KISAH AZAZIL RAJA IBLIS
Cerita tentang kesombongan, tentang takabbur, tentang selalu berbangga diri, adalah sebuah kisah yang lebih tua dibanding penciptaan manusia. Ia hadir dan berawal ketika manusia masih dalam perancangan penciptaan. Kerana hanya para malaikat makhluk yang diciptakan sebelum manusia, kesombongan sejatinya berhulu dari malaikat. Adalah Azazil, malaikat yang dikenal penduduk syurga kerana doanya mudah dimakbulkan oleh Allah. Kerana selalu dimakbulkan oleh Allah, bahkan para malaikat pernah memintanya untuk mendoakan agar mereka tidak ditimpa laknat Allah.
Tersebutlah suatu ketika saat mengelilingi di syurga, malaikat Israfil mendapati sebuah tulisan "Seorang hamba Allah yang telah lama mengabdi akan mendapat laknat dengan sebab menolak perintah Allah." Tulisan yang tertera di salah satu pintu syurga itu, tak pula membuat Israfil menangis. Ia takut, itu adalah dirinya. Beberapa malaikat lain juga menangis dan punya ketakutan yang sama seperti Israfil, setelah mendengar khabar perihal tulisan di pintu syurga itu dari Israfil. Mereka lalu sepakat mendatangi Azazil dan meminta didoakan agar tidak tertimpa laknat dari Allah. Setelah mendengar penjelasan dari Israfil dan para malaikat yang lain, lalu Azazil memanjatkan doa.
"Ya Allah. Janganlah Engkau murka atas mereka."
Di luar doanya yang mustajab, Azazil dikenali juga sebagai Sayyidul Malaikat iaitu penghulu para malaikat dan Khazinul Jannah (bendaharawan syurga).
Semua lapis langit dan para penghuninya, memanggil Azazil dengan sebutan penuh kemuliaan walaupun berbeza.
Lapisan/ tingkat langit :
1. Pada langit lapis pertama, ia dipanggil Aabid, iaitu ahli ibadah yang mengabadi luar biasa kepada Allah pada langit lapis pertama,
2. Di langit lapis kedua, dipanggil pada Azazil adalah Raki atau ahli ruku' kepada Allah,
3. Di langit lapis ke tiga, ia dipanggil Saajid atau ahli sujud,
4. Di langit ke empat ia dipanggil Khaasyi kerana selalu merendah dan takluk kepada Allah,
5. Di langit lapis kelima disebut Azazil sebagai Qaanit kerana ketaatannya kepada Allah,
6. Di langit keenam Gelar Mujtahid, kerana ia bersungguh-sungguh ketika beribadah kepada Allah.
7. Pada langit ketujuh, ia dipanggil Zaahid, kerana sederhana dalam menggunakan sarana hidup.
Selama 120 000 tahun, Azazil, si penghulu para malaikat menyandang semua gelaran kehormatan dan kemuliaan, hingga tibalah ketika para malaikat melakukan musyawarah besar atas undangan Allah. Ketika itu, Allah, Zat pemilik kemutlakan dan semua niat, mengutarakan maksud untuk menciptakan pemimpin di bumi.
Firman Allah SWT :
"Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi." (Al Baqarah : 30)
Al-Baqarah · Ayat 30
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣٠
wa idz qâla rabbuka lil-malâ'ikati innî jâ‘ilun fil-ardli khalîfah, qâlû a taj‘alu fîhâ may yufsidu fîhâ wa yasfikud-dimâ', wa naḫnu nusabbiḫu biḫamdika wa nuqaddisu lak, qâla innî a‘lamu mâ lâ ta‘lamûn
Artinya : (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Setelah pada ayat-ayat terdahulu Allah menjelaskan adanya kelompok manusia yang ingkar atau kafir kepada-Nya, maka pada ayat ini Allah menjelaskan asal muasal manusia sehingga menjadi kafir, yaitu kejadian pada masa Nabi Adam. Dan ingatlah, wahai Rasul, satu kisah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah, yakni manusia yang akan menjadi pemimpin dan penguasa, di bumi.” Khalifah itu akan terus berganti dari satu generasi ke generasi sampai hari Kiamat nanti dalam rangka melestarikan bumi ini dan melaksanakan titah Allah yang berupa amanah atau tugas-tugas keagamaan. Para malaikat dengan serentak mengajukan pertanyaan kepada Allah, untuk mengetahui lebih jauh tentang maksud Allah. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang memiliki kehendak atau ikhtiar dalam melakukan satu pekerjaan sehingga berpotensi merusak dan menumpahkan darah di sana dengan saling membunuh, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Malaikat menganggap bahwa diri merekalah yang patut untuk menjadi khalifah karena mereka adalah hamba Allah yang sangat patuh, selalu bertasbih, memuji Allah, dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. Menanggapi pertanyaan malaikat tersebut, Allah berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Penciptaan manusia adalah rencana besar Allah di dunia ini. Allah Mahatahu bahwa pada diri manusia terdapat hal-hal negatif sebagaimana yang dikhawatirkan oleh malaikat, tetapi aspek positifnya jauh lebih banyak. Dari sini bisa diambil pelajaran bahwa sebuah rencana besar yang mempunyai kemaslahatan yang besar jangan sam-pai gagal hanya karena kekhawatiran adanya unsur negatif yang lebih kecil pada rencana besar tersebut.
