SIAPA NAMA ROH KITA ?
Pertanyaannya, “Apakah kita memiliki nama Roh dan sepenting apa kita mengenal nama roh tersebut ?”
Barangkali pertanyaan ini muncul seiring persoalan yang kini sedang hangat terkait polemik nama Roh dari seorang da’i muda yang sedang viral dan naik daun akhir-akhir ini. Semoga Allah menjaga dan melindungi beliau.
Ok! Saya tidak ingin masuk dalam ranah polemik tersebut atau memaksakan diri masuk dalam ranah persoalan ilmu roh yang agak “langka” rujukan referensinya dan hampir jarang dibicarakan oleh para ulama-ulama tasawuf sebelumnya, melainkan dari sudut pandang kajian Ilmu Roh yang berdasarkan pandangan al-Qur’an dan Hadits Nabi Saw.
Memang persoalan tentang hakikat Roh ini kemudian menjadi sempit dan semakin misterius untuk diungkap dan disingkapkan, sebab Allah Swt membatasi kekasih-Nya Muhammad untuk membukanya secara gamblang dan terbuka.
Manakala serombongan orang-orang Yahudi Madinah meminta pada pemuka Quraisy untuk mempertanyakan sekaligus menguji kebenaran kenabian Nabi Muhammad Saw, orang Yahudi meminta mereka untuk mempertanyakan tentang persoalan Roh.
Allah Swt melalui kekasih-Nya Muhammad hanya menyampaikan jawaban diplomatis melalui wahyu al-Qur’an:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang Roh, maka katakanlah bahwa Roh itu urusan Rabbku dan tiadalah kalian diberikan ilmu pengetahuan tentang itu melainkan hanya sedikit jua.” [Qs. al-Isra: 85]
Meskipun lagi-lagi, persoalan Roh ini misterius dan sulit diungkap hakikatnya, namun bukan berarti al-Qur’an menutup rapat-rapat persoalan ini. Dalam beberapa ayat di dalam al-Qur’an, Allah Swt masih membuka celah-celah kecil bagi orang yang ingin mengetahuinya.
Paling tidak, di dalam al-Qur’an terdapat 10 kali kemunculan dalam penyebutan kata Roh itu sendiri. Ada beberapa kali penyebutan istilah Roh, misalnya, dalam proses penciptaan manusia.
Dalam proses penciptaan manusia, Allah Swt sebutkan Roh itu dari-Nya atau dari hembusan Allah secara langsung dengan menggunakan kata “Nafakha” yang bermakna “Ditiupkan” atau “Dihembuskan”.
فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” [al-Hijr: 29]
Imam al-Jurjani mendefinisikan Roh itu adalah sesuatu wujud yang halus dan terdapat dalam diri manusia serta bersifat meliputi keseluruhan tubuhnya. Imam al-Aini mendefinisikan Roh itu sebagai inti kehidupan.
Jadi dari sini kita sudah mulai bisa memahami bahwa Roh itu merupakan inti dari sumber kehidupan, dengan dia adanya wujud makhluk hidup ini.
Roh adalah hembusan energi kehidupan dari Allah terhadap makhluk-Nya. Roh adalah dzat yang dikekalkan oleh Allah Swt yang kelak akan kembali hanya kepada-Nya jua.
Roh diibaratkan suplai tenaga listiknya yang menghidupkan dan menggerakkan sebuah robot. Atau baterai yang menggerakkan mesin. Atau energi hidup yang melahirkan adanya sebuah kehidupan makhluk yang bernyawa.
Namun tidak sampai di sana. Setelah proses peniupan roh tersebut, masih ada proses yang tidak kalah pentingnya, yaitu proses “Instalasi Nafs” yang menjadi spirit penggerak Roh yang telah dihembuskan tadi. “Nafs” bisa dimaknai sebagai karakter utama yang menjadi spirit manusia.
Proses inilah merupakan sebagai proses penyempurnaan penciptaan bagi manusia, yaitu pengilhaman Nafs (jiwa) baik dan Nafs buruk.
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“..dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya…”
Dari sinilah kemudian, muncul istilah lain dari Roh yaitu Nafs (Jiwa). Meskipun ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa “Roh” sama juga dengan Jiwa, seperti Ibn Arabi, namun lagi-lagi kita akan mendapati banyak pakar ulama yang membedakannya.
Bahkan, ada lagi ulama, semisal Imam al-Ghazali yang membagi Roh ini menjadi dua bagian, yaitu: “Roh” (Nyawa) dan “Qalb” (Hati). Ada lagi yang membagi lebih detail lagi menjadi beberapa bagian, yaitu “Roh”, “Nafs” (Jiwa), “Qalb” (Hati) dan “Aql” (Akal Pikiran).
Terlepas dari semua perbedaan dan pembagian di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ada perbedaan antara “Roh” dan “Nafs” (Jiwa). Adanya “Nafs” (jiwa) bergantung dengan adanya Roh. Akan tetapi, “Roh” bisa saja berdiri sendiri tanpa adanya Nafs (Jiwa).
Kita bisa lihat orang yang sedang dalam keadaan koma atau pingsan.
Rohnya tetap masih ada, meski Nafs (jiwa)-nya entah kemana, bukan ?
Adakah orang yang memiliki Roh tanpa jiwa ?
Ada!! Orang gangguan kejiwaan contoh bahwa dia memiliki roh, tapi tanpa memiliki Jiwa atau kejiwaannya sedang terganggu atau sakit, bukan ?
Adakah orang yang bisa hidup hanya bermodalkan Jiwa saja, tanpa memiliki Roh ?
