” dan “Berbicara peliharalah lidah” tetap berlaku untuk orang-orang sombong. Dalam peribahasa Jawa kita juga mengenal “Tekek mati saka ulone” yang artinya orang akan celaka karena ucapannya. “Tekek” (tokek) yang bangga dengan suara besarnya, menjadi mudah dikenali keberadaannya oleh predatornya. Hati-hatilah orang yang punya sifat kumenthus, kumaki apa lagi yang adigang adigung adiguna.
Sikap “andhap asor” (merendah) sering dikatakan menurunkan derajat, atau men”discount” diri. Tetapi kalau kita menghilangkan perilaku andhap asor susila anor raga, jelas tidak baik. Marilah kita renungkan sebaiknya bagaimana.
Daftar pitutur di bawah bersumber dari Butir Butir Budaya Jawa koleksi Prof. Rusdibjono dan Serat Madubasa, Ki Padmasusastra, 1912, kemudian saya kelompokkan sesuai permasalahannya. Terjemahan (setengah bebas) saya tulis di bawah naskah bahasa Jawanya. Silakan membaca, semoga ada manfaat yang dapat dipetik.
1. TANDA-TANDA ORANG SOMBONG
Ciri-cirine jiwa kang isih kothong mono bisa dititik saka ulat praupan, tutur wicara, lan tingkah lakune kang ora gelem kalah. Sabarang tindak tanduke kepengin unggul lan mamerake keluwihane, ora angger keluwihan bisa kanggo ngadhepi bebaya lan ngentas saka papa cintraka. Kaluwihan kang tanpa dilandhesi kautaman kaya dene wedhak pupur bae sing nempel ing njaban kulit bae, ora bisa tahan suwe lan gampang luntur marga saka pakartine dhewe, awit nerak dhasar-dhasar bebener lan kasucian.
Terjemahannya :
Tanda-tanda jiwa yang masih kosong dapat dilihat dari ekspresi wajah, cara berbicara dan tingkah laku yang tidak mau kalah. Perilakunya selalu ingin menang dan pamer kelebihan. Padahal tidak semua kelebihan bisa digunakan untuk menghadapi bahaya dan melepaskan diri dari kesusahan. Kelebihan tanpa landasan keutamaan ibarat bedak yang menempel di kulit luar. Tidak akan tahan lama dan mudah luntur karena perbuatan kita sendiri, karena melanggar dasar-dasar kebenaran dan kesucian.
2. MUNCULNYA NAFSU PAMER
a. Dereng nedya pamer utawa riya iku terkadhang muncule dadakan kaya-kaya tanpa rinasa ing nalika kita pinuju sesrawungan karo wong liya. Mula prayoga kita tansah waspada ngendhaleni dhiri. Dene kang kinaran dereng utawa nafsu seneng pamer kang gampang dineleng lan sineksen dening wong liya iku aran riya kang pratela (cetha), utawa ngedheng. Becik kita singkiri. Wondene dereng sajroning laku panembah, arang kang bisa disumurupi wong liya. Luwih-luwih yen lagi kapinuju ana ing papan kang sepi. Sok ngonowa elinga yen Gusti Allah iku tansah ngudaneni.(BBB)
Terjemahannya :
Nafsu pamer atau “riya” kadang-kadang muncul mendadak saat kita sedang bertemu dengan orang lain. Oleh sebab itu hendaknya kamu selalu waspada dan mampu mengendalikan diri. Apa yang disebut nafsu pamer yang mudah dilihat dan disaksikan orang banyak adalah “riya” yang nyata. Baiknya kita hindari. Disisi lain nafsu beribadah jarang dilihat orang lain, lebih-lebih bila kita sedang berada di tempat sepi. Jangan lupa, Tuhan tetap menyaksikan.
b. Wong kang rumangsa dhirine linuwih, ing sawijining wektu mesti bakal kasurung atine arep mamerake kaluwihane, lire amrih dimangerteni dening wong akeh yen dheweke mono wong kang pinunjul lan supaya diajenana. Sumurupa, sakabehing kaluwihan mau yen ora dicakake mawa lelabuhan kang murakabi marang bebrayan, tanpa guna kepara malah ora kajen lan gawe pituna. Mula kang prayoga bisa tulus dadi wong kang linuwih menawa gebyaring kaluwihan iku mung dikatonake marang atine dhewe, iku wis cukup.