Semua malaikat hampir serentak menjawab mendengar kehendak Allah.
"Ya Allah, mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi, yang hanya akan membuat kerosakan dan menumpahkan darah di bumi, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau."
Pembahasan (Al Baqarah : 30) :
Allah menjawab kerisauan para malaikat dan meyakinkan bahwa,
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Allah lalu menciptakan manusia pertama yang diberi nama Adam. Kepada para malaikat, Allah memberikan kelebihan dan keistimewaan Adam, yang menyebabkan para malaikat mengakui kelebihan Adam atas mereka. Lalu Allah menyuruh semua malaikat agar bersujud kepada Adam, sebagai wujud kepatuhan dan pengakuan atas kebesaran Allah. Seluruh malaikat pun bersujud, kecuali Azazil.
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir"
(Al Baqarah : 34)
Sebagai penghulu para malaikat dengan semua gelar dan sebutan kemuliaan, Azazil merasa tak layak bersujud pada makhluk lain termasuk Adam kerana berasa penciptaan dan statusnya yang lebih baik. Allah melihat tingkah dan sikap Azazil, lalu bertanya lalu memberi gelaran baru kepadanya iaitu Iblis. "Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri (takabbur) ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi?" Mendengar pernyataan Allah, bukan permintaan ampun yang keluar dari Azazil, sebaliknya ia malah menentang dan berkata,
"Ya Allah, aku (memang) lebih baik dibandingkan Adam. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah."
Mendengar jawapan Azazil yang sombong, Allah berfirman.
"Keluarlah kamu dari syurga. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang diusir".
Azazil iaitu Iblis, sejak itu tak lagi berhak menghuni syurga. Kesombongan dirinya, yang berasa lebih baik, lebih mulia dan sebagainya dibanding makhluk lain telah menyebabkannya menjadi penentang Allah yang paling nyata. Padahal Allah sungguh tak menyukai orang-orang yang sombong.
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia kerana sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keldai."
Saat kesombongan dari Azazil sejatinya sudah bersemai sejak Israfil dan para malaikat mendatanginya agar mendoakan mereka kepada Allah. Waktu itu, ketika mendengar penjelasan Israfil, Azazil berkata,
"Ya Allah..! Hamba-Mu yang manakah yang berani menentang perintah-Mu, sungguh aku ikut mengutuknya."
Azazil lupa, dirinya adalah juga hamba Allah dan tak menyedari bahwa kata "hamba" yang tertera pada tulisan di pintu syurga, boleh menimpa kepada siapa saja, termasuk dirinya. Lalu, demi mendengar ketetapan Allah, Iblis bertambah nekad lalu meminta kepada Allah agar diberi dispensasi. Katanya,
"Ya Allah, berilah penangguhan kepada aku sampai mereka ditangguhkan."
Allah bermurah hati, dan Iblis mendapat apa yang dia minta iaitu masa hidup panjang selama manusia masih hidup di permukaan bumi sebagai khalifah. Dasar Iblis, Allah yang maha pemurah, masih juga ditawar. Ia lantas bersumpah akan menyesatkan Adam dan anak cucunya, seluruhnya, Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.
"Maka kata Allah, "Yang benar adalah sumpahKu dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka jahanam dengan jenis dari golongan kamu dan orang-orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya."
Menular pada Manusia Korban pertama dari usaha penyesatan yang dilakukan Iblis, tentu saja adalah Adam dan Hawa. Dengan tipu daya dan rayuan memabukkan, Nabi Adam AS dan Siti Hawa lupa pada perintah dan larangan Allah. Keduanya baru sedar setelah kemarahan Allah turun. Memang terlambat, kerana itu Adam dan Hawa diusir dari syurga dan ditempatkan di bumi. Dan Iblis berjaya menjadikan Adam dan Hawa sebagai korban pertama penyesatannya, tak boleh dilihat sebagai suatu kebetulan. Adam dan Hawa, bagaimanapun adalah Bapa dan Ibu seluruh manusia, awal dari semua sperma dan indung telur. Mereka berdua, kerana itu menjadi alat ukur keberhasilan atau ketidakberhasilan Iblis menyesatkan manusia. Jika asal usul seluruh manusia saja, berhasil disesatkan apa lagi anak cucunya. Singkat kata, kesesatan yang di dalamnya juga ada sombong, takabur, selalu merasa paling hebat, lupa bahwa masih ada Allah, juga boleh merebak kepada manusia sampai kelak di hujung zaman.
Dalam banyak riwayat, banyak kisah tentang kaum atau umat terdahulu yang takabur menentang dan memperolokkan hukum-hukum Allah, sehingga ditimpakan kepada mereka azab yang mengerikan. Kaum Aad, Tsamud, umat Nuh, kaum Luth, dan Bani Israil adalah sedikit contoh dari bangsa-bangsa yang takabur dan sombong lalu mereka dinistakan oleh Allah, senista-nistanya. Kerana sifat takabur pula, sosok-sosok seperti Fir'aun si Raja Mesir kuno, Qarun, Hamaan dan Abu Jahal juga mendapatkan azab yang sangat pedih di dunia dan pasti kelak di akhirat.