Tidak ada!! Kalau ada ya itu namanya Boneka Arwah ?
Jadi dengan demikian dapatlah mulai kita pahami bahwa Roh itu menunjukkan adanya kehidupan, sedangkan Nafs itu menunjukkan signal atau pertanda dari hidupnya kehidupan itu sendiri.
Nafs ini yang telah Allah ciptakan tadi -lebih tepatnya Allah ilhamkan- dia seakan menjadi “Software” yang akan menggerakkan piranti-piranti organ, seperti akal, hati, indera penglihatan, pendengaran, penciuman untuk tunduk atau tidak tunduk pada Sang Maha Pencipta.
ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ
“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur..” [QS. As-Sajadah:9]
Nah, selanjutnya ketika “Nafs” ini tidak mudah tunduk taat pada ketentuan Tuhannya, senang bermaksiat, senantiasa memperturutkan hawa nafsunya, maka dia disebut “Nafs Amarah” atau sering kita menyebutnya dengan istilah “Hawa Nafsu”.
Bilamana “Nafs” ini kadang taat dan kadang pula bermaksiat pada Tuhannya, maka dia disebut “Nafs Lawwamah”.
Bilamana Nafs ini telah benar-benar mampu menahan dirinya untuk tidak berbuat maksiat, sepenuhnya secara totalis menundukkan dirinya pada kehendak dan aturan Tuhannya, maka pantaslah dia disebut “Nafs Muthmainnah”.
وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya..” [An-Naziyat: 40]
“Nafs al-Muthamainnah” (Nafs Suci) inilah yang kemudian dipanggil dan diseru dengan mesra oleh Allah dengan panggilan:
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya…”
Sedangkan yang dikembalikan ke alam Barzakh setelah berpisahnya antara jasad dengan “Roh” adalah “Nafs” tadi.
Bila baik dia akan mendapatkan kenikmatan, sebelum kenikmatan surga. Sebaliknya bila buruk Nafsnya dia akan mendapatkan azab kubur sebelum azab neraka.
Dimanakah Roh setelah dicabut dan berpisah dengan Jasad dan Nafs ?
Roh itu urusan Allah. Roh akan kembali pada Allah. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Dari Allah akan kembali pada Allah. Roh-roh suci akan ditempatkan di langit yang ke-7, kata Ibnu Abbas.
Maka pertanyaannya, apakah Roh memiliki nama khusus di dunia atau alam akhirat?
Apakah kita perlu mencari-cari nama Roh kita di dunia ini agar dikenali oleh penghuni langit atau para roh-roh suci?
Terkait pemberian nama Rasulullah Saw menyatakan:
إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ.
“Kelak kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perindahkan nama-nama kalian..” [HR. Abu Darda]
Maka pertanyaannya, yang bergelanyut di pikiran saya, nama-nama yang dimaksud Nabi Saw pada hadits tersebut di atas, apakah nama jasad saja, ataukah nama jasad juga sekaligus nama Roh?!!
Tentu nama jasad sekaligus nama Roh yang akan kelak dipergunakan pada hari kiamat, bukan?!!
Bukankah nama-nama yang diberikan pada kita oleh orang tua kita dulu juga diberikan saat kita memiliki Roh, Nafs dan Jasad?!!
Bukankah sighat tasmiyyah itu redaksinya demikian, “Sammaituka ya ghulam bima sammakallah fi Lauhil Mahfudz fulan bin fulan/fulanah binti fulanah..” (kami beri engkau nama, wahai anak bayi, sebagaimana Allah nama yang tertulis di Lauhul Mahfudz..)
Demikian setelah kematian kita pun orang akan menyebut nama kita sebagaimana nama-nama jasad yang dikenal sewaktu masih hidup di dunia, bukan ?
Misalnya, “Al-Fatihah ila rouh fulan bin fulan..”
Nisan kita ditulis nama jasadkah atau nama roh?
Nama Roh dari bahasa Arab kah atau berbagai bahasa di dunia? Bukankah Roh bersifat netral, suci dan universal?
Ketika menafsirkan ayat:
﴿ألَسْتُ بِرَبِّكم قالُوا بَلى شَهِدْنا﴾
Al-Imam Fakhru ar-Razie pada tafsirnya berpanjang lebar menjelaskan bahwa ikatan perjanjian roh-roh manusia sewaktu di alam roh, memang pernah terjadi, meski tidak ada sedikit pun menyinggung persoalan “Nama-Nama Roh” meskipun jamak para mufassir menyatakan peristiwa tersebut terjadi di alam Arwah (bentuk plural dari Roh).
Demikian jika kita merujuk pada karya tafsir sufistik, seperti kitab “al-Bahr al-Madid” karya Ibn Ajibah pun, beliau hanya menyebutkan bahwa penyaksian itu dilakukan dalam hal keadaan roh-roh itu masih dalam keadaan suci.
Jalan tengahnya sebagai berikut ;
Sekiranya ada nama lain atau alias pun tentu identitasnya tidak akan terlepas pada nama jasad sewaktu masih hidup di dunia, bukan?
Artinya, sekiranya memang kita boleh jadi menerima ada “Nama Roh” bagi setiap orang -berdasarkan pengetahuan seorang Wali berpangkat Ghahuts- maka boleh jadi nama itu bukan nama utama yang dipanggil dengan nama itu dalam perkara-perkara ibadah semasa hidupnya atau selepas kematiannya, misalnya penyebutan nama almarhum untuk menghadiahkan bacaan al-Qur’an atau perkara badal haji atau badal shaum.
