ARAB-PEGON DAN TAFSIR AL-QUR’AN INDONESIA
Arab Pegon adalah aksara Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa lokal Indonesia, seperti bahasa Jawa, yang digunakan dalam penulisan kitab-kitab keagamaan dan tafsir Al-Qur'an. Tujuannya adalah untuk mempermudah pemahaman masyarakat lokal terhadap ajaran Islam dan kitab kuning, dengan menyertakan terjemahan dan penjelasan bahasa Jawa di dalam teks berbahasa Arab.
Karakteristik Arab Pegon
1. Bentuk
Menggunakan huruf-huruf Arab, namun dirangkai untuk membentuk kata-kata dalam bahasa Jawa atau bahasa lokal lainnya.
2. Tidak Berharokat
Aksara Pegon sering disebut juga aksara gundul atau gondhil karena tidak memiliki tanda-tanda bunyi (harakat) seperti tulisan Arab standar.
3. Adaptasi
Huruf-huruf Arab disesuaikan untuk melambangkan fonem (bunyi) bahasa lokal, misalnya huruf 'cim' untuk 'c', 'jim' untuk 'c', atau 'fa' dengan titik tiga untuk 'p'.
Fungsi dalam Tafsir Al-Qur'an
1. Memudahkan Pemahaman
Dengan menggunakan bahasa Jawa yang ditulis dalam aksara Pegon, santri atau pembaca dapat lebih mudah memahami makna dan isi kandungan kitab-kitab kuning, termasuk tafsir Al-Qur'an.
2. Produk Tradisi Pesantren
Penggunaan Arab Pegon sangat identik dengan tradisi pesantren salaf di Nusantara, khususnya di kalangan masyarakat Jawa, Madura, dan Sunda.
3. Konteks Sosio-historis
Arab Pegon menjadi pilihan sadar para ulama untuk menjangkau audiens santri yang secara tradisional berlatar belakang Islam tradisional dan Jawa.
Contoh Penggunaan
1. Manuskrip Kuno
Banyak ditemukan manuskrip kuno di Indonesia yang berisi teks keagamaan seperti tafsir Al-Qur'an, kitab fikih, dan karya Islam lainnya yang ditulis dengan aksara Arab Pegon.
2. Kitab Tafsir
Beberapa tafsir Al-Qur'an, seperti Tafsir Al-Jalalayn, ditulis dalam aksara Pegon dengan catatan dan terjemahan interlinear bahasa Jawa untuk membantu pemahaman pembaca.
Berikut Buku ARAB-PEGON DAN TAFSIR AL-QUR’AN INDONESIA