Terjemahannya :
Orang yang merasa dirinya memiliki kelebihan, pada suatu saat akan terdorong untuk pamer. Supaya orang lain tahu bahwa dirinya adalah orang hebat yang harus dihormati. Ketahuilah bahwa semua kelebihan tersebut tidak ada gunanya, merugikan dan membuat dirinya semakin tidak terhormat apabila tidak digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Orang punya kelebihan yang tulus apabila semua gebyar kelebihan hanya ditunjukkan untuk dirinya sendiri. Itu sudah cukup
3. ORANG SOMBONG TIDAK MAU DISAINGI
Ing jagading sesrawungan mono becik nyirik marang sesipatan kang gumedhe lan wewatakan kang tansah ngegungake dhiri. Sipat lan wewatakan mau adhakane banjur nuwuhake rasa ora lila yen nyipati ana liyan sing luwih katimbang dheweke. Mula saiba becike samangsa sapa kang rumangsa pinter dhewe, sugih dhewe, lan kuwasa dhewe iku gelema nglaras dhiri lan ngleremake ciptane kang wening, yen sejatine isih ana maneh Kang Maha Pinter, Maha Sugih lan Maha Luhur. Klawan mangkono rasa pangrasa dumeh lan takabur kang dadi sandhungan pasrawungan bisa sumingkir.
Terjemahannya :
Dalam pergaulan hendaknya menjauhi sifat merasa hebat dang mengagung-agungkan diri sendiri. Watak dan sifat tersebut akan menimbulkan rasa iri bila kita melihat ada orang lain yang ternyata melebihi kita. Alangkah lebih baik seandainya orang yang merasa paling pandai, paling kaya dan paling kuasa tersebut menyelaraskan diri dan menenangkan pikirannya, dan menyadari bahwa sejatinya masih ada Yang Maha Pandai, Maha Kaya dan Maha Luhur. Dengan demikian perasaan hebat dan takabur yang merupakan batu sandungan pergaulan dapat tersingkir
4. JANGAN SOMBONG, TELADANI PADI
Aja sok ngendel-endelake samubarang kaluwihanmu, apa maneh mamerake kasugihan lan kapinteranmu. Yen anggonmu ngongasake dhiri mau mung winates ing lathi tanpa bukti, dhonge pakarti kaya mangkono iku ngenggon awakmu dadi ora aji. Luwih prayoga turuten pralampitane tanduran pari. Pari kang mentes mesthi tumelung, kang ndongak mracihnani yen kothong tanpa isi.
Terjemahannya :
Jangan mengandalkan semua kelebihanmu apalagi pamer kekayaan dan kepandaian. Bila kesombonganmu hanya pada mulut dan tanpa bukti menjadikan dirimu tidak berharga. Lebih baik teladani perlambang dari tanaman padi. Padi yang berisi pasti menunduk sedangkan yang tengadah adalah yang kosong.
5. JANGAN MENYEPELEKAN ORANG DAN MERASA PALING PANDAI
a. Aja sira degsura, ngaku luwih pinter tinimbang sejene
Terjemahannya :
Engkau jangan menyombongkan diri mengatakan lebih pandai dari yang lain
b. Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake wong akeh seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti Allah mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka mau, sira banjur kaya wong seje (owah), malah bisa “aji godhong jati aking”
Terjemahannya :
Kalau kamu memiliki ilmu yang bisa membuat orang lain bahagia, janganlah merasa pandai, karena apabila Allah mengambil kembali ilmu yang membuat kamu tenar itu, kamu bisa seperti orang gila dan lebih hina daripada daun jati kering.
c. Jalma iku tan kena kinaya ngapa, mula sira aja seneng ngaku lan rumangsa pinter dhewe.
