SYEKH JAMBU KARANG
![]() |
Syekh Jambu Karang (Pangeran Mundingwangi) adalah tokoh penyebar Islam awal (pra-Walisongo) yang merupakan putra raja Pajajaran/Majapahit, dikenal bertapa di Gunung Karang dan Ardi Lawet, Purbalingga. Ia memeluk Islam setelah kalah adu ilmu dengan Syekh Maulana Maghribi, lalu mendirikan pusat dakwah di Perdikan Cahyana.
Gunung Lawet/Ardi lawet terletak di Desa Panusupan kecamatan Rembang kabupaten Purbalingga. A.Makam Wali Pangeran Syekh Jambukarang (Haji Purba/Haji Purwa) Pangeran Syekh Jambukarang berasal dari jawa Barat. Beliau adalah putra mahkota Prabu Brawijaya Mahesa Tandreman, Raja Pajajaran I.
Nama mudanya adalah R. Mundingwangi. Sebenarnya beliau akan dinobatkan untuk menjadi pengganti ayahnya menjadi raja Pajajaran namun beliau lebih suka mengembara sehingga tahta kerajaan diserahkan pada adiknya bernama R. Mundingsari pada tahun 1190 M. R. Mundingwangi kemudian bertapa di Gunung Jambudipa yang terletak di kabupaten Banten Jawa Barat.
Setelah menjadi pertapa beliau terkenal dengan nama Jambukarang dan tempat beliau bertapa dikelan dengan nama Gunung Karang. Alkisah saat beliau betapa, beliau melihat tiga Nur/Cahaya putih dibelah timur dan sangat tinggi keberadaannya. Oleh karena itu beserta 160 pengikutnya beliau menemukan asal nur tersebut tepat di Gunung Panungkulan di Desa Grantung kecamatan Karangmoncol sehingga terkenal dengan nama Gunung Cahyana.
Dalam perjalanannya, beliau melalui : Karawang atau Jatisari Sungai Comal dan bertinggal agak lama disana dan sekarang ada petilasannya bernama petilasan Geseng Gunung Cupu dan menelusuri saungai Kuripan Gunung Kraton dan keselatan ke Gunung Lawet Bojongsana dan keselatan menelusuri sungai Ideng,kedung Budah, kedung Manggis Penyindangan (desa Rajawana sekarang) Karang Arum (desa Makam sekarang dan keselatan sampilah di Gunung Panungkulan.
Tersebutlah seorang mubaligh Islam dari negeri Arab yang terkenal dengan sebutan Syekh Atas Angin. Sesudah sholat Subuh mendapat Ilham bahwa disebelah timur terdapat tiga buah cahaya putih menjulang tinggi diangkasa. Maka beliau dengan 200 pengikutnya pergi untuk mencari cahaya tersebut. Dalam perjalanannya beliau singgah di Gresik dan Pemalang kemudian ke Gunung Cahyana. Di Gunung Cahyana beliau bertemu dengan R. Mundingwangi atau Jambukarang yang sedang bertapa setelah menemukan cahaya yang sama-sama dicarinya. Pangeran Atas Angin memberi salam namun Pangeran Jambukarang tidak menjawabnya sebab waktu itu Pangeran Jambukarang memeluk agama Hindu. Merasa terganggu dengan kehadiran Pangeran Atas Angin, Pangeran Jambukarang sangat marah dan terjadilah adu kesaktian kedua Pangeran tersebut. Pangeran Jambukarang dapat dikalahkan oleh Pangeran Atas Angin sehingga Pangeran Jambukarang tunduk pada Pangeran Atas Angin dan masuk Islam bergelar Syekh jambu Karang.
Beberapa persyaratan harus dipenuhi oleh Pangeran Jambukarang agar dapat diterima oleh Pangeran Atas Angin atara lain : Mandi Taubat, memotong rambut dan memotong kukunya (sekarang ada di petilasan Gunung Lawet) Ketika Pangeran Jambukarang akan diberi Ilmu Kewalian, beliau meminta supaya bertempat di Gunung Kraton saja. Sampai saat ini masih ada petilasannya. Pada saat ilmu Kewalian diajarkan atau diwejang(dalam bahasa Jawa), semua gunung disekitar gunung Kraton tunduk kecuali satu yang berada di sebelah timurnya sehingga sampai sekarang dikenal dengan sebutan gunung Bengkeng atau gunung Membangkang.