Jika sumber rujukan utama “Nama Roh” itu berdasarkan “Nama Roh Ahmad” ketika masih di dalam alam arwah, dan kemudian terlahir dalam bentuk fisik dengan “Nama Jasad Muhammad”, sampai di sini saya masih bisa melandaskan pada dasar ucapan Nabi:
اسمي أحمد في السماء واسمي محمد في الأرض
“Namaku Ahmad di langit dan Muhammad di bumi..”
Tapi hal itu, nampaknya hanya berlaku masyhur di kalangan para Nabi, keturunan ahli bait Nabi serta orang-orang shaleh dari kalangan Awliya dan Shiddiqin. Bagaimana para pendosa yang memiliki “Nama Roh” yang indah, misalnya nama rohnya “Maulana Abdul Rahim al-Arasy”, tapi hingga akhir hayatnya tiada bertaubat dari maksiatnya?
Memang sekiranya jika kita tetap ingin hubung-hubungkan dengan periwayatan semacam ini boleh jadi juga ada dari periwayatan Imam Bukhari, Nabi Saw bersabda:
إذا أحبَّ الله العبدَ نادى جبريل: إن الله يحبُّ فلانًا فأحبِبْه، فيحبه جبريل، فينادي جبريل في أهل السماء: إن الله يحب فلانًا فأحِبُّوه، فيحبه أهل السماء، ثم يوضع له القبول في الأرض
“Apabila Allah mencintai seorang hamba maka ia menyuruh Jibril. Sesungguhnya Allah mencintai Fulan maka cintailah ia, maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru penduduk langit:
”Sesungguhnya Allah mencintai Si Fulan maka cintailah ia, maka penduduk langit pun mencintainya, kemudian menjadi orang yang diterima di muka bumi.” (HR Al Bukhari).
Dengan dasar kecintaan itulah, kemudian boleh jadi, Allah Swt memberikan nama-nama khusus atau gelar pangkat kehormatan atas hamba yang dicintai itu atas para wali-Nya itu yang kemudian ditenggarai sebagai sebuah “Nama Roh”.
Namun hal itu sekali lagi, haruslah diperoleh dengan cara kesungguhan dan keistiqamahan serta keikhalasan para wali tersebut beribadah, bukan diperoleh dengan mudah dan gampang oleh semua orang awam. Apalagi dicari-cari apa dia punya nama rohnya?
Walhasil, persoalan nama-nama roh bukanlah masuk pada bab ranah akidah yang harus dan wajib dipercayai atau tidak boleh diinkari. Bagi yang mempercayai silahkan, tapi bagi yang tidak mempercayainya juga tidak ada masalah. Tergantung pada pilihan masing-masing.
Namun, sependek pembacaan saya pada kitab karya Sulthanul Awliya Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang berjudul “Sirrul Asrar wa Madzhar al-Anwar fiima Yahtajul Ilaihi al-Abrar” yang katanya di sana ada memuat pembahasan tentang “Nama-Nama Roh”, belum saya temukan pembahasan tersebut, melainkan nama terbanyak yang muncul dan disebutkan oleh Syekh Abdul Qadir Jaelani hanyalan “al-Asma at-Tauhid”. Mungkin saya yang kurang cermat.
Bagaimana pun saya tetap menjadi pengagum keilmuan beliau, saya tetap mencintai beliau, meski dalam masalah nama roh ini saya agak kebingungan untuk harus belajar kemana lagi, dan ke sosok wali Ghauts mana kah kami harus mencari nama roh kami, wahai guru ? (Kutipan dari : Tg. DR. Miftah el-Banjary, MA)
ISMU RUH DALAM PRESPEKTIF AL QUR'AN DAN HADIS
Beberapa bulan lalu santer di media sosial isu ismu ruh (nama roh) yang muncul dari kajian ustaz yang akrab dipanggil Buya (BAH).
Beberapa kawan bertanya kepada penulis terkait isu di atas. Karena itu dan demi amanah ilmiah serta demi mengharap ridha Allah dan Rasulullah, maka menjadi penting isu tersebut untuk dijelaskan kepada umat.
Jamak diketahui jika terjadi polemik di tengah-tengah umat, maka solusinya dikembalikan kepada standar kebenaran absolut yaitu al-Quran dan Hadis. Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu bersilang pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (Hadis), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. al-Nisa [3]: 59)
Makna Ruh dalam al-Quran
Karena itu, apabila kita merujuk kepada al-Quran dan Hadis maka tidak akan kita temukan term ismu ruh. Adapun kata ruh sendiri dalam al-Quran disebutkan 21 kali, di antaranya menunjuk kepada Malaikat Jibril (QS. al-Syu’ara’ [26]: 193), ada yang bermakna al-Quran (QS. al-Syura [62]: 52), ada juga yang bermakna jiwa/roh (QS. al-Isra’ [17]: 85). Demikian juga dalam al-Kutub al-Sittah (Enam kitab induk hadis) tidak kita temukan istilah ismu ruh secara eksplisit maupun implisit.
Kalimat Ruh dalam Hadis
Sedangkan kata ruh sendiri disebutkan secara eksplisit di antaranya dalam Sahih al-Bukhari nomor 125 dan 4721; Abdullah bin Mas’ud RA (w. 32 H) meriwayatkan sedang jalan-jalan dengan Rasulullah di kota Madinah. Berpapasan dengan orang-orang Yahudi. Sebagian mereka berkata ke yang lain agar mengetes Nabi tentang ruh. Segolongan yang lain berkomentar agar jangan mengetesnya sehingga nantinya ia akan mendatangkan sesuatu yang mereka benci (bisa menjawab yang berarti ia memang seorang Nabi). Tapi sebagian yang lain ngotot mau mengetes Rasulullah. Berdirilah salah satu dari mereka sembari bertanya: “Wahai Aba al-Qasim (Muhammad), apa itu ruh?” Nabi diam. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata “Tampaknya akan turun wahyu kepadanya (sebagai jawaban)”. Lalu wahyu (QS. al-Isra’ [17]: 85) turun, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah (Muhammad)! Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.
