Syekh Quro (Syekh Hasanuddin) Karawang Jawa Barat
Syekh Quro, yang memiliki nama asli Syekh Hasanuddin, adalah ulama penyebar Islam di Jawa Barat yang tiba di Karawang sekitar tahun 1416 M. Ia dikenal sebagai qari (pembaca Al-Qur'an) yang suaranya merdu, sehingga diberi gelar "Quro". Syekh Quro mendirikan pesantren pertama di Jawa Barat, yang kemudian dikenal sebagai Pondok Pesantren Quro, dan mendirikan Masjid Agung Karawang pada 1418 M. Ia juga memperistri wanita setempat, Ratna Sondari, dan memiliki keturunan yang turut menyebarkan Islam di daerah tersebut.
Asal-usul dan Kedatangan di Jawa
- Syekh Quro berasal dari Campa dan memiliki garis keturunan yang jelas, termasuk dari Nabi Muhammad SAW melalui jalur ibu dan ayahnya, Syekh Yusuf Siddiq.
- Ia datang ke Nusantara bersama rombongannya, termasuk Syekh Abdurrahman, Syekh Maulana Madzkur, dan Putri Malaka bernama Nyi Subang Larang.
- Beliau turun di pelabuhan Karawang, yang merupakan pelabuhan strategis Kerajaan Padjajaran, yang kemudian dilanjutkan ke Cirebon untuk menjalin persahabatan dengan Syahbandar Ki Gedeng Tapa.
Peran dalam Penyebaran Islam
1. Pondok Pesantren Quro
Ia mendirikan pondok belajar Al-Qur'an yang menjadi cikal bakal pesantren pertama di Jawa Barat.
2. Masjid Agung Karawang
Ia membangun masjid yang menjadi cikal bakal Masjid Agung Karawang pada tahun 1418 M.
3. Peran sebagai Guru
Dengan dakwah yang penuh keramahan dan mudah dipahami, Syekh Quro mampu menarik banyak orang untuk belajar agama, sehingga ia dapat mendirikan tempat ibadah dan pembelajaran.
4. Penyebaran ke Daerah Lain
Sepeninggalnya, perjuangan penyebaran Islam dilanjutkan oleh murid setianya, Syekh Bentong.
5. Keturunan dan Warisan
- Syekh Quro memiliki keturunan yang turut menyebarkan agama Islam di wilayah Karawang dan sekitarnya, termasuk Syekh Ahmad, yang menjadi penghulu pertama di Karawang.
- Makam Syekh Quro kini menjadi salah satu destinasi wisata religi di Karawang.
Syeikh Quro (1390-1463): Perintis Pesantren di Cirebon dan Karawang
Jika berani menjelajahi Kalibata Karawang, Jawa Barat, Anda akan dihadapkan pada jejak-jejak sejarah yang tak bisa diabaikan, khususnya yang terkait dengan Syeikh Quro. Dia bukan sekadar penyebar Islam di Tatar Pasundan pada masa Kerajaan Sunda-Galuh dan Sunda-Padjadjaran di abad ke-15, tetapi sebuah nama yang mengguncang basis keilmuan dan spiritual saat itu. Makamnya, yang terletak di kompleks pemakaman Pulau Bata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, adalah saksi bisu dari sejarah yang penuh gairah ini. Mungkin kita perlu mengetahui bahwa kompleks makam ini adalah warisan dari “pesantren” sederhana—tempat di mana Syeikh Quro dan keturunannya tidak hanya mengajar, tetapi juga meninggalkan jejak budaya yang kuat. Beberapa tinggalan yang diasosiasikan dengan beliau masih berdiri kokoh hingga hari ini, menantang kita untuk menggali lebih dalam.
Ada tinggalan lain yang dinisbahkan kepadanya, yakni Mesjid Agung Karawang. Mesjid ini dikaitkan dengannya karena pernah dijadikan sebagai tempat Syeikh Quro menikahkan Pangeran Pamanah Rasa dengan Subang Larang pada 1421. Ia disebut-sebut sebagai salah satu tokoh ulama yang berperan dalam proses penyebaran Islam di wilayah Jawa Bagian Barat pada abad ke-14 di wilayah Jawa Bagian Barat, khususnya Cirebon, Karawan, dan sekitarnya. Kiprah dakwahnya berlangsung pada masa kejayaan Kerajaan Sunda-Galuh dan Sunda-Pajajaran, yakni masa Prabu Anggalarang atau Niskala Wastu Kencana (Prabu Siliwangi ke-2), Prabu Dewa Niskala (Sunda-Galuh, Kawali), Prabu Susuk Tunggal (Sunda-Pajajaran, Bogor), dan masa Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi ke-3/4).