Terjemahannya :
Manusia itu tidak bisa diduga, oleh sebab itu jangan suka mengatakan bahwa kita yang paling pandai.
d. Aja kaselak kesusu nyepelekake liyan, marga kok anggep wong mau bodho. Awit ana kalamangsane kowe mbutuhake rembug lan pituture wong iku, sing kasanyatane bisa mbengkas lan nguwalake saka karuwetanmu. Pancen ing sawijine bab wong bisa kaaran bodho, nanging ing babagan liya tangeh lamun yen kowe bisa nandhingi
Terjemahannya :
Jangan tergesa-gesa menyepelekan orang lain hanya karena kau anggap orang itu bodoh. Ada saatnya kau butuh nasihat orang itu yang ternyata bisa melepaskanmu dari kesulitan. Sebenarnya ada hal yang menyebabkan seseorang dikatakan bodoh tetapi di hal yang lain ternyata kamu tidak mampu menanding
e. Aja sok dhêmên ngrèmèhake wong, mundhak gênti dirèmèhake, orane iya dicatur ala
Terjemahannya :
Jangan suka meremehkan orang, supaya tidak ganti diremehkan atau jadi pembicaraan buruk
6. JANGAN MERASA BENAR SENDIRI
Aja rumangsa bener dhewe jalaran ing donya iki ora ana sing bener dhewe
Terjemahannya :
Jangan merasa benar sendiri karena hal seperti itu tidak ada di dunia
7. ORANG SOMBONG AKAN DIPERMALUKAN
a. Sing sapa tansah ngegungake pangkate, wirang lamun ana owahing jaman. Sing sapa ngegungake bandhane, wirang lamun sirna bandhane
Terjemahannya :
Orang yang selalu mengagung-agungkan pangkatnya akan dipermalukan ketika ada perubahan jaman. Orang yang selalu mengagung-agungkan hartanya akan dipermalukan tatkala hartanya musnah.
b. Kahanan donya iku ora langgeng, mula aja ngegungake kasugihan lan drajadira, awit samangsa wolak-waliking jaman ora kisinan
Terjemahannya :
Keadaan di dunia ini tidak abadi. Oleh sebab itu jangan mengandalkan kekayaan dan pangkatmu supaya bila ada perubahan jaman kamu tidak dipermalukan
8. LEBIH BAIK MERENDAHKAN DIRI
a. Luwih becik ngasorake raga tinimbangane ngongasake kapinteran kang sejatine isih nguciwani banget. Ngongasake kapinteran iku satemene mung kanggo nutupi kabodhoane, yen kabeh mau merga rasa samar lan was sumelang yen ta kungkulan dening sapepadhane. Tindak mengkono mau malah dadi sawijining godha kang mung bakal ngrendheti lakuning kemajuwane dhewe ing jagading bebrayan.
Terjemahannya :
Lebih baik merendahkan diri daripada menyombongkan kepandaian yang sebenarnya masih amat mengecewakan. Menyombongkan kepandaian sebenarnya hanya untuk menutupi kebodohan dan ketakutan kalau dilebihi oleh orang lain. Tindakan tersebut merupakan godaan yang hanya akan menghambat keberadaannya dalam pergaulan.
b. Wong ambêk gumêdhe malah disorake, kosokbaline wong andhap asor: malah diluhurake, pêrlune apa dhêmên gumêdhe.
Terjemahannya :
Orang yang tinggi hati akan direndahkan, sebaliknya orang yang rendah hati akan diluhurkan. Jadi apa manfaatnya menjadi orang yang sombong.
9. BEDAKAN ANTARA RUMANGSA SARWA DUWE dan SARWA DUWE RUMANGSA
“Rumangsa sarwa duwe” lan “Sarwa duwe rumangsa”, iku yen ditulis genah mung diwolak-walik bae, nanging surasane jebul kaya bumi karo langit. Sing kapisan nuduhake watak ngedir-edirake, wengis satindak lakune (polahe), yen nggayuh pepenginan ora maelu laku dudu, samubarang pakarti nistha ditrajang wani. Dene sing kapindho pakartine tansah kebak welas asih, wicaksana ing saben laku, rumangsa dosa samangsa gawe kapitunane liyan (BBB)
Terjemahannya :
“Merasa serba punya” dan “Serba punya rasa” hanya tulisan yang dibolak-balik saja, tetapi maknanya seperti bumi dan langit. Yang pertama menunjukkan watak suka pamer, bengis perilakunya dan kalau mengejar angan-angan tidak mempedulikan tindakan tidak benar. Semua perbuatan nista akan dilakukan dengan berani. Adapun yang kedua, perilakunya penuh belas kasih, bijaksana dalam semua hal dan merasa dosa bila membuat kerugian orang lain.