Pada zaman sekarang, manusia sombong yang selalu menentang Allah bukan berkurang, sebaliknya bertambah. Ada yang sibuk mengumpulkan harta dan lalu menonjolkan diri dengan kekayaannya. Yang lain rajin mencari ilmu, namun kemudian takabbur dan berasa paling pintar. Sebahagiannya, berbangga dengan asal usul keturunan, keturunan diraja, anak kiai, dan sebagainya. Ada juga yang merasa diri paling cantik, paling putih, paling mulus berbanding manusia lain. Mereka yang beribadah, solat siang malam, puasa, zakat dan haji merasa paling soleh dan sebagainya. Ada yang meninggalkan perintah-perintah Tuhan hanya kerana mempertahankan dan bangga dengan budaya warisan nenek moyang, dan seolah-olah segala sesuatu di luar budaya itu tak bernilai. Tak sedikit juga yang mengesampingkan larangan-larangan Allah hanya kerana mengubah era laju zaman moden yang selalu dibanggakan.
Sebagai manusia, orang-orang semacam itu tak bermanfaat sama sekali. Mata jasmani mereka memang melihat, tapi mata hatinya sudah buta melihat kebenaran dan kebesaran Allah. Allah telah dijadikan nombor dua, sementara yang nombor satu adalah diri dan makhluk lain di sekitar dirinya. Hati mereka menjadi gelap tanpa nur iman sebagai pelita. Akal mereka tidak dapat membezakan antara yang hak (benar) dengan yang batil (salah).
"Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri (takabur)"
(Al Muddatstsir : 23)
Iblis sebagai pelopor sifat takabur selalu mendoktrin kepada siapa saja sifat takabur, dan mewariskannya kepada jin dan manusia. Tujuannya jelas, untuk menyebarkan sumpah (Iblis) pada golongannya sebagaimana golongan setan dari jenis jin. Syaitan tentu dominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa jin, begitu pula syaitan dari golongan jenis manusia, sangat dominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa manusia.
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternakan, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai"
(Al Araaf : 179)
AZAZIL ADALAH PEMIMPIN PARA MALAIKAT
Dilansir dari buku Alam Jin karya Al Imam As Suyuthi terjemahan dari Kitab Luqthul Marjan fi Ahkamil Jaan dari riwayat Qatadah, iblis adalah kabilah malaikat bernama jin. Ibnu Abbas berkata, "Sekiranya iblis tidak termasuk malaikat, maka dia tidak diperintah sujud. Tadinya dia adalah penjaga langit dunia."
Nama-nama iblis sesuai tempat tinggalnya tercantum dalam kitab Imam Ghazali.
1. Al-Aabid (ahli ibadah): penghuni langit pertama.
2. Az-Zahid: penghuni langit kedua.
3. Al-'Arif: penghuni langit ketiga.
4. Al-Wali: penghuni langit keempat.
5. At-Taqi: penghuni langit kelima.
6. Al-Khazin: penghuni langit keenam.
7. Azazil (1000 tahun beribadah tanpa henti/ Sayyidul Malaikat: pemimpin malaikat): penghuni langit ketujuh.
Setelah 80.000 tahun malaikat dan iblis hidup bersama, keadaan berubah ketika iblis enggan bersujud kepada Nabi Adam karena merasa lebih sempurna. Hal ini tertuang pada QS Al Baqarah ayat 34
KISAH AZAZIL KETURUNAN MAHKLUK NISNAS
Nisnas (atau Nasnas) adalah makhluk mitologi Arab kuno yang diyakini mendiami bumi sebelum Nabi Adam AS, sering digambarkan sebagai makhluk setengah manusia dengan satu kepala, satu tangan, dan satu kaki. Dalam beberapa interpretasi, mereka dianggap penghuni pra-Adam yang memiliki peradaban namun kemudian dimusnahkan, sering dikaitkan dengan dialog malaikat mengenai kerusakan di bumi.
Pada saat bumi berumur delapan ribu tahun, keadaannya masih kosong. Di sini sudah terdapat banyak biji sawi yang putih. Kemudian Allah SWT menciptakan seekor unggas yang bernama Tabirunnasar. Allah SWT berfirman kepada-Nya: “Hai, unggas Tabirunnasar, makanlah olehmu biji sawi itu. Apabila habis biji sawi itu, engkau akan Kumatikan.” Sang unggas pun memakan biji-bijian itu. Namun, cara memakannya diatur: Pertama, sehari satu biji yang dimakan. Setelah semakin berkurang, maka kini dimakannya hanya satu biji sebulan. Biji sawi itu semakin berkurang saja. Oleh karena begitu takutnya terhadap kematian, maka sang unggas hanya memakan satu biji dalam setahun. Namun, akhirnya, habislah biji-biji sawi itu. Tabirunnasar pun akhirnya mati. Setelah kematian tersebut, Aliah SWT menciptakan makhluk lain sebagai penghuni bumi, yaitu tujuh pulun orang lelaki. Namun tidak semuanya langsung diciptakan, melainkan satu persatu Allah SWT menciptakannya. Apabila seorang meninggal, maka langsung diciptakan yang lain.