Sang tokoh yang akan dibahas pada tulisan ini pertama kali datang ke tanah Jawa melalui Cirebon pada tahun 1416 dari Campa. Ia datang bersama ekspedisi militer Panglima Cheng Ho (1371-1433). Ia pun datang bersama saudaranya, yakni Syeikh Datul Kahfi yang banyak berkiprah dalam pendidikan dan dakwah Islam di wilayah Cirebon. Selain dihubungkan dengan keduanya, keberadaannya dihubungkan dengan beberapa tokoh populer lainnya dari kerajaan Sunda-Galuh, yakni Ki Gedeng Tapa, Prabu Anggalarang (Prabu Siliwangi ke-2), Nyi Subang Larang, Raden Pamanah Rasa (Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi ke-3/4), Raden Walangsungsang, Raden Kean Santang, dan Nyai Lara Santang. Hubungan Syeikh Quro dengan tokoh-tokoh tersebut akan dijelaskan melalui pembahasan pada tulisan ini. Meskipun tidak banyak peninggalan fisik yang tersisa, keberadaan Pondok Quro dibuktikan dengan beberapa prasasti dan situs sejarah. Makam Syekh Quro di Pulo Bata menjadi salah satu bukti otentik keberadaan beliau dan pondok pesantrennya.
Asal-Usul
Ia lebih dikenal dengan sebutan Syeikh Quro dan diperkirakan lahir pada tahun 1390an. Sebutan lainnya adalah Syeikh Hasanuddin atau Syeikh Mursahadatillah. Disebut Syeikh Quro karena ia memiliki nama kepanjangannya, yakni Syeikh Qurotul Ain. Namun, penamaan ini pun merujuk kepada salah satu keahliannya, yakni seorang qari (atau pembaca atau pelantun al-Qur’an dengan suara indah). Pada beberapa daerah di wilayah Sunda, sebutan untuk belajar ngaji al-Qur’ an (dengan menggunakan seni qira’ ah) adalah “Kuro”, seperti dalam ungkapan, “kyai eta mah jago kuro“. Kata “kuro” ini bisa merujuk kepada kata pinjaman (borowing word) dari Arab, jamak dari kata qari, yakni qurra.
Disebutkan bahwa Syeikh Quro berasal dari daerah Champa. Daerah ini diperselisihkan apakah merujuk kepada daerah Champa yang ada di Kamboja atau daerah Jeumpa yang berada di Aceh. Kebanyakan pendapat merujukkan Campa ke wilayah Kamboja, yang pada abad ke-13 hingga abad ke-16 merupakan jalur penyebaran Islam dari jalur sutra ke wilayah-wilayah Asia Tenggara. Namun, hal yang disepakati bahwa ia berasal dari luar Jawa.
Dari segi nasab, sebagaimana disebut dalam Naskah Purwaka Caruban Nagari, ia memiliki nasab bersambung kepada Rasulullah dari jalur Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib. Ia putra dari Syeikh Yusuf Sidik, yang merupakan salah satu ulama terkemuka pada salah satu Lembaga Pendidikan Islam di Campa. Ia pun memiliki kesinambungan garis keturunan dengan Syeikh Jamaluddin Akbar al-Husaeni (1310-1394) dan Syeikh Jalaluddin al-Husaeni. Keduanya merupakan ulama terkemuka di Haramayn (Mekkah dan Madinah) pada abad ke-14. Syeikh Jamaluddin Akbar al-Husaini dikenal juga dengan sebutan Syeikh Jumadil Kubro. Oleh karena itu, ia dikenal juga sebagai murid dari Syeikh Maulana Maghribi.
Ini berarti, Syeikh Quro bergelar sayyid, yang dapat dibedakan dari gelar syarif (yang disematkan kepada keturunan Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib). Dalam kalangan muslim tradisional, penyebutan sayyid/syarif ini memiliki “kharisma tradisional”nya tersendiri, karena akan memunculkan sikap penghormatan “lebih” terhadap para dzurriyyah (keturunan) Rasulullah. Tradisi ini masih berlangsung hingga kini, seperti yang terdapat dalam tradisi penghormatan dari ebagian kalangan muslim kepada para sayyid, syarif, atau habib, yang diyakini sebagai keturunan Rasulullah.
Ia belajar agama (Islam) kepada sang ayah, yakni Syeikh Jafar Sidik di Campa. Sang ayah merupakan mufti kerajaan Campa (Islam) dan menjadi pimpinan “Perguruan Tinggi Islam” di kerajaan tersebut. Setelah cukup belajar di Campa, ia pun kemudian belajar ilmu keislaman kepada saudara-saudara ayahnya, yang saat itu banyak yang menjadi pemuka agama Islam yang berada di Haramayn (Mekkah dan Madinah), seperti Jamaluddin Akbar dan Jalaluddin Akbar. Disebutkan bahwa dalam bidang fiqh, ia menganut madzhab Hanafiyah, sebagaimana kebanyakan dianut oleh masyarakat muslim di Asia tengah dan Asia Timur saat itu. Namun, sebagian kalangan menemukan beberapa bukti tinggalan fiqh bermadzhab Syafi’iyah di sekitar Pondok Quro, Karawang.
Hubungan Syeikh Quro dengan Panglima Cheng Ho dan Syeikh Datu Kahfi
Syekh Quro dan Laksamana Cheng Ho memiliki hubungan yang cukup erat dalam penyebaran Islam di Jawa bagian Barat. Laksamana Cheng Ho lah yang membawa Syeikh Quro ke tanah Jawa pada ekspedisi militer ke wilayah-wilayah di Asia tenggara pada tahun 1416. Beberapa tahun sebelum 1416, Pasukan Ming di bawah Panglima Cheng Ho tiba di kerajaan Champa (Islam). Sebagaimana misinya yang ditugaskan oleh Raja Dinasti Ming, Panglima Cheng Ho melakukan misi diplomatik dan ekspedisi militer dalam suasana “perdamaian”, bukan peperangan. Walaupun demikian, tetap saja penguasa-penguasa lokal bersikap hati-hati,
Laksamana Cheng Ho sendiri, yang juga dikenal sebagai Zheng He, adalah seorang kasim, penjelajah, diplomat, dan laksamana armada Tiongkok yang hidup pada masa Dinasti Ming generasi awal. Ia dilahirkan pada tahun 1371 dan meninggal pada tahun 1433. Cheng Ho melakukan pelayaran ke Asia Tenggara, Samudra Hindia, dan Afrika Timur pada tahun 1405-1433 dan mengunjungi Nusantara (Kepulauan Indonesia) sebanyak tujuh kali. Untuk mengenang perjalanannya di Nusantara, masyarakat Tionghoa di Indonesia mendirikan komplek Sam Pho Kong yang berada di Semarang. Pada perjalanannya yang kedua dan ketiga, ia telah membawa serta Syekh Quro dan Syekh Datu Kahfi (syeikh Nurjati) ke Jawa bagian Barat dalam ekspedisi tahun 1412 M. Syekh Quro dan Syekh Nurjati, keduanya kemudian tinggal di Jawa Bagian Barat serta menyebarkan ajaran agama Islam di Karawang dan Cirebon. Masing-masing memiliki “daerah dakwah”nya.
Hubungan antara Syeikh Quro dan Syeikh Datu Kahfi adalah hubungan saudara, yakni Syeikh Datu Kahfi merupakan saudara ipar dari adik Syiekh Quro. Keduanya merupakan keturunan dari Amir Abdullah Khan, generasi keempat.
Hubungan antara Syeikh Quro dengan Panglima Cheng Ho ini penting disebutkan, karena hubungan ini menjadi salah satu faktor yang menguatkan keberadaan Syeikh Quro di wilayah Jawa. Dalam hubungan ini, pemerintahan lokal (Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit) tidak berani “gegabah” dalam pelarangan aktivitas Syeikh Quro dan para ulama Muslim di wilayah mereka. Selebihnya, karena Syeikh Quro pun berasal dari kerajaan Campa (Muslim), maka hal ini pun memberikan penguatan terhadap keberadaannya di tanah Jawa, karena kerajaan Campa memiliki hubungan diplomatik dengan beberapa kerajaan di Nusantara, termasuk Sunda dan Jawa. Hal ini pun diperkuat lagi dengan dukungan koloni-koloni (komunitas) muslim di wilayah utara Jawa, yang membentang dari Sunda Kelapa hingga Tuban, termasuk Cirebon.