Sebagai ucapan terima kasih kepada Pangeran Atas Angin,beliau dinikahkan dengan putrinya Rubiyah Bekti. Untuk menyempurnakan ilmu ke Islamannya, beliau menunaikan haji ke Mekkah. Sepulang dari Mekkah beliau terkenal sebagai mubaligh Agung dan diberi gelar Haji Purwa/Haji Purba. Dari sejarah diatas tersebutlah nama Gunung Lawet atau Ardi Lawet yang banyak dikunjungi orang untuk berziarah, pada dasarnya adalah tempat mendekatkan diri Pangeran Syekh Jambukarang seperti halnya Rosulullah berkhalwat di Gua Hira. Nama gunung Lawet diambil dari kata Khalwat atau semedi atau dalam Islam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
A. Pangeran Syekh Jambukarang tinggal di gunung Cahyana selama 45 Tahun. Pangeran Atas Angin dengan Rubiyah Bekti berputra lima orang antara lain :
1. Pangeran Makhdum Husen Kayupuring, dimakamkan di Rajawana kecamatan Karangmoncol Kabupaten Purbalingga
2. Pangeran Makhdum Medem, dimakamkan di Cirebon
3. Pangeran Makhdum Umar, dimakamkan di Pulau Karimun.
4.Rubiyahraja, dimakamkan di Ragasela
5.Rubiyah Sekar, dimakamkan di Jambangan kabupaten Banjarnegara.
Kekeramatan dan kesaktian Syekh Jambukarang dengan ijin Allah SWT adalah Pecinya dapat terbang keangkasa Menumpuk telur satu persatu kemudian mengambilnya satu persatu dari bawah namun tidak jatuh. Dapat membaca surat-surat Al Qur’an yang tidak bertulis Gunung-gunung tunduk saat beliau diwejang ilmu Kewalian Menggandeng air keudara tidak tumpah Asal usul Nur atau Cahaya Dengan kodrat dan irodat Allah SWT maka muncullah Nur atau Cahaya digunung Panungkulan.
Menurut riwayat, yang bisa menemukan Nur hanyalah Pangeran Jambukarang dan Pangeran Atas Angin yang sebenarnya adalah keturunan Rosulullah dari Sayidina Ali dengan Fatimah. Hal ini dapat kita cermati dari kutipan wasiat Pangeran Atas Angin kepada Pangeran Jambukarang yang berbunyi sebagai berikut :
“Penget pengendikanipun susuhunan Atas Angin dumateng Ratu Jambukarang. Ingsun karso wirayat wirayatipun kanjeng Rosulullah SAW, pengendikanipun : Anak putu Ingsun kabeh, lamon ing besuk ana cahya ing Nusa Jawa, sundul ing langit, putih rupane sira dikebat, ambedag, karena cahya tuwuh ing ardi Panungkulan, ya pusering Nusa Jawa. Iku metu angejawi cahya merdeka dewe, ya merdikaning Allah, ya susuhunan Ratu rupaneing besuk retno kumala inten jumamen”
Artinya :
Wasiat susuhunan atas Angin kepada Ratu Jambukarang. Kami mempunyai wasiat dari Rosulullah SAW, bersabda : semua anak cucu kami apabila dikemudian hari muncul Nur tiga buah menjulang tinggi ke angkasa berwarna putih di Pulau Jawa, segeralah kamu mencari dan mendatangi Nur tersebut yang timbul digunung Panungkulan. Itulah Pusat Pulau Jawa, munculnya Nur itu dengan sendirinya, ya dengan ijin Allah SWT . ya sebagai Ratu sesembahan.
Dikemudian hari akan menjadi pembawa cahaya penegak kebenaran (pembawa Agama Islam) Setelah Syekh Jambukarang wafat, perjuangannya diteruskan oleh keturunannya yakni Pangeran Makhdum Husen.
B. Makam Wali Pangeran Makhdum Husen (Kayu Puring) Pangeran makhdum Husen adalah cucu Pangeran Jambukarang dari Rubiyah Bekti yang dikawinkan dengan Pangeran Atas Angin. Pengeran Makhdum Husen menggantikan ayah dan kakeknya memimpin Cahyana.