Tafsir Ruh Menurut Ulama
Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H/1449 M) dalam Fathul Bari, 8/468-471 menjelaskan hadis di atas bahwa tafsir tentang ruh sangat variatif hingga konon mencapai 100 pendapat, tetapi yang paling sahih hanya Allah yang tahu (mimma ista’tsara Allahu bi ’ilmihi) tidak ada yang tahu/diberi tahu hakikat ruh hatta para Rasul dan para wali-Nya. Inilah pendapat yang dipegang Salafussaleh.
Hikmahnya menurut Ibnu Baththal (w. 449 H/1057 M) sebagai ujian bagi makhluk bahwa mereka lemah, ada sesuatu yang tidak mereka ketahui secara pasti yang mau tidak mau harus dikembalikan hakikatnya kepada Yang Maha Mengetahui.
Sementara menurut al-Qurthubi (w. 671 H) hikmahnya untuk menampakkan kepada manusia bahwa sejatinya mereka makhluk yang lemah, karena jika mereka tidak tahu hakikat dirinya sendiri maka apalagi hakikat Tuhannya.
Kedua, jika kajian ismu ruh memang ada dan bagian syariat Islam yang seyogyanya dipelajari dan diketahui umat, maka sudah semestinya Rasulullah mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya. Realitanya, ketika Nabi mempunyai anak, tidak satu pun dari mereka yang diberikan ismu ruhnya. Seperti Sayyidah Fathimah semenjak dia lahir hingga Nabi menjelang wafat tidak diajarkan nama ruh. Demikian pula para Sahabat. Tidak diketahui dalam sirah nabawiyah maupun tarikh sahabi ajaran ismu ruh.
Dalil Hadis Tentang Ruh
Yang tercatat dalam sirah nabawiyah hanya pemberian ismu jasad (nama jasad), seperti hadis riwayat Imam Muslim no. 2315 Nabi bersabda: “Tadi malam telah lahir anak lanang saya. Lalu saya beri nama dengan nama ayahku (leluhur), (Nabi) Ibrahim”. Dalam Syarah Sahih Muslim dijelaskan hadis ini menunjukkan dibolehkannya dua hal, pertama pemberian nama bayi di hari pertama ia lahir, kedua dibolehkannya memberi nama bayi dengan nama para nabi. Sementara menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H/1350 M), sunnah pemberian nama (jasad) bayi di hari ketujuh.
Nah, di sini jelas Nabi tidak memberi nama ruh kepada anaknya yang baru lahir semalam, hanya memberi nama jasadnya dengan nama Ibrahim. Ketiga, BAH mendasarkan kajian ismu ruh kepada kitab al-Ghunyah 2/270 karya Syekh Abdul Qadir al-Jilani (w. 561 H/1166 M). Sayangnya, dalam teks tersebut tidak disebutkan ismu ruh, teksnya hanya berbunyi bi asma’ (nama-nama) tanpa ada mudhaf ilaihi (imbuhan) kata ruh.
Teks Asli al-Gunyah
Sejatinya teks al-Ghunyah tersebut berbicara tentang orang yang sudah mencapai level/maqom murad (yang dikehendaki menjadi waliyullah/kekasih Allah) maka Allah akan memberinya alqab (gelar) dan asma’ spesial yang tidak diketahui kecuali oleh Allah (wa yulaqqabu bi alqabin… wa yusamma bi asma’ la ya’lamuha illallah, teks lengkap). Sejurus kemudian BAH mentakwil (interpretasi) teks tersebut dengan berargumen bahwa bukan hanya Allah saja yang mengetahuinya tetapi para nabi dan para waliyullah juga bisa tahu jika diberi tahu oleh Allah. Masalahnya, Allah berkehendak untuk tidak memberitahu siapa pun, baknya hari Kiamat tak satu pun yang mengetahui dan diberitahu Allah kapan terjadinya.
Ruh dalam KajianTafsir al-Jilani
Sementara itu di dalam kitabTafsir al-Jilani karya Syekh Abdul Qadir yang sudah ditahqiq/disunting dan diterbitkan beberapa tahun silam ketika menafsiri QS. al-Isra’ [17]: 85 ia sama sekali tidak menyinggung ismu ruh justru ia menegaskan, “Adapun mengenai kuantitas ketetapan dan kualitas eksistensinya (ruh), maka itu merupakan perkara yang sepenuhnya ada di tangan Allah dalam kegaiban-Nya tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Dan kalian tidak diberi [Wahai keturunan Adam] sebagian pengetahuan yang berhubungan dengan roh [hanya sedikit], yaitu hanya sebatas tujuan dan eksistensinya tanpa mengetahui esensi dan hakikatnya”.”
Penjelasan Ismu Ruh oleh Keturunan Syekh Abdul Qodir
Di kesempatan lain, Prof. Fadhil al-Jilani yang merupakan keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani ke-25 sekaligus pentahqiq kitab-kitab kakeknya termasuk kitab al-Ghunyah saat diwawancari via telpon menegaskan bahwa Syekh Abdul Qadir tidak pernah mengajarkan ismu ruh atau dalam narasi lain tidak ada ismu ruh dalam ajaran tarekat Al-Qadiriyah. Bahkan ia menyatakan orang tersebut telah berdusta atas nama Syekh al-Jilani dan atas nama Rasulullah.