Syeikh Quro dan Pendirian Pesantren
Pada persinggahannya yang pertama tahun 1412, Syeikh Quro mendatangi Cirebon terlebih dahulu. Hal ini ia lakukan karena beberapa pertimbangan. Pertama, di Cirebon saat itu, sudah cukup banyak komunitas-komunitas muslim sejak Bratalegawa (salah satu petinggi kerajaan Galuh) masuk Islam dan melakukan penyebaran Islam di Wilayah Cirebon. Kedua, Cirebon merupakan kota pelabuhan yang “multi-etnik” dan “multi keyakinan”, yang berasal dari Sunda, Jawa, Melayu, Thai, Cina, India, dan Arab. Ketiga, ia mendapatkan “undangan” dan perlindungan dari penguasa lokal Cirebon, yakni Ki Gedeng Tapa (putra dari Ki Gedeng Kasmaya), yang merupakan salah satu penguasa syahbandar di Cirebon.
Pada persinggahan pertama di Cirebon, ia disambut oleh Ki Gedeng Tapa yang menjadi Syahbandar di Pelabuhan Muara Jati, Cirebon. Pelabuhan ini merupakan salah satu yang terpenting di Pulau Jawa pada masanya, dan menjadi pusat kegiatan perdagangan dengan para pedagang dari berbagai penjuru Nusantara, Tiongkok, India, dan Arab. Perannya sebagai Syahbandar menunjukkan keahlian Ki Gedeng Tapa dalam mengatur lalu lintas pelabuhan dan perdagangan di sana. Pada persinggahan pertama ini, Syeikh Quro mendapatkan penolakan dari Prabu Anggalarang (atau Prabu Niskala Wastu Kencana) karena ia datang bersamaan dengan Laksamana Cheng Ho. Sebagai penguasa Sunda-Pajajaran, Prabu Anggalarang mencurigai aktivitas Syeikh Quro sebagai bagian dari “telik sandi” dari Dinasti Ming atau dari kerajan Campa. Oleh karena adanya resistensi dari kalangan maka ia pun kembali ke Campa, sekalipun sempat singgah di Kerajaan Perlak dan Kerajaan Aceh Darussalam.
Pada persinggahan yang kedua pada tahun 1418/1419, ia membawa serta beberapa muridnya, di antaranya Syeikh Abdul Rohman dan Syeikh Maulana Madzkur. Sama halnya dengan kedatangan pertamanya, ia tetap disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa. Kini, ia tidak memilih Cirebon sebagai tempat tinggalnya, karena telah ada saudaranya, yakni Syeikh Datul Kahfi. Ia lebih memilih tempat lainnya, yakni Karawang. Pemilihan ini dilatarbelakangi oleh banyak faktor, di antaranya adalah strategisnya Kerawang sebagai kota yang berada di Pantura (dekat akses ke pantai) dan telah cukup banyak masyarakat multi etnis di wilayah ini. Keberadaannya kali ini tidak terlalu mendapatkan perhatian dari Sunda Galuh maupun Pakuan Pajajaran. Bahkan, pada tahun 1418/1419, ia dapat mendirikan Pondok Quro, pesantren al-Qur’ an pertama di Jawa bagian Barat, yakni di daerah Karawang.² Pesantren ini menjadi pusat pembelajaran Alquran dan ajaran Islam, memainkan peran krusial dalam pengembangan pendidikan agama di wilayah tersebut.
Pondok yang didirikannya dikenal dengan sebutan Pondok Quro. Pondok ini diyakini sebagai pondok pesantren pertama di Jawa Barat, menjadikannya salah satu lembaga pendidikan Islam tertua dan paling bersejarah di Nusantara. Lokasi awal Pondok Quro berada di Pulo Bata, Karawang. Di sana, Syekh Quro mendirikan masjid dan langgar (tempat belajar agama Islam) untuk menyebarkan ilmu pengetahuan dan ajaran Islam kepada masyarakat sekitar. Pondok Quro tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai pusat pengembangan dakwah dan sosial kemasyarakatan. Syekh Quro dan para santrinya aktif dalam membantu fakir miskin, anak yatim, dan dhuafa.
Keberadaan Syeikh Quro dan pondoknya menjadi cukup dikenal setelah dekat dengan kalangan Istana Sunda-Galuh (Kawali) dan Sunda-Padjadjaran (Bogor). Ia merupakan guru dari Ki Gedeng Tapa dan keluarganya (khususnya Pangeran Walangsungsang dan Nyai Subang Larang). Popularitasnya menjadi menanjak , ketika ia dapat mengislamkan beberapa “gegeden” (menak) dari kerajaan-kerajaan di wilayah Sunda. Yang paling terkenal adalah keislamannya Raden Pamanah Rasa (1401-1522) pada tahun 1420, yakni ketika menikahi salah satu murid Syeikh Quro, yakni Nyai Subang Larang. Raden Pamanah Rasa merupakan cucu dari Prabu Anggalarang (atau Niskala Wastu Kencana, 1348-1475) dari jalur Prabu Dewa Niskala (memerintah 1475-1482). Kelak Raden Pamanah Rasa dikenal dengan sebutan Sri Baduga Maharaja yang memerintah Sunda-Pajajaran dari 1482 sampai 1522.