Sejak masa Pangeran Jambukarang, kerajaan Pajajaran tidak senang daerah Cahyana berkembang karena berlainan pandangan yang pada masa itu Pajajaran menganut ajaran Hindu. Masa Pangeran Makhdum Husen, Pajajaran menyerang Cahyana dengan kekuatan besar dibawah pimpinan maha patih Pajajaran. Berkat pertolongan Allah SWT serta keberanian Pangeran Makhdum Husen beserta pengikutnya, Pasukan Pajajaran dapat dipukul mundur. Disinilah kekeramatan Pangeran Makhdum Husen antara lain: Malam hari beliau menjalankan Sholat Hajat, keesokan harinya berdatangan ribuan lebah menyerang tentara Pajajaran sehingga mereka lari tunggang-langgang meninggalkan Cahyana. Sisa-sisa tentara Pajajaran banyak yang terhenti disebelah barat sungai. Dengan serta merta datanglah makhluk halus (jin) menghancurkan mereka. Oleh karena itu sebagai peringatan atas kejadian tersebut sungai itu diberi nama sungai Mulih yang artinya Sungai Pulang, tempat dimana sisa-sisa tentara Pajajaran Pulang tanpa membawa hasil apapun. Para santri dengan gigih melakukan perlawanan, meraka memanjatkan Do’a yang hingga kini terkenal dengan nama Braen. Braen ini tiap hari-hari besar Islam dikumandangkan di semua wilayah Cahyana atau juga sering dikumandangkan untuk acara hajatan. Sekarang kesenian Braen banyak dilakukan oleh orang-orang perempuan. Dengan bunyi terbang, Do’a yang berbentuk syair nyanyian terdiri dari kurang lebih 50 bait ini berkumandang dipimpin oleh seorang yang disebut Rubiyah. Isi dari syair Braen ini antara lain tentang Sejarah Pendidikan Islam, Ketauhidan dan sebagainya.
Dibawah ini kutipan dari syair Braen yang berisi Do’a Tulung matulung tulung Tuhan Para wali lilirna nyawa nira Lilirna ing jagate kalawan Allah Para wali bukakna lawang ing sapa’at Nabi Lawang sapa’at Allah lan Nabi Artinya Mohon pertolongan kepada Allah Para wali supaya membangkitkan semangat Membangkitkan dunia dengan perintah Allah Para wali supaya membuka pintu pertolongan Yaitu safa’at Allah dan Nabi. Setelah meninggal Pangeran Makhdum Husen dimakamkan di Desa Rajawana kecamatan karangmoncol kabupaten Purbalingga. Sampai sekarang banyak para peziarah dating ke makam beliau yang terletak disebelah selatan Gunung Lawet atau tepatnya di pintu masuk Desa Panusupan menuju Gunung Lawet dimana disitu adalah tempat Pangeran Jambukarang pertama menerima Ilmu Kewalian dari Pangeran Syekh Atas Angin.
C. Makam Wali Pangeran Makhdum Prakosa Pangeran Makhdum Prakosa adalah cucu Pangeran Makhdum Husen, putra Pangeran Jamil. Masa itu adalah masa dimana para Wali Sanga menyebarkan ajaran Agama Islam ditanah Jawa. Dimasa itu pemerintahan Demak berdiri dan mempunyai hubungan baik dengan Cahyana. Sejarah menyebutkan bahwa Pangeran Makhdum Prakosa ikut andil besar dalam pembangunan Masjid Agung Demak. Beliau bersama Sunan Kalijaga mendapat bagian membuat Saka Guru Masjid yang terkenal dengan sebutan Saka Tatal yang artinya saka yang terbuat dari serpihan-serpihan kayu. Begitu pula dengan penentuan arah kiblat, Pangeran makhdum Prakosa juga turut memberi sumbangan yang besar dan bahkan beliaulah dengan ijin Allah menggunakan palu besar meluruskan arah kiblat Masjid Demak.
Dari peristiwa itulah Pangeran Makhdum Prakosa mendapat sebutan Prakosa yang artinya Perkasa (kuat) Hubungan Demak dengan Cahyana semakin erat, lebih-lebih Demak mengakui kemerdekaan atas bumi Cahyana. Cahyana mendapatkan bantuan guru / Mubaligh dari demak hingga sang guru meninggal di Cahyana. Sekarang makamnya masih ada. Adapun mengenai pengakuan Demak terhadap kemerdekaan bumi Cahyana tertuang dalam piagam sebagai berikut :
Penget laying kang iki pangeran Sultan ing Demak Kagaduha dening paman Makhdum Wali Prakosa ing Cahyana. Mulane anggaduh laying ing ingsun dene ngrowangi melar tanah ing Jawa, sun tulusaken pamardikane pasti lemah peperdikaning Allah, tan taha ana angowahana ora sunwehi suka khalal dunya akhirat, ana anak putu hamba anganiaya muga kena ing kutukaning allah lan oelh bebenduning para wali kang ana ing Nusa Jawa. Esti yen peperdikaning Allah.