Asma’ dalam Perspektif Kitab Tasawuf
Dari perspektif tasawuf sendiri jika kita membuka kitab al-Futuhat al-Makkiyah 3/12 dan ‘Anqa’u Maghrib 3/277 karya sufi agung Andalusia, Ibnu Arabi (w. 638 H/1240 M) maka ia menegaskan bahwa al-asma’ di sana bukan ismu ruh tetapi ismu shifat (nama sifat atau nama gelar dan kehormatan), “wa lahum min al-asma’i asma’ush shifat; faminhum Abdul Hayy, Abdul Halim, Abdul Wadud, Abdul Qadir”, mereka (wali autad atau wali pasak) diberi (oleh Allah) nama sifat atau nama kehormatan seperti Abdul Hayy (hamba Zat Yang Maha Hidup), Abdul
Halim (hamba Zat Yang Maha Penyantun), Abdul Wadud (hamba Zat Yang Maha Pengasih), Abdul Qadir (hambanya Zat Yang Maha Kuasa).
Di samping itu, untuk menverifikasi kesahihan suatu ajaran tarekat misalnya ismu ruh maka sebagaimana disampaikan oleh guru kami Prof. Ali Mustafa Yaqub ada dua aspek yang perlu diteliti yaitu, substansi (matan) dan sanad (silsilah keguruan yang tersambung sampai Rasulullah).
Secara substansi tidak dibenarkan ajaran yang menyatakan dengan memiliki/mengetahui ismu ruh seseorang akan semakin shaleh dan mendapatkan syafaat Rasulullah. Ini jelas menyalahi dua parameter di atas bahwa kesalehan seseorang diukur dari ketakwaannya bukan karena memiliki atau tidak memiliki ismu ruh.
Salah Sandaran dan Pemahaman
Sementara secara sanad BAH tersambung ke atas dengan seseorang yang kerap dipanggil dengan Maulana (AAB) yang sosoknya dianggap oleh BAH sebagai wali Malamatiyah yang maqamnya sudah al-Ghouts, yaitu wali yang tertinggi di seluruh dunia di jaman sekarang, yang kini sosok tersebut tinggal di daerah Jakarta Timur.
Sedangkan menurut kesaksian para tokoh dan ulama yang tak berkenan disebut namanya, sosok Maulana tersebut adalah sosok yang tidak tsiqah (tidak adil dan tidak terpercaya) dan tidak memiliki sanad keguruan sampai Rasulullah.
Untuk menyikapi ini, maka dikenal dalam ulumul hadis satu kaidah, jika terjadi al-jarh wat ta’dil (antara yang mencela dan yang membela) maka didahulukan yang mencela dengan syarat dijelaskan letak cacat dan aibnya. Jika tidak dijelaskan cacatnya maka ta’dil diunggulkan.
Walhasil, setelah ditimbang dengan dua sumber syariat Islam, al-Quran dan Hadis dan dari prespektif tasawuf sendiri maka kajian ismu ruh adalah kajian yang dipaksakan ada.
Menurut Gus Qoyyum kajian ismu ruh adalah paralogisme yaitu kondisi sesat berpikir tapi tidak sadar kalau pikirannya salah dan sesat karena berbicara mistik.
Gus Baha’ mengingatkan “kesalehan” atau tarekat yang tidak kuat syariatnya akan melahirkan “fantasi-fantasi subjektif” yang menyimpang, jika dibiarkan akan melahirkan tragedi-tragedi syariat. Seperti aqiqah ruh, kafarat ruh, tanazul ruh, muallimi dll. (Kutipan dari : Ustadz Dr H Alvian Iqbal Zahasfan MA)
9 JENIS ROH MANUSIA
Menurut ilmu batin yang disampaikan turun temurun kepada diri keturunan manusia, terdapat 9 jenis Roh. Nampaknya ada Roh di dalam Roh di dalam Roh.
Masing-masing Roh mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Ke sembilan macam roh yang ada pada manusia itu adalah sebagai berikut:
1. Roh Idofi (Roh Ilofi)
Ia adalah roh yang sangat utama bagi manusia. Roh Idofi juga disebut ”JOHAR AWAL SUCI”, kerana roh inilah maka manusia dapat hidup. Bila roh tersebut keluar dari raga, maka manusia yang bersangkutan akan mati. Roh ini sering disebut ”NYAWA”.
Roh Idofi merupakan Roh Sumber dan dari roh-roh lainnya pun akan turut serta jika roh ini ada. Kalau salah satu roh lain keluar dari raga, maka roh Idofi tetap akan tinggal di dalam jasad dan tidak terkesan. Dan manusia itu tetap hidup.
Bagi mereka yang sudah sampai pada irodat allah atau kebatinan tinggi, tentu akan mampu menjumpai dan melihat roh ini dengan penglihatannya. Dan wujudnya pula mirip diri sendiri, baik rupa maupun suara serta segala sesuatunya. Bagai berdiri di depan cermin.
Meskipun roh-roh yang lain juga demikian, tetapi kita dapat membezakannya dengan roh yang satu ini kerana tampaknya lebih dominan. Secara lumrahnya roh idofi berupa nur terang benderang dan rasanya sejuk tenteram (bukan dingin). Tentu saja kita dapat menjumpainya bila sudah mencapai tingkat “INSAN KAMIL”.