Syeikh Quro dan beberapa muridnya kemudian berperan sebagai penyiar Islam di Jawa Barat³. Karya dan dedikasinya dalam pendidikan dan dakwah telah meninggalkan jejak berharga dalam sejarah keberagamaan di wilayah ini¹. Setelah wafatnya Syekh Quro, kepemimpinan Pondok Quro diteruskan oleh para santrinya. Meskipun tidak banyak peninggalan fisik yang tersisa, keberadaan Pondok Quro dibuktikan dengan beberapa prasasti dan situs sejarah. Makam Syekh Quro di Pulo Bata menjadi salah satu bukti otentik keberadaan beliau dan pondok pesantrennya.
Para murid Syeikh Quro tidak hanya menjadi penerus ilmu pengetahuan gurunya, tetapi juga menjadi penyebar dakwah yang gigih di berbagai wilayah di tanah Sunda. Mereka mendirikan pesantren, mengajar agama Islam kepada masyarakat, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Salah satu murid beliau yang terkenal adalah Syekh Bentong, yang kemudian melanjutkan perjuangan Syekh Quro dalam menyebarkan Islam di Karawang dan sekitarnya. Syeikh Bentong merupakan salah satu murid terkemuka Syekh Quro, ulama penyebar agama Islam di tanah Sunda pada abad ke-14. Beliau dikenal sebagai sosok yang cerdas, tekun, dan memiliki dedikasi tinggi dalam mempelajari ilmu agama Islam. Syeikh Bentong tidak hanya menjadi murid, tetapi juga sahabat karib Syekh Quro. Beliau selalu mendampingi Syekh Quro dalam berdakwah dan menyebarkan Islam di berbagai wilayah di Jawa Barat. Setelah wafatnya Syekh Quro, Syeikh Bentong mengambil peran penting dalam melanjutkan dakwah dan perjuangan gurunya. Beliau memimpin Pondok Quro, pesantren pertama di Jawa Barat yang didirikan oleh Syekh Quro. Di bawah kepemimpinan Syeikh Bentong, Pondok Quro semakin berkembang dan menjadi pusat pendidikan Islam yang digemari masyarakat. Beliau juga aktif dalam menyebarkan Islam ke berbagai daerah di Karawang dan sekitarnya.
Syeikh Bentong dikenal sebagai sosok yang sederhana, bersahaja, dan selalu mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menjadi panutan bagi para santri dan masyarakat sekitar. Salah satu kisah teladan Syeikh Bentong yang terkenal adalah saat beliau rela menukar baju baru dengan seorang fakir miskin. Keteladanan dan kemuliaan hatinya ini menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk selalu berbuat kebaikan dan membantu sesama. Syeikh Bentong wafat dan dimakamkan di Pulo Bata, Karawang, tepat di samping makam gurunya, Syekh Quro. Makam beliau menjadi salah satu tempat ziarah yang digemari masyarakat hingga saat ini.
Berkat dedikasi dan perjuangan para murid Syeikh Quro, Islam semakin berkembang pesat di Jawa Barat. Ajaran Islam yang mereka sampaikan membawa perubahan positif bagi masyarakat, baik dalam hal spiritualitas maupun kehidupan sosial.
Citations :
[1] Laksamana Cheng Ho, Cina Pertama Sebarkan Islam di Jabar – Republika https://republika.co.id/amp/pit9zy366/laksamana-cheng-ho-cina-pertama-sebarkan-islam-di-jabar
[2] Cheng Ho – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Cheng_Ho
[3] Cheng Ho – Universitas STEKOM Semarang https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Cheng_Ho
[4] Qurotul Ain – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Qurotul_Ain
[5] Syekh Quro dan Penyebaran Islam di Tanah Jawa – SINDOnews https://daerah.sindonews.com/berita/1115430/29/syekh-quro-dan-penyebaran-islam-di-tanah-jawa
(6) Sejarah Jawa Barat pada era kerajaan Islam – Wikipedia bahasa Indonesia …. https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Jawa_Barat_pada_era_kerajaan_Islam.
(7) Penyebar Islam di Pantai Utara Jawa: Mengungkap Peran Syaikh Quro Karawang. https://jlka.kemenag.