Artinya :
Bahwa kami sebagai Sultan Demak, memberikan tanda piagam ini kepada paman Makhdum Wali Prakosa di Cahyana. Mengingat bahwa yang bersangkutan telah membantu menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa, kami tetapkan langsung kemerdekaannya. Pasti ini tanah benar-benar merdeka karena Allah. Barang siapa berani merubah, kami tidak halalkan dunia dan akhirat. Bila ada anak cucu kami yang berani merusak, semoga mendapat kutukan dari Allah dan semua Wali di Pulau Jawa. Bahwa benar-benar merdeka karena Allah SWT.
Pangeran Makhdum Prakosa meninggal dan dimakamkan di Desa Pekiringan Kecamatan Karangmoncol Kabupaten Purbalingga
D. Makam wali Pangeran Makhdum Cahyana Pangeran makhdum Cahyana adalah putra Pengeran agiyana di ampel Denta. Beliau menantu Pangeran makhdum Prakosa. Alkisah Pangeran Makhdum Cahyana akan pergi menunaikan ibadah Haji ketanah suci. Beliau berangkat dari Ampel singgah di Cirebon. Lama tinggal di Cirebon, saudara perempuannya diambil istri oleh sultan Cirebon. Karena suatu hal tang tidak baik, Pangeran Makhdum Cahyana bersama saudara perempuannya pergi melarikan diri Kesultanan Cirebon secara diam-diam. Dari Cirebon beliau mengambil jalan melalui hutan belantara. Akibat lama perjalanan di hutan belantara, Pangeran Makhdum Cahyana banyak mengalami luka dan sampailah beliau di Cahyana. Beliau lama tinggal disana dan menjadi santri pangeran Makhdum Prakosa. Beliau dikenal dengan sebutan santri Gudig karena luka-luka yang banyak disekucur tubuhnya.
Pangeran Makhdum Prakosa sangat sayang pada beliau hingga putrinya yang bernama Pangeran Estri dijodohkan dengan beliau. Beliau dikenal karena memiliki kekuatan yang tinggi antara lain : bias menghilang hingga musuh tidak dapat melihatnya,dapat menggiring batu layaknya binatang ternak menggunakan ranting pohon waru dan waktu beliau tidur, pakaiannya bercahaya seperti api. Disamping itu beliau juga pandai bertani dan Mencari ikan di sungai. Pangeran Makhdum Cahyana meninggal dimakamkan di Suro Desa Grantung Kecamatan Karangmoncol Kabupaten Purbalingga.
Peninggalan-peninggala beliau antara lain : Lumbung padi, langgar Sholat, sorban berwarna hijau muda, sorban berwarna hitam, kain lurik kepyur, Kain batik barong, kitab-kitab, ceret tembaga, kendil, terbang, golok. Barang-barang tersebut sekarang masih tersimpan di Pemakaman beliau.
E. Kyai Pekeh/Fakih dan Mas Barep Keduanya adalah putra Pangeran makhdum Tores yang dimakamkan di Bogares kabupate Tegal, kemenakan dari Pangeran Makhdum Prakosa. Sesudah Pangeran Makhdum Cahyana wafat, maka Kyai Pekeh dan Barep menggantikan pimpinan daerah Cahyana. Pada masa ini timbul pembagian pimpinan keluarga Cahyana menjadi dua kepala keluarga dari keluarga keturunan Pangeran Jambukarang. Beliau meninggal dan dimakamkan di Suro Desa Grantung kecamatan Karangmoncol kabupaten Purbalingga.
SYEH JAMBU KARANG
Saat pemerintahan Kadipaten Onje mencapai puncak kejayaannya, ke pelosok-pelosok yang jauh dari keramaian. Mereka tinggal berbulan-bulan, bahkan ada yang terus menetap dan kawin dengan penduduk setempat. Selama itulah mereka akrab bergaul dengan penduduk sehingga mempunyai kesempatanbaik untuk menyiarkan agama Islam.