10. PERBUATAN BAIK BIARLAH ORANG LAIN YANG MENYAMPAIKAN
Wijining kautaman, saka kabêcikan, nanging kabêcikan kang kawêdharake barêng lan panggawene mung dadi pangalêman sanalika, dene kabêcikan kang wis lawas panggawene môngka dèn ucapake manèh marang kang gawe kabêcikan, iku malih dadi ala sarta dadi sêrike kang binêcikan, rumangsane ingolok-olok. Wusana kabêcikan kang sinimpên marang kang gawe, iku mêsthi bakal kêwêdhar saka panggawening liyan, gandane arum angèbêki jagad, têtêp ing kautamane.
Terjemahannya :
Benih-benih keutamaan berasal dari kebaikan. Tetapi kebaikan yang diucapkan bersamaan dengan perbuatan hanya mendapat pujian sesaat. Demikian pula kebaikan yang diucapkan lama setelah perbuatan baiknya dilakukan, bisa menyakitkan hati yang diberi kebaikan karena merasa diungkap-ungkap. Adapun kebaikan yang disimpan di dalam hati oleh yang berbuat baik, pasti akan disampaikan ooleh orang lain, baunya harum semerbak memenuhi jagad, tetap didalam keutamaannya.
PENUTUP
Tidak ada yang suka dengan orang sombong, tetapi jumlah orang sombong bukannya sedikit. Mungkin karena tidak ada yang mengingatkan. Kepada sesama manusia adalah tugas kita untuk saling mengingatkan, tidak sekedar “sawang-sinawang”. Sedangkan kepada diri sendiri merupakan kewajiban kita untuk senantiasa mawas diri. Apabila kita mulai merasa “PALING” maka marilah kita mengingat kembali pesan leluhur “AJA DUMEH”
Aja Dumeh (Ojo Dumeh) adalah falsafah hidup masyarakat Jawa yang berarti “jangan mentang-mentang”, jangan sok, atau jangan merasa lebih dari orang lain. Secara etimologis, kata “aja” berarti jangan, dan “dumeh” berarti karena atau mentang-mentang. Ungkapan ini merupakan sebuah peringatan etis agar manusia selalu sadar diri, rendah hati (andap asor), dan menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Falsafah ini mengingatkan bahwa segala kelebihan yang dimiliki manusia tidaklah abadi dan hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa.
Contoh Penerapan dalam Kehidupan
Dalam kehidupan sehari-hari, aja dumeh sering dikaitkan dengan berbagai aspek kelebihan manusia, antara lain:
1. Aja dumeh sugih (Jangan mentang-mentang kaya): Melarang seseorang untuk pamer harta atau merendahkan orang miskin, karena roda kehidupan berputar dan kekayaan bisa hilang seketika.
2. Aja dumeh duwe kuwasa (Jangan mentang-mentang berkuasa): Mengingatkan para pemimpin atau pejabat agar tidak sewenang-wenang kepada rakyat kecil, sebab jabatan memiliki batas waktu.
3. Aja dumeh pinter (Jangan mentang-mentang pintar): Mengajarkan agar orang yang berilmu tidak meremehkan orang lain atau menggunakan kepintarannya untuk membodohi sesama.
4. Aja dumeh ayu/ganteng (Jangan mentang-mentang rupawan): Pengingat bahwa fisik yang elok akan menua, memudar, dan tidak abadi.
Bagian dari Tiga Nasihat Jawa Utama
Falsafah aja dumeh sering kali disandingkan dengan dua nasihat pengendalian diri lainnya yang sangat populer dalam Suluk Islam Jawa:
1. Ojo Kagetan: Jangan mudah kaget atau panik ketika menghadapi perubahan situasi yang mendadak.
2. Ojo Gumunan: Jangan mudah heran, takjub, atau silau oleh hal-hal yang bersifat duniawi atau tren baru.
3. Ojo Dumeh: Jangan mentang-mentang atau sombong saat berada di posisi atas.
Secara keseluruhan, falsafah ini menuntun kita untuk hidup sakmadyo (secukupnya/moderat), selalu berintrospeksi diri, serta menghargai kesetaraan antar-sesama manusia.
Artikel by, Kanti Suci Project