2. Roh Rabani
Roh yang dikuasai dan diperintah oleh roh idofi. Umumnya roh ini ada dalam cahaya kuning diam tak bergerak. Bila kita berhasil menjumpainya maka kita tak mempunyai kehendak apa-apa. Hatipun terasa tenteram. Tubuh tak merasakan apa-apa.
3. Roh Rohani
Roh inipun juga dikuasai oleh roh idofi. Kerana adanya roh Rohani ini, maka manusia memiliki kehendak dua rupa. Kadang-kadang suka sesuatu, tetapi di lain waktu ia tak menyukainya. Roh ini mempengaruhi perbuatan baik dan perbuatan buruk. Roh inilah yang menepati pada 4 jenis nafsu, iaitu :
• Nafsu Luwamah (aluamah)
• Nafsu Amarah
• Nafsu Supiyah
• Nafsu Mulamah (Mutma’inah).
Kalau manusia ditinggalkan oleh roh rohani ini, maka manusia itu tidak mempunyai nafsu lagi, sebab semua nafsu manusia itu roh rohani yang mengendalikannya.
Maka, kalau manusia sudah mampu mengendalikan roh rohani ini dengan baik, ia akan hidup dalam kemuliaan. Roh rohani ini sifatnya selalu mengikuti penglihatan yang melihat. Di mana pandangan kita ditempatkan atau ditujukan, di situlah roh rohani tertumpu. Sebelum kita dapat menjumpainya, terlebih dulu kita akan melihat bermacam-macam cahaya bagai kunang-kunang. Setelah cahaya-cahaya ini menghilang, barulah muncul roh rohani itu.
4. Roh Nurani
Roh ini di bawah pengaruh roh-roh lain termasuk roh Idofi. Roh Nurani ini mempunyai pembawa sifat terang. Kerana adanya roh ini, ia menjadikan manusia yang bersangkutan jadi terang hatinya. Kalau Roh Nurani meninggalkan tubuh maka orang tersebut hatinya menjadi gelap dan fikirannya berkecamuk.
Roh Nurani ini hanya menguasai nafsu Mutma’inah saja. Maka bila manusia ditunggui Roh Nurani, maka nafsu Mutma’inahnya akan menonjol dan kadang kala mengalahkan nafsu-nafsu lainnya.
Hati orang itu jadi tenteram, perilakunya pun baik dan terpuji. Air mukanya bercahaya, tidak banyak bicara, tidak ragu-ragu dalam menghadapi segala sesuatu, tidak nerungut bila ditimpa kesusahan. Suka, sedih, bahagia dan menderita dipandang sama sahaja sebagai kehendak dan kurniaan Allah SWT.
5. Roh Kudus (Roh Suci)
Roh yang ini di bawah kekuasaan Roh Idofi sepenuhnya. Roh ini mempengaruhi orang yang bersangkutan mahu memberi pertolongan kepada sesama manusia, mempengaruhi rasa ingin berbuat kebajikan dan mempengaruhi rasa enak bila berbuat ibadah sesuai dengan kepercayaan ajaran atau agama yang dianutinya.
6. Roh Rahmani
Roh ini dalam kebanyakan waktu di bawah kekuasaan roh idofi dan kadang kala boleh dipengaruhi roh yang lain. Roh ini juga disebut Roh Pemurah. Ini kerana ia diambil dari kata ”Rahman” sifat Allah SWT yang ertinya Maha Pemurah. Roh ini mempengaruhi manusia bersifat sosial serta suka memberi dan berkongsi.
7. Roh Jasmani
Roh yang di bawah kekuasaan Roh Idofi sepenuhnya. Roh ini menguasai dan mengawal seluruh darah dan urat saraf manusia. Dengan adanya roh jasmani ini, maka manusia dapat merasakan adanya rasa sakit, lesu, lelah, segar dan lain-lainnya.
Bila Roh ini keluar dari tubuh, maka walau tubuh ditusuk dengan jarum pun tubuh masih tidak terasa sakit. Kalau kita berhasil menjumpainya, maka wujudnya akan sama dengan kita. Cahayanya berwarna merah.
Roh jasmani ini menguasai nafsu amarah dan nafsu hewani. Nafsu hewani ini memiliki sifat dan kegemaran seperti binatang (animal instinct), misalnya: gemar bermalas-malasan, suka bersetubuh, mahu menang sendiri, sukakan harta, kuasa pangkat, harta dan lain-lain seumpamanya.
8. Roh Nabati
Ia ialah roh yang mengendalikan semua perkembangan dan tumbesaran badan. Roh ini juga di bawah kekuasaan Roh Idofi.
9. Roh Rewani
Ia adalah roh yang menjaga sifat hidup raga atau jasad kita. Bila Roh Rewani keluar dari tubuh maka orang yang bersangkutan akan tidur. Bila masuk ke tubuh orang akan terjaga. Bila orang tidur bermimpi dengan arwah seseorang, maka roh rewani dari orang bermimpi itulah yang menjumpainya. Jadi mimpi itu hasil kerja roh rewani yang juga mengendalikan otak manusia. Roh Rewani ini juga di bawah kekuasaan Roh Idofi. Jadi kepergian Roh Rewani dan kehadirannya kembali adalah diatur oleh Roh Idofi. Demikian juga roh-roh lainnya dalam tubuh, sangat dekat hubungannya dengan Roh Idofi.
NAMA DAN BENTUK ROH
Di sini kita akan membincangkan tentang ruhul amri (hati) yakni perbahasan secara diurai dan terperinci tentang perjalanan ruhul tamyiz atau ruhul amri atau qalbun (hati). Yaitu roh yang membedakan antara manusia, jin dan malaikat dengan haiwan.