Diatara mereka terdapat pula salah seorang putera Pejajaran bernama Raden Liman Sujana. Kedatangan Raden Liman Sujana buka untuk menyiarkan agama Islam atau mencari keuntungan melainkan ia bermaksud mencari nur (cahaya).
Raden Liman Sujana adalah adik kandung Banyak Sasra ayah dari Wargautama II (Bupati Banyumas pertama). Ia sebenarnya berhak menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Pejajaran. Namun kedudukan itu ditolak, setelah diketahui Pejajaran sedang menghadapi keruntuhan akibat pengaruh Islam yang dibawa oleh Yusuf Maulana dari Banten. Karenanyaia lalu meninggalkan Pejajaran dan pergi ke Banten bertapa dibawah pohon jambu dilereng Gunung Karang. Dari tempat inilah Raden Liman Sujana melihat ada nur (cahaya) disebelah timur.
Segera ia beranjak dari pertapaannya dan menuju ke timurdengan menyusuri pulau jawa sebelah utara. Sesampainya di daerah Tegal, ia membelok ke Selatan dimana nur itu tampak dekat sekali. Ditengah hutan gunung Munggul bukannya ia menemukan nur yang dicarinya, tetapi ketemu seorang penderes bernama Ki Kelun yang sedang memanjat pohon enau sambil menggendong anaknya yang masih kecil, Rubiah Bhekti namanya. Ki Kelun mengaku dari desa Wanakasimpar yang kemudian berganti nama desa Pamidangan dan sekarang namanya Rajawana.
Menurut legenda, Ki Kelun adalah seorang yang ditempatkan di desa (Wanakasimpar) oleh seorang alim ulama seperti halnya Ki Tepus Rumput di gerumbul Pengalasan Kulon. Tetapi setelah melahirkan Rubiah Bhekti, istri Ki Kelun meninggal dunia. Karena kasihan, Raden Liman mengambil Rubiah Bhekti, sebagai anak angkat. Bertahun-tahun Raden Liman Sujana tinggal di hutan. Suatu hari ia ketemu dengan seorang Arab bernama Syeh Wali Rakhmat. Pendatang baru ini mengaku akan mengislamkan tanah jawa.
Raden Liman Sujana dan Syeh Wali Rakhmat kemudian saling berbantahan, masing-masing mengeluarkan kecakapannya. Tetapi Raden Liman Sujana akhirny amenyerah kalah. Atas kemenangannya, Syeh Wali Rakhmat secara bijaksana meminta agar Raden Liman Sujana bersedia menganut agama Islam. Dengan ketulusan hati permintaan itu dapat dipenuhi, bahkan Rubiah Bhekti yang sudah dewasa agar diambil oleh Syeh Wali Rakhmat sebagai isteri.
Sebagai seorang yang telah menganut Islam, Raden Liman Sujana berganti nama menjadi Syeh Jambukarang. Nama ini mungkin ada kaitannya, karena I pernah bertapa dibawah pohon jambu dilereng Gunung Karang Banten. Hutan dimana ia selama bertahun-tahun tinggal, disebut desa Cahyana. Mereka lalu hijrah dan menetap di desa Rajawana yang hingga sekarang merupakan basis para santri di daerah Purbalingga. Syeh Jambukarang bermakam di desa Penusupan Purbalingga yang sekarang dikenal sebagai makam Ardilawet.
Nya Rubiah Bhekti yang bermakam di desa Kramat Kecamatan Karangmoncol, dalam perkawinannya dengan Syekh Wali Rakhmat menurunkan:
1. Pangeran Mahdum Kusen, bermakam di Rajawana;
2. Pangeran Mahdum Medem, bermakam di Cirebon;
3. Pangeran Mahdum Umar, bermakam di Pulau Karimun Jawa;
4. Nyai Rubiah Razak, bermakam di Ragasela Pekalongan;
5. Nyai Rubiah Sekar, bermakam di Jembangan Gunung Wuled.
Setelah usia mencapai 45 tahun, Syekh Wali Rakhmat kembali lagi ke Arag dan pimpinan daerah Rajawana digantikan oleh putera sulungnya taitu Pangeran Mahdum Kusen.
Artikel Kanti Suci Project


