Hiduplah sesukamu karena sungguh engkau pasti mati. Cintailah siapa pun yang engkau suka karena sungguh kalian pasti berpisah. Berbuatlah sesukamu karena sungguh engkau pasti menemui (balasan) perbuatanmu itu.” [HR al-Baihaqi]
عِشْ مَا شِــئْتَ فَإِنَّـكَ مَـيِّتٌ وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ وَاعْـمَلْ مَـا شِئْتَ فَإِنَّـكَ لاَقِـيْـهِ
"Hiduplah sesukamu karena sungguh engkau pasti mati. Cintailah siapa pun yang engkau suka karena sungguh kalian pasti berpisah. Berbuatlah sesukamu karena sungguh engkau pasti menemui (balasan) perbuatanmu itu.” [HR al-Baihaqi]
Ini adalah kalimat perintah yang mengandung makna peringatan. Pesannya bahwa hidup, cinta, dan perbuatan mengandung batas dan tanggung jawab. Karena itu, hadits ini secara tersirat memuat peringatan agar manusia memanfaatkan usianya dengan baik sebelum meninggal dunia, tak terlena dengan kecintaan fana misalnya terhadap harta atau keluarga, serta tak sembrono dalam bertindak karena semua itu mengandung konsekuensi. Redaksi hadits ini merupakan ucapan Jibril kepada Rasulullah. Namun, pesannya sesungguhnya berlaku umum untuk semua umat manusia.
Hiduplah sesukamu karena sungguh engkau pasti mati. Cintailah siapa pun yang engkau suka karena sungguh kalian pasti berpisah. Berbuatlah sesukamu karena sungguh engkau pasti menemui (balasan) perbuatanmu itu.” [HR al-Baihaqi]
Hiduplah sesukamu karena sungguh engkau pasti mati. Cintailah siapa pun yang engkau suka karena sungguh kalian pasti berpisah. Berbuatlah sesukamu karena sungguh engkau pasti menemui (balasan) perbuatanmu itu.” [HR al-Baihaqi]
Pesan tersebut adalah pengingat bahwa setiap kehidupan di dunia bersifat sementara dan setiap perbuatan memiliki pertanggungjawaban.
Kutipan tersebut merupakan bagian dari 5 Pesan Jibril kepada Manusia Paling Mulia yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Kalimat perintah di dalamnya bukan bermakna kebebasan mutlak untuk berbuat semaunya, melainkan sebuah bentuk peringatan keras (tahdzir) bahwa ada batasan dan konsekuensi dari setiap hal.
Berikut adalah makna dari tiga pesan utama tersebut:
- Hiduplah sesukamu, karena engkau pasti mati: Mengingatkan bahwa dunia hanya tempat singgah yang singkat dan umur manusia terbatas, sehingga tidak boleh tertipu oleh kesenangannya.
- Cintailah siapa pun yang engkau suka, karena engkau pasti berpisah: Menunjukkan bahwa rasa cinta pada manusia, harta, atau hal duniawi tidak ada yang abadi; ikatan yang sejati dan kekal hanyalah karena Allah.
- Berbuatlah sesukamu, karena engkau pasti menemui balasanmu: Menegaskan bahwa segala bentuk amal, baik atau buruk, pasti akan dimintai pertanggungjawaban dan diberikan balasan setimpal.
Nasihat Malaikat Jibril Kepada Rasulullah SAW
Hidup adalah sebuah misteri yang penuh rahasia dan teka-teki. Manusia sebagai makhluk biasa memiliki keterbatasan dalam memahami makna hidup.
Dalam Alquran dikatakan bahwa manusia tidak mengetahui banyak hal tentang sesuatu, yang mereka ketahui hanyalah kenyataan yang tampak secara lahiriah, yaitu kehidupan dunia saja, sedangkan kehidupan akhirat mereka lalai (QS ar-Rum: 6-7).
Ar-Rum · Ayat 6
وَعْدَ اللّٰهِۗ لَا يُخْلِفُ اللّٰهُ وَعْدَهٗ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ٦
wa‘dallâh, lâ yukhlifullâhu wa‘dahû wa lâkinna aktsaran-nâsi lâ ya‘lamûn
Artinya :
(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Itulah janji Allah kepada kaum mukmin. Janji Allah pasti benar sebab Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia, khususnya orang kafir, tidak mengetahui dan memahami bahwa ketentuan dan perbuatan Allah kepada hamba-Nya didasarkan pada keadilan dan kebijaksanaan-Nya
Ar-Rum · Ayat 7
يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰخِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ ٧
ya‘lamûna dhâhiram minal-ḫayâtid-dun-yâ wa hum ‘anil-âkhirati hum ghâfilûn
Artinya :
Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat keagamaan. Mereka hanya mengetahui yang lahir atau tampak dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka benar-benar lalai.
Islam sebagai agama yang mengajarkan nilai-nilai totalitas dalam kehidupan mengartikan makna hidup sebagai bentuk ke bermaknaan dalam kualitas secara berkeseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, kebermanfaat secara sosial bagi sesama manusia dan membawa kebaikan bagi lingkungan alam.
Karena itu, agar hidup manusia mencapai predikat kemuliaan di hadapan Allah SWT dan memiliki manfaat bagi sesama, manusia membutuhkan nasihat kehidupan. Berikut adalah nasihat Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW yang sangat relevan bagi kita sebagai umatnya :
Pertama, hiduplah sesukamu karena sesungguhnya kamu akan mati. Nasihat tersebut memiliki makna agar manusia senantiasa mengingat kematian. Dengan begitu, setiap orang mukmin diharapkan menghilangkan ketamakan atas tipu daya kesenangan duniawi serta mengisi kehidupan dengan amal kebaikan.
Kedua, cintailah siapa yang kamu suka karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Setiap orang beriman dibebaskan untuk mencintai siapa saja di antara semua makhluk. Namun, sesungguhnya mereka akan berpisah dengannya. Allah memberikan keleluasaan kepada setiap orang mukmin untuk mencintai segala bentuk ciptaan-Nya, tentu dengan segala konsekuensi yang akan diterimanya.
Ketiga, berbuatlah sesukamu karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya. “Berbuatlah sesuka mu”memiliki makna bahwa manusia bebas melakukan per buat an yang baik maupun yang buruk sesukanya. Akan tetapi, semua nya akan berakhir saat kematian datang, selan jut nya setelah kematian ada perhitungan dan pembalasan di akhir.
Keempat, kemuliaan seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam). Ketinggian dan kehormatan orang beriman bukan dilihat dari kedudukan jabatan, keturunan, kekuasaan, dan harta yang dimilikinya, melainkan dari usahanya menghidupkan malam dengan mengikhlaskan diri untuk melalukan shalat Tahajud, berzikir, dan membaca Alquran.
Kelima, keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia. Kekuatan, keperkasaan, dan keunggulan orang mukmin dari orang lain bukanlah besarnya badan dan kuatnya otot seseorang, melainkan ketercukupannya dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadanya dan ketidakbutuhannya terhadap apa yang ada di tangan manusia.
Artikel Kanti Suci Project

![Hiduplah sesukamu karena sungguh engkau pasti mati. Cintailah siapa pun yang engkau suka karena sungguh kalian pasti berpisah. Berbuatlah sesukamu karena sungguh engkau pasti menemui (balasan) perbuatanmu itu.” [HR al-Baihaqi] Imajiner Nuswantoro](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrqWCnHqgoqPAQ0Y8tgWPLEz0-mhoKi8_CgAIXNnXwQ-RSyId6LxZV5OOjme5GHt7PL3BX411QUvErAeWo3hH71qootOUK-6bOSWuz9u-EjEYvE6a68HbpFn_xuXqq5g5KYoRaPO6-jnC03rgHFc3qNUCLwlWV7QHogIWflRwZ9GhuL43qmVojUuMwA0g/w448-h640-rw/302887.jpg)