Setelah dikaji dalam kitab-kitab Islam, didapati ada bermacam-macam nama atau istilah roh yang diberi oleh ulama. Bahkan dalam Al Quran kalau kita lihat ada bermacam-macam nama. Antara yang terkenal ialah roh. Adakalanya ia dipanggil dengan qalbun – hati, fuaadun – hati sanubari, latifatur-rabbaniah atau ruhul amri). Pada orang Melayu ia juga dipanggil hati, nyawa, hati nurani atau hati sanubari. Tetapi yang terkenalnya adalah roh saja.
Roh yang sedang kita perkatakan ini, kalau dia berperasaan seperti sedih, gembira, senang, terhibur, marah atau sebagainya, maka ia dipanggil dengan roh atau hati atau nyawa. Tetapi waktu ia berkehendak, berkemauan atau merangsang baik sesuatu yang berkehendak itu positif atau negatif, baik atau buruk, yang dibenarkan atau tidak, yang halal ataupun yang haram, di waktu itu ia tidak dipanggil roh, hati atau nyawa lagi. Tetapi ia dipanggil nafsu. Kalau di waktu ia berfikir, mengkaji, menilai, memerhati dan menyelidik, maka ia dipanggil akal.
Kalau begitu uraiannya, maka nafsu, roh atau akal ini hakikatnya adalah satu. Ia dipanggil akal di waktu ia berfikir, mengkaji, menilai, memerhati dan menyelidik. Walhal bila berperasaan, ia tidak dipanggil akal lagi, sebaliknya ia dipanggil roh atau hati atau nyawa. Tetapi waktu ia berkehendak, berkemahuan atau merangsang baik sesuatu yang berkehendak itu positif atau negatif, baik atau buruk, yang dibenarkan atau tidak, yang halal ataupun yang haram, di waktu itu ia dipanggil nafsu.
Kalau begitu walaupun ia mempunyai tiga nama atau tiga istilah tetapi hakikatnya adalah satu. Benda yang sama juga. Cuma peranannya saja yang tidak sama. Peranan yang tidak sama itulah yang menjadikan namanya tidak sama atau namanya berlainan.
Untuk mudah difahami begini kiasannya: manusia bila dia berbohong dinamakan pembohong. Bila dia menipu dinamakan penipu. Tetapi bila dia mencuri dinamakan pencuri. Bila dia memimpin dipanggil pemimpin. Dinamakan pembohong, penipu, pencuri dan pemimpin, hakikatnya adalah orang yang sama. Cuma namanya berbeda bila peranannya bertukar. Kenapa fisik yang sama dapat timbul istilah yang berlainan? Ini karena peranannya tidak sama. Apakah bila namanya berlainan, orangnya berlainan ? Tidak! Orang yang sama juga.
Perlu diingat, bila kita membicarakan tentang roh ini, bukannya pula kita hendak mengkaji hakikat roh atau mengkaji ain ataupun mengkaji hakikat zat roh itu. karena zat atau hakikat roh itu tidak akan dapat dilihat oleh mata kepala. karena ia adalah jismullatif), yakni benda halus yang bersifat maknawiah atau abstrak. Iaitu tidak dapat dilihat oleh mata kepala tetapi terasa akan adanya. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
Maksudnya: “Mereka bertanya kepada engkau wahai Muhammad tentang roh. Hendaklah engkau katakan kepada mereka, ‘Roh itu adalah urusan daripada Tuhanku’…” (Al Israk: 85)
Al-Isra' · Ayat 85
وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا ٨٥
wa yas'alûnaka ‘anir-rûḫ, qulir-rûḫu min amri rabbî wa mâ ûtîtum minal-‘ilmi illâ qalîlâ
Artinya : Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.”
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Dan mereka, yakni orang-orang kafir Mekah bertanya kepadamu wahai Nabi Muhammad tentang roh, apakah hakikat roh itu. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, hanya Dia yang mengetahui hakikat roh itu dan tidaklah kamu wahai manusia diberi pengetahuan kecuali sedikit dibandingkan dengan keluasan objek yang diketahui atau dibandingkan dengan ilmu Allah.
Dari ayat ini dapatlah kita faham bahawa hakikat roh itu tidak akan dapat dijangkau oleh mata kepala. Zat roh itu tidak akan dapat difikirkan oleh akal. Kita tidak tahu bagaimana rupanya. Sebab tidak dapat dilihat oleh mata kepala. Tetapi terasa oleh hati akan adanya. Maka oleh yang demikian, hakikat roh itu tidak dapat difikirkan oleh akal bagaimana rupanya, bagaimana bentuknya, berapa tebal atau panjangnya. Ia tidak dapat dibayangkan. Hanya Allah yang tahu dan tidak ada makhluk yang tahu.
Walaupun Allah berkata hakikat roh atau zat roh tidak dapat diketahui dan tidak dapat dijangkau oleh akal dan mata kepala, namun ada juga ulama-ulama yang berijtihad tentangnya. Antaranya ialah Imam Malik. Beliau pernah berkata: “Roh manusia itu sama saja bentuknya dengan jasad lahirnya.”
Kalau diambil ijtihad Imam Malik itu, artinya rupa roh kita ialah seperti rupa bentuk badan lahir kita. Ini juga memberi arti bahawa walaupun Allah berkata roh itu adalah urusan-Nya, iaitu hakikat roh itu Allah saja yang tahu dan makhluk lain tidak mengetahuinya, tetapi tidak pula ada larangan dari Allah kalau ada sesiapa yang ingin berijtihad untuk mengkajinya.
