Takwil Ayat-Ayat Mutasyabihat
Takwil ayat-ayat mutasyabihat adalah upaya memaknai teks Al-Qur'an yang maknanya tersembunyi, kiasan, atau simbolik (tidak literal/tegas) dengan mengalihkannya ke makna yang lebih layak bagi Allah, menghindari tasybih (menyerupakan dengan makhluk). Metode ini sering digunakan ulama (khalaf/salaf) untuk membentengi aqidah, seperti mengartikan "tangan Allah" dengan kekuasaan-Nya.
Pengertian dan Metode
- Ayat Mutasyabihat: Ayat yang memiliki makna ganda atau tidak jelas, sehingga memerlukan penafsiran lebih dalam dan tidak bisa dipahami hanya dari zhahir (makna luar) teksnya.
- Takwil (Tafshili): Menafsirkan secara terperinci dengan menentukan makna yang sesuai kaidah bahasa Arab, bukan makna fisik.
- Tafwidh: Metode lain yang menyerahkan makna sepenuhnya kepada Allah (mengakui isinya tanpa mengetahui kaifiyah/bagaimananya).
Contoh Takwil Ayat Mutasyabihat
- Istiwa' (Taha: 5): Ayat "Ar-Rahman di atas 'Arsy istawa" ditakwil menjadi Allah menguasai (istaula) 'Arsy, bukan duduk secara fisik.
- Yadullah (Tangan Allah): Ayat "Yadullahi fauqa aidihim" ditakwil menjadi kekuasaan atau pertolongan Allah.
- Ja'a Robbuka (Fajar: 22): Imam Ahmad bin Hanbal menakwilkan "Wa ja'a robbuka" dengan arti datang pahala/perintah-Nya, bukan Allah datang secara fisik.
Prinsip Utama
- Mengembalikan makna ayat mutasyabihat kepada ayat-ayat yang muhkam (jelas/tegas).
- Menghindari paham tasybih atau tajsim (menyerupakan Allah dengan makhluk/berfisik).
- Dilakukan oleh orang yang mendalam ilmunya (rasikhuna fil 'ilm) untuk menghindari fitnah.
- Pendekatan ini sah dalam kajian tafsir untuk menjaga kesucian tauhid, baik dengan cara menetapkan makna (takwil) atau menyerahkan maknanya (tafwidh).
Kanti Suci Project


.jpg)