Masing-masing dari mereka berumur 70.000 tahun. Konon, setahun pada masa itu sama dengan seribu tahun pada masa sekarang. Tatkala telah mati tujuh puluh lelaki itu, kemudian Allah ciptakan jin.
“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api”. (Q. S. 55:1 5).
Sebagian dari jin-jin itu ada yang berkaki empat, berkaki dua, dan terbang. Kemudian Allah SWT mengutus seorang yang bernama Yusuf untuk memberikan pengajaran ilmu dan syariat agama. Namun, jin-jin itu banyak yang mendustakan ajaran-ajaran tersebut yang menyebabkan Allah SWT mematikan semuanya. Penghuni bumi berikutnya adalah suatu makhluk yang berpasangan. Rupanya seperti binatang "nisnas" . Keluar dan dalam neraka. Binatang itu pun beranak, dan anaknya dinamakan dengan Azazil. Setelah cukup besar, Azazil mulai melakukan peribadatan kepada Allah SWT seribu tahun lamanya. Setelah itu, Allah SWT mengangkatnya ke langit pertama. Selama seribu tahun, di sini pun ia tekun beribadah. Allah SWT menganugerahkannya sayap yang terbuat dari manikam yang hijau.
Dengan ijin-Nya maka terbanglah ia ke langit kedua. Seribu tahun lamanya pula ia benbadah. Demikianlah, pada tiap-tiap lapisan langit ia beribadah selama seribu tahun lamanya, hingga ke lapisan langit ketujuh. Sementara itu, di bumi saat itu sudah ada penghuni lainnya yaitu dari bangsa jin yang bernama janna. 70.000 tahun lamanya hingga lahir anak-cucunya.
Menurut ahli tafsir yang lain delapan belas ribu tahun mendiami bumi, yang kemudian menjadi sombong dan kufur. Allah SWT pun mematikan Janna. Sebagai gantinya adalah yang bernama Banunal Janna. Ia mendiami bumi selama delapan belas ribu tahun lamanya. Ia juga dimatikan oleh Allah SWT. Sementara itu, di atas langit sana, Azazil bersama para Malaikat masih khusyuk beribadah. Azazil menjadi penghulu para Malaikat selama tujuh ribu tahun lamanya dalam beribadah.
Hingga pada satu waktu, Azazil mengajukan suatu permohonan kepada Allah SWT, katanya : “Ya TuhanKu tujuh ribu tahunlah hamba-Mu ini berbuat kebaikan pada-Mu dalam tujuh lapis langit ini. Jikalau dianugerahkan oleh-Mu, hamba-Mu mohon hendak turun ke bawah ke langit keenam, berbuat kebaikan kepada-Mu.” “Pergilah engkau!”, tegas Allah SWT.
Turunlah Azazil atau Iblis itu bersama tujuh ratus Malaikat pengiringnya ke langit keenam. Setelah merasa cukup, ia pun memohon ijin lagi kepada Allah SWT agar diturunkan ke langit kelima, Di langit kelima pun ia memohon diturunkan ke langit yang di bawahnya, dan demikian seterusnya hingga sampailah mereka di langit dunia. Di langit dunia, Azazil atau Iblis mengajukan suatu permohonan pula : “Ya Tuhanku, hamba-Mu hendak memohon turun ke bumi dengan para Malaikat. Bahwasanya hamba-Mu hendak beribadah kepada-Mu di bumi itu. Ya Tuhanku, betapa Bananul Janna telah banyak berbuat kerusakan di muka bumi. Anugerahkanlah atas hamba-Mu ini bersama para Malaikat berbuat kebaikan ke hadirat-Mu di muka bumi itu.”
Allah SWT pun mengabulkan permohonan Azazil itu Diturunkanlah ia bersama tujuh ratus Malaikat yang mengiringnya untuk beribadah di muka bumi, setelah sebelumnya Banunal Janna dimatikan karena banyak berbuat kerusakan. Setelah delapan ribu tahun lamanya beribadah, Iblis mencoba mengemukakan ungkapan hatinya bahwa di muka bumi inilah ia begitu betahnya, dan tidak ada tempat lain yang membuatnya demikian betah. Dan memohon agar selamanya ia berada di muka bumi untuk berbakti kepada Allah SWT. Sampai pada satu waktu, Allah SWT berkehendak menurunkan suatu keterangan kepada Azazil, firman-Nya, Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat :
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi”. (Q.S. 2:30)
Mendengar firman tersebut Azazil (Iblis) menjadi berduka, disebabkan dengkinya. Mereka (para Malaikat) pun bertanya kepada Allah SWT mengenai siapa yang akan menjadi khalifah itu. “Adam namanya,” jawab Allah SWT.
Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau.” Tuhan berfirman :
”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang engkau tidak ketahui’”. (Q.S. 2:30). Iblis Membuka Rahasianya
“Hai Laknatullah, apa kesalahanku kepadamu maka engkau mendengki kepadaku, dan kepada anak cucu Nabi Adam, karena kulihat engkau ini lain dari apa yang diucapkan, dan hendak menimpakan kejahatan seperti orang yang mendengki,” kata Nabi Nuh.
Iblis menyahut, “Bahwasanya aku tidak dapat durhaka kepada engkau, dan tidak berhasil tipu dayaku terhadap engkau dan para nabi Allah. Hanya saja, selain dari itu, dapat kuceritakan bahwa orang yang tidak berhasil terpedaya olehku adalah orang yang sangat ikhlas dan takut hatinya kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya telah kupinta do’a kepada Allah Ta’ala, dan telah dikabulkan Allah Ta’ala permohonanku itu hingga hari kiamat, dan telah berapa ratus ribu dari makhluk-makhluk yang dimatikan oleh Allah Ta’ala tetap dalam kekafirannya agar penuh neraka dengan mereka ini. Demikian itulah yang dikehendaki olehku.”
Nabi Nuh a.s. menangis ketika diceritakan hal itu. Beliau menangisi nasib umatnya kelak yang akan banyak dijerumuskan oleh iblis ke dalam neraka. Iblis kembali berkata, “Hai Nuh, engkau bernama Syakirin yang artinya pandai bersyukur, itulah maka tidaklah dapat aku mendekatimu dan tidak dapat aku berdusta kepadamu, karena engkau bapak dari segala anbiya ‘alaihimussalaam.”
Nabi Nuh menanggapinya, “Hai laknatullah Ta’ala atas kepalamu, kutukannya kepadamu oleh karena apa? Sehingga engkau bekerja membuat bencana terhadap anak cucu Nabi Allah Adam ‘alaihissalam, dan karena apa engkau mengajak kepada Nabi Adam a.s. sedangkan tidak seorang nabi pun yang berbuat jahat kepadamu. Kemudian kau tipu Nabi Adam, dan kau suruh ia memakan buah pohon yang dilarang untuk memakannya oleh Allah Ta’ala. Sehingga menjadi turunlah ia ke bumi dari tempat sebelumnya yang mulia.”
Iblis menyahut, “Tidakkah Tuan mengetahui bahwa oleh sebab Adamlah maka aku terkena laknat Allah. Oleh sebab itulah maka kuminta kepada Allah Ta’ala empat perkara yang kukenakan kepada anak cucu Adam. Pertama, saling mendengki di antara mereka. Kedua, tamak dan mengambil harta sesamanya dengan cara yang tidak benar. Ketiga, membesarkan dirinya, dan mengangkat dirinya dengari sikap takabur dan dusta. Keempat, kikir; karena sikap inilah yang terbanyak akan memenuhi api neraka.”
Nabi Nuh berujar, “Hai Iblis, sesungguhnya engkau dimurkai Allah Ta’ala itu dikarenakan engkau mengabaikan perintah Tuhanmu Yang Maha Tinggi dan Maha Besar. Dan tidak karena perbuatan Nabi Adam atau perintahnya, sedemikian sehingga engkau menjadi kena laknat. Jika ada yang lain sebelumnya dari hal ini, katakan olehmu kepadaku supaya dapat kuketahui.”
Iblis menjawab, “Ketahuilah olehmu Nuh, beberapa ratus tahun aku berbakti kepada Allah Ta’ala hingga kemudian aku sampai ke langit lapisan ketujuh. Kemudian aku bermohon pula kepada Allah Ta’ala untuk turun ke bumi untuk berbuat kebaktian bersama malaikat yang menyertaiku”.
“Beberapa ratus tahun aku sujud kepada Allah Ta’ala dengan segenap pengabdianku dan sikap takutku kepada Dia. Kemudian aku beserta para malaikat yang menyertaiku, diperintahkanlah oleh Ta’ala untuk sujud kepada Adam. Kemudian datang bencana bagiku bahwa di dalam hatiku tidak mau sujud kepada Adam. Maka dimurkailah aku oleh Allah Ta’ala dengan turunnya laknat. Akulah yang pertama yang mendengki dan akulah yang pertama kalinya pula menyombongkan diri terhadap Adam. Sehingga kulalaikan perintah Allah Ta’ala dengan tidak mau sujud kepada Adam disebabkan oleh sikap takaburku. Kukatakan terhadap diriku bahwa aku melebihi daripada Adam. Maka sejak hari itulah jatuh laknat atas kepalaku, disebabkan oleh perkataanku kepada Tuhanku, ‘Kauciptakan aku dari cahaya api, dan Kauciptakan Adam dari tanah. Sehingga tidaklah harus cahaya bersujud kepada yang kelam itu!”.
“Dalam perkataanku menyatakan bahwa akulah yang terbaik daripada Adam, kemudian tiba-tiba jadilah aku lebih jahat darinya dengan memperoleh murka dan laknat, sebab menyombongkan diriku kepadanya dan mendengki terhadap dia. Oleh sebab itulah, maka aku dikeluarkan oleh Allah dari kelompok para malaikat yang banyak itu. Demikianlah, tidak ada dosaku satu pun kepada Allah Ta’ala yang lain kecuali itu. Selanjutnya kuperbuat bencana kepada Adam dengan kutipu dia. Kusuruh memakan buah khuldi pohon yang dilarang oleh Allah Ta’ala kepada Adam untuk memakannya. Kataku kepada Adam bahwa jika engkau memakan buah pohon ini, niscaya kekallah engkau di dalam sorga ini, kemudian diturutinya perkataanku itu”.
“Setelah dimakan buah itu oleh Adam dan Hawa, disebabkan oleh rakusnya untuk mengharapkan tidak mati sekalipun, maka keluarlah ia dari dalam sorga. Kemudian ditemui oleh mereka duka cita dan kejahatan serta kematian di dalam dunia ini. Dan telah diturunkan ketetapan terhadap aku bahwa neraka sebagai tempatku selama-lamanya”.
“Ketika Allah Ta’ala menciptakan sorga Jannatul Firdaus dengan segala tanaman dan sungainya dan berbuahlah seluruh pepohonan itu dengan tidak berkesudahan. Maka firman Allah Ta’ala kepada sorga, ‘Sesungguhnya Kudapatkan engkau haram atas semua orang yang kikir dan takabur masuk kepadamu, dan enggan (merindukan) kepadamu’. Oleh karena itulah yang terbanyak masuk ke dalam neraka itu orang yang kikir dan takabur’.
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Nabi Nuh itu, Iblis pun memberi salam dan pergi meninggalkan Nabi.
Mendengar pengakuan dari Iblis itu, semakin mendalamlah kesedihan Nabi Nuh. Kemudian turun firman Allah kepadanya, melalui Jibril, “Hai Nuh, turunlah engkau dari bahteramu penuh dengan kesejahteraan, dan Kami beri berkah atasmu dan umat yang menyertaimu, dan seluruh umat yang kemudian dari golonganmu akan Kami anugerahi mereka kesenangan. Kemudian, akan Kami rasakan kepada mereka siksaan yang amat pedih di negeri akhirat (jika mereka durhaka). Hai Nuh, buatlah olehmu sebuah mesjid sebagai tempatmu beribadah kepada Aliah Ta’ala dari kayu bahteramu itu”.
Mesjid pun segera dibuat oleh Nabi dan delapan puluh orang laki-laki yang menyertainya. Diceritakan bahwa tiga orang putra Nabi Nuh. Yafiah menurunkan anak cucunya menjadi bangsa Habsyah dan Hindustan; Syam menjadi bangsa ‘Azam, Masqulan, dan Turki; sedangkan Ham menjadi bangsa Romawi dan Arab.
Pada umur 1000 tahun, Nabi Nuh wafat. Sebelum wafatnya, beliau berwasiat kepada anak cucunya, “Hai seluruh anak cucuku, bahwasanya kulihat dunia ini seperti suatu rumah juga, kita masuk dari satu pintu, kemudian kita akan keluar dari satu pintu (lainnya). Hanya saja, janganlah engkau ubah janji Allah Ta’ala yang telah mengikat janji dengan kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengubah janji-Nya dengan kamu.”
Setelah kepergiannya ke Rahmatullah, semakin menyebarlah anak cucunya ke penjuru dunia. Beberapa lama kemudian, banyak dari mereka yang berbuat durhaka kepada Allah Ta’ala.
KISAH AZAZIL (2)
Setelah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi, Allah pun menciptakan jin untuk hidup di bumi. Jin diciptakan dari api (1), sesuai dengan lingkungan bumi pada periode awalnya yang penuh dengan gunung api meletus, udara panas, dan air yang mendidih (2).
Jin adalah makhluk Allah yang akan mengikuti ujian kehidupan (3): Allah akan melihat siapa di antara para jin yang taat kepada Allah dan siapa yang akan bersikap kafir.
Maka, selama masa yang panjang, para jin pun hidup di muka bumi. Mereka membentuk keluarga (4), berniaga satu dengan yang lain, mendirikan kerajaan, dan berperang. Tetapi, seiring waktu berlalu, mereka saling menghancurkan dan menumpahkan darah. Perebutan kekuasaan pun terjadi di dunia jin sehingga peradaban jin pun mendekati kehancuran.
Dalam situasi yang mencekam itu, segolongan jin saleh berusaha menghindar. Mereka memohon kepada Allah agar pindah ke surga, menghindar dari pertumpahan darah di muka bumi dan fokus beribadah bersama para malaikat. Allah pun mengabulkan permintaan mereka. Sebagian jin diangkat ke surga (5).
Di antara imigran jin yang pindah ke surga itu, yang terbaik di antara mereka adalah Azazil. Karena ibadah dan kesalehannya, Azazil menjadi pemimpin golongan jin di surga (6).
Akan tetapi, jabatan tinggi dan kesalehan seringkali menimbulkan rasa sombong. Azazil mulai merasa dirinya adalah makhluk Allah yang terbaik. Perasaan sombong itu pun berkembang menjadi perasaan iri dan dengki tatkala Allah menyampaikan sebuah pengumuman besar.
Pengumuman Besar
Allah mengumumkan kepada seluruh penduduk langit: “Aku Akan Menciptakan Seorang Khalifah” di muka bumi (7).
Para malaikat tahu bahwa “Khalifah” itu bukanlah seperti malaikat yang selalu taat; “Khalifah” adalah makhluk seperti jin yang akan mengikuti ujian kehidupan. Maka para malaikat pun bertanya kepada Allah: “Ya Allah, apakah Engkau akan menciptakan makhluk semacam jin yang suka berperang dan menumpahkan darah?” (8) Mengapakah Engkau tidak menciptakan makhluk seperti kami saja, yang senantiasa beribadah dan selalu taat?
Menanggapi pertanyaan malaikat itu, Allah hanya menjawab: “Aku Mengetahui apa yang kalian tidak ketahui.” Lalu, mendengar titah tersebut, seluruh malaikat pun tunduk dan patuh kepada Allah. Namun, Azazil menolak di dalam hatinya.
Kemudian, Allah pun memerintahkan kepada Malaikat Maut (Izrail) untuk mengambil segumpal tanah dari permukaan bumi untuk menciptakan sang khalifah, manusia pertama, yang bernama Adam.
Khalifah Yang Baru
Setelah menyempurnakan bentuk Adam, Allah pun menghembuskan “ruh” ke dalam jasad Adam sehingga ia langsung bersin (9). Seketika seluruh sel, jaringan, dan organ tubuhnya bekerja. Matanya terbuka dan lisannya pun mengucap “Al-hamdulillah” (segala puji bagi Allah). Para malaikat yang mendengarnya menjawab “yarhamukallah” (Allah menyayangimu).
Adam pun tinggal di surga. Allah mengajarinya “nama-nama“ (10), yaitu aneka pengetahuan dari yang paling dasar hingga yang paling tinggi, dari sekadar nama-nama hewan dan tumbuhan hingga tentang gerak alam semesta. Dengan kata lain, Adam belajar berbicara dengan bahasa, dan bahasa yang ia gunakan adalah Bahasa Arab (11).
Azazil Melawan Allah
Tatkala Adam sudah hidup, Allah pun memerintahkan kepada seluruh penduduk langit, yaitu para malaikat dan segolongan jin, untuk tunduk kepada Adam. Mereka diminta untuk menyapa kepada Khalifah baru, bukan dari bangsa jin, tapi dari bangsa manusia.
“Bersujudlah kalian kepada Adam (12)“, kata Allah.
Maka bersujudlah semua malaikat karena mereka taat pada perintah Allah. Para jin juga bersujud, akan tetapi, Azazil tetap berdiri, menolak untuk bersujud (13). Hatinya diliputi rasa sombong dan dengki (14).
Melihat sikap Azazil, Allah pun murka dan berkata: “Wahai Iblis!” Allah tidak lagi memanggil namanya. Karena pembangkangannya, ia disebut “rendah” (Iblis) (15). “Apakah yang membuatmu enggan bersujud dan melanggar perintahku?”
Iblis pun menjawab:
أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِى مِنْ نَارٍ وَ خَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ (الْأعْرَافُ: 11-12)
“Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakan Aku dari api sedangkan dia hanya dari tanah.”
Kesombongan telah meliputi hati Iblis. “Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga“, karena satu kesombongan Azazil ini, musnah pahala ibadah yang telah ia lakukan selama ribuan tahun.
Maka, Allah pun menghukum Iblis,
اُخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُوْمًا مَدْحُوْرًا (الْأعْرَافُ: 18)
“Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir”
فَهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُوْنُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيْهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِيْنَ (الْأعْرَافُ: 13)
“Turunlah kamu dari surga itu, karena tidak sepatutnya kamu menyombongkan diri di dalam surga, maka keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk-makhluk yang hina”
فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيْمٌ (اَلْحِجْرُ: 77)
“Maka keluarlah Engkau dari surga; sesungguhnya Engkau adalah makhluk yang terkutuk”
Kedengkian Iblis kepada Adam semakin membara. Ia tidak rela dikutuk Allah sebagai makhluk yang rendah dan masuk neraka. Iblis ingin membalas Adam. Ia memohon kepada Allah:
فَبِمَا أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ المُسْتَقِيْمَ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ وَ مِنْ خَلْفِهِمْ وَ عَنْ أيْمَانِهِمْ وَ عَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِيْنَ
“Karena Engkau telah menghukum saya “tersesat”, maka saya benar-benar akan menghalangi mereka (anak keturunan Adam) dari jalan Engkau yang lurus (agama Islam). Kemudian, saya akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau akan melihat nanti, kebanyakan mereka akan menjadi orang-orang yang tidak taat kepada-Mu (tidak bersyukur)”
Sejak saat itu, Azazil tidak lagi dipanggil “Azazil”; ia adalah “Iblis” karena “kehinaan”nya, ia juga dijuluki “Setan” karena bersumpah akan “menjauhkan manusia dari agama Islam.” (16)
Sumber Referensi :
- QS. Ar-Rohman: 15 atau Hadits Riwayat Muslim, خُلقتِ الملآئكة من نور وخلق الجانّ من مارج من نار وخلق آدم مما وصف لكم (رواه مسلم)
- Teori tentang keadaan awal bumi ini, disebut teori “sup purba”. Lihat Larry Gonnick, Kartun Sejarah Peradaban
- QS. Adz-Dzariyat: 56 وما خلقتُ الجنّ والإنس إلّا ليعبدون
- Cermati QS. Al-Kahf: 50 dan QS. Ar-Rahman: 15. Namun, hadits dari Abdullah bin ‘Amr ini lebih eksplisit: إنّ اللهَ جزّأ الإنسانَ و الجنّ عشْرةَ أجْزَاءٍ تسعةٌ منهم الْجنُّ والإنسُ جزءٌ واحدٌ فلا يولَدُ من الإنسِ ولدٌ إلّا من الجنّ تسعةٌ (رواه ابن عبد البرّ, وابن جرير, والحاكم, وابن أبى حاتم)
- Muhammad Ash-Shayyim, Dialog dengan Jin Kafir, hal. 17
- Nama asli Iblis “Azazil” merupakan pendapat Ibnu ‘Abbas. Lihat Ibnu Katsir, Qishoshul Anbiya, hal. 24
- QS. Al-Baqoroh: 30 و إذ قال ربك للملائكة إنّى جاعلٌ فى اللأرض خليفة
- Tafsir atas pernyataan malaikat “… yang membuat kerusakan di muka bumi dan yang suka menumpahkan darah” merujuk kepada bangsa jin adalah pendapat Abdullah bin ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas. Lihat Ibnu Katsir, Qishoshul Anbiya, hal. 18. Menurut Syahr bin Hausyab, ketika bangsa jin membuat kerusakan di bumi, para malaikat turun untuk menumpas mereka. Sebagian diusir ke pantai tetapi sebagian ditawan, dibawa ke langit, dan di antara mereka adalah Azazil. Namun, As-Sam’udi berpendapat bahwa Azazil dan segolongan jin bukan termasuk golongan yang berbuat kerusakan. Justru, mereka adalah golongan yang saleh, berilmu dan meminta perlindungan Allah untuk diangkat ke langit agar terhindar dari kerusakan yang dibuat bangsa jin. Lihat Ibnu Katsir, Qishoshul Anbiya, hal. 24
- HR. Tirmidzi. لَمَّا خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَنَفَخَ فِيهِ الرُّوحَ عَطَسَ فَقَالَ: الحَمْدُ لِلَّهِ، فَحَمِدَ اللَّهَ بِإِذْنِهِ، فَقَالَ لَهُ رَبُّهُ: رَحِمَكَ اللَّهُ يَا آدَمُ، اذْهَبْ إِلَى أُولَئِكَ المَلَائِكَةِ، إِلَى مَلَإٍ مِنْهُمْ جُلُوسٍ، فَقُلْ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، قَالُوا: وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى رَبِّهِ، فَقَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ بَنِيكَ، بَيْنَهُمْ
- Lihat Ibnu Katsir, Qishoshul Anbiya, hal. 19 dan 2010.
- Dr. Musthofa Mahmud dalam Min Asroril Qur’an (Rahasia
dalam Al-Qur’an) menyampaikan pendapat bahwa bahasa yang digunakan Adam untuk berbicara adalah rumpun bahasa ‘Arab. Pendapat ini didasarkan atas penelitian Prof. Dr. Tahiyya ‘Abdul ‘Aziz, dosen linguistik di Inggris yang melihat kesepadanan Bahasa Arab dengan bahasa Inggris (contoh: kafan dan coffin = penutup mayat), bahasa Arab dengan Latin (kahf dengan cavus = gua), bahasa Arab dengan Hiroglypa (ab dengan abu = bapak), bahasa Arab dengan Jerman (ardh dengan erd = bumi), dengan Anglo Saxon (dhorr dengan daru = berbahaya), Perancis (‘unuq dengan nuque = leher), Yunani (qoonuun dengan kanaun = undang-undang), Italia (qith dengan goetta = kucing). Kesepadanan-kesepadanan tersebut menunjukkan bahwa semua bahasa di dunia berasal dari Bahasa Arab. Lihat Musthofa Mahmud, Rahasia dalam Al-Qur’an, hal. 142-143
- Antara lain, dalam QS. Al-Baqoroh: 34 وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا
لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ
- QS. Al-Kahfi: 50 كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
- Motif dengki dan sombong Iblis ketika menolak untuk bersujud dapat dicermati dari QS. Al-Baqoroh: 34. Lihat catatan nomor 11
- Banyak pendapat tentang asal-usul kata “Iblis”, tetapi MisterArie merujuk kepada pendapat Prof. Abdul Ahad Dawud yang mengatakan bahwa seperti nama “Idris” yang berasal dari bahasa Aram, “Drisa“, julukan Nabi Enokh yang berarti “seseorang yang sangat berpengetahuan”, Iblis pun berasal dari bahasa yang sama, dari kata “Blisa” yang berarti “yang hancur” atau “yang dikalahkan”. Lihat dalam Muhammad in the Bible, hal. 212.
- Aep Saepullah D (Kandidat Doktor Universitas Al-Azhar kairo), Buku
- Pintar Alam Gaib, hal. 80
Artikel Kanti Suci Project
















