Kiai Muhammad Shodiq Sang Zahid dari Kapurejo Pagu Kediri Jatim
Mbah Shodiq, sapaan akrab masyarakat sekitar terhadap tokoh yang terkenal dari Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri Jawa Timur.
Nama lengkapnya Muhammad Shodiq, pengasuh generasi ke 3 di Pondok Pesantren Salafiyah dusun Kapurejo Desa Pagu Kabupaten Kediri Jawa Timur. Mbah Sodiq lahir pada tahun 1921 dengan nama lengkap Muhammad Hayyin, putra ke 4 dari 9 bersaudara pasangan Kiai Yasir dan Nyai Umi Kultsum.
Secara silsilah dari jalur ibu, Nyai Umi Kultsum adalah putri dari Kiai Hasan Muhyi pendiri Pondok Kapurejo, dan kakak kandung dari Ibu Masruroh, istri Hadratus Syekh HAsyim Asy’ari
Sedangkan dari jalur ayah, Kiai Muhammad Yasir, merupakan salah satu santri dari Syaikhona Kholil Bangkalan.
Perubahan nama Muhammad Hayyin menjadi Muhammad Shodiq terjadi ketika beranjak dewasa, perubahan nama tersebut dilakukan oleh Kiai Yasir dengan harapan kelak ketika sudah dewasa Muhammad Shodiq menjadi orang yang banyak berbuat kebenaran.Sekolah Dasar & Menengah (K-12)
Masa belajar Muhammad Shodiq dilalui seperti halnya anak muda dan anak Kiai pada umumnya, setelah selesai belajar mengaji kepada orang tuanya, yaitu Kiai Yasir, Shodiq muda mengembara dari satu pesantren ke pesantren lainnya.
Pada tahun 1940, kakak perempuan Muhammad Shodiq, Siti ‘Aini mengikuti suaminya yaitu Kiai Abdul Fatah mendirikan pesantren di daerah Nglawak Kertosono. Shodiq muda mendapat amanat dari ibunya untuk mengikuti kakak kandungnya ke Nglawak Kertosono. Di Nglawak sambil melayani kakak kandungnya, Muhammad Shodiq belajar berbagai ilmu kepada Kiai Abdul Fatah. Cukup lama Muhammad Shodiq belajar pada kakak iparnya tersebut.
Selain belajar kitab kuning, karena pada waktu itu adalah masa-masa agresi militer Belanda dan masa awal kemerdekaan, di mana mempertahankan kemerdekaan adalah hal yang wajib sebagaimana fatwa Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari, otomatis jiwa perjuangan Shodiq muda juga bergejolak, bersama dengan teman-teman santri, acapkali Shodiq muda mengikuti gemblengan dari beberapa Kiai. Berbagai hizb, puasa mutih, ataupun amalan khas pesantren dikuasai cukup baik oleh beliau. Hal itu pulalah yang kelak menjadikan namanya cukup terkenal.
Sekitar tahun 1955, ketika pesantren Kapurejo memerlukan tenaga pendidik untuk santri, Shodiq muda kembali pulang ke Kapurejo untuk melanjutkan estafet kepemimpinan pesantren.
Bersama dengan saudara-saudaranya yang lain, Muhammad Shodiq membuat inovasi pendidikan di pesantren Kapurejo, apalagi setelah kakak kandungan Kiai Mawardi yang merupakan penggagas sistem madrasah meninggal dunia, Kiai Shodiq semakin intens memimpin pendidikan di pesantren Salafiyah Kapurejo.
Kiai Shodiq mendapat amanah dari keluarga besar pesantren untuk menjadi kepala sekolah. Beberapa inovasi yang dilakukan adalah dengan membuat sistem pendidikan madrasah di bawah naungan pesantren Salafiyah. Yang diberi nama Madrasah Islam Salafiyah (MIS).
Sejajar dengan Madrasah Diniyah Ula ini menampung siswa dari masyarakat sekitar Pagu dan meluber hingga ke luar wilayah kecamatan, Madrasah ini berkembang dari tahun ke tahun. Yang unik dari lembaga ini, adalah tidak ada sekat pemisah antara santri laki-laki dan santri perempuan dalam proses belajar.
Selain itu, kegiatan ekstra kurikuler seperti seni hadrah, drumband menjadi pelengkap kurikulum pendidikan di MIS. Dalam setiap even kegiatan, baik yang diselenggarakan oleh NU maupun pemerintah daerah, seperti upacara HUT Kemerdekaan RI, drumband