Bagi sesetengah orang, mungkin Allah beri ilmu yang mendalam tentang hal ini sehingga dia dapat menjangkaunya. Oleh itu maksud ayat Al Quran yang menyatakan ‘roh itu adalah urusan Tuhanku’, Allah bermaksud kebanyakan manusia tidak dapat mengetahuinya tetapi tidak pula menolak kalau ada orang-orang yang tertentu secara khusus yang Allah beri ilmu tentang hakikat roh ini sehingga dapat menghuraikannya.
Mengikut pendapat saya boleh jadi juga Imam Malik memperkatakan hakikat roh ini bukan berdasarkan ijtihadnya saja tetapi juga berdasarkan kasyaf. Kalau berdasarkan ijtihad tidak mungkin akal beliau dapat menjangkaunya karena roh itu jismullatif (tubuh halus). Ia adalah hati nurani yang bersifat maknawiah. Diibaratkan seperti cahaya. Bahkan cahaya, dapat juga dilihat tetapi cahaya yang ini tidak dapat dilihat atau ia jenis cahaya yang tersembunyi.
Bagaimana pula hendak diijtihadkan? Ijtihad itu dibuat pada benda-benda yang berketul atau benda yang dapat dilihat. Benda-benda yang dapat diraba dan dirasa. Tetapi roh, benda yang tidak dapat diraba, tidak dapat dirasa dan tidak dapat dilihat oleh mata kepala. Jadi bagaimana hendak diijtihadkan. Begitulah pandangan saya. Wallahu ‘alam.
Oleh itu atas dasar apakah roh seseorang itu seperti rupa bentuk lahirnya sebagaimana pendapat Imam Malik itu? Saya berpendapat Allah beri dia (Imam Malik) kasyaf. Allah perlihatkan roh itu. Roh yang jismullatif itu dibentukkan, dilihatkan macam rupa diri seseorang itu. Kalau begitu apa yang dimaksudkan oleh Al Quran bahawa tidak ada orang yang mengetahui hakikat roh itu melainkan Allah saja, itu adalah untuk orang awam. Manakala bagi orang yang khusus macam Imam Malik mungkin Allah beritahu padanya sebagai karamahnya.
Pendapat Imam Malik ini agak munasabah (masuk akal), boleh diterima dan agak rasional. Contohnya kita bermimpi melihat seseorang yang kita tidak pernah jumpa atau dengan orang yang pernah kita jumpa sama ada yang masih hidup mahupun sudah mati. Apa yang kita lihat dalam mimpi itu serupa dengan bentuk lahir orang itu. Sedangkan orang yang kita lihat dalam mimpi itu rohnya bukan orangnya. Mungkin waktu itu orang tersebut berada di rumah atau telah berada di alam Barzakh.
Jadi di waktu itu dia adalah roh. Roh bertemu dengan roh. Tetapi mengapa dalam mimpi kita roh orang itu serupa dengan dirinya? Sedangkan bukan berjumpa jasadnya tetapi rohnya. Ini membuktikan roh orang itu macam jasadnya juga. Jadi benarlah apa yang diijtihadkan oleh Imam Malik itu.
Begitu juga orang yang diyakazahkan melihat secara jaga orang yang sudah meninggal dunia. Contohnya melihat Rasulullah, melihat para ulama zaman dahulu atau siapa saja yang dia kenal. Dia melihat Rasulullah betul-betul macam Rasulullah. Atau dia melihat gurunya benar-benar macam gurunya, melihat ibu dan ayahnya serupa macam ibu dan ayahnya, tidak ada cacatnya. Sedangkan mereka sudah mati. Waktu itu yang dilihat adalah rohnya. Ini juga membuktikan benarnya pendapat Imam Malik yang mana roh seseorang itu serupa dengan diri lahirnya.
Contoh lain, Rasulullah SAW sewaktu diisrak dan dimikrajkan telah ditemukan dengan roh para rasul dan para nabi. Rasulullah SAW lihat mereka seperti melihat jasad-jasad mereka. Ini juga merupakan bukti yang rasional bahawa roh seseorang itu sama rupanya dengan bentuk jasadnya.
Boleh jadi juga ayat Al Quran di atas itu bermaksud bahawa ayat itu khusus ditujukan kepada orang-orang kafir. Yakni mereka ini memang tidak memahami tentang perjalanan roh dan fungsinya. Allah SWT memberitahu kepada kekasih-Nya, Rasulullah SAW bawa mereka tidak akan faham tentang hal ini. Kekufuran mereka itulah yang menghijabnya (menutup) sepertimana uraian saya yang panjang lebar tentang hal ini di dalam Bab Mata Hati. Karena itulah menjadi penyebab mereka langsung tidak memahaminya.
Allah SWT tidak meminta Rasulullah SAW bersusah payah untuk pergi memahamkan orang-orang kafir itu tentang hal roh ini. Lantaran itulah dikatakan roh itu urusan Allah. Ini bukan pula bermaksud umat Islam pun turut juga dilarang mengkaji tentang roh. Bahkan umat Islam mesti memahaminya sungguh-sungguh tentang perjalanan roh ini. Kalau tidak bagaimana pula hendak memperbaiki diri? Atau bagaimana hendak mengekalkan watak-watak kemanusiaannya dan bukan watak kebinatangannya.
Untuk ini kita wajib memahaminya serta menghayati watak- watak kemanusiaan itu. Hati manusia berbeda dengan hati hewan. karena hati manusia dapat menerima perintah suruh dan perintah larangan. karena itulah ia disebut ruhul amri. Manakala hati hewan tidak bersifat demikian, maka ia disebut ruhul hayah.
Syah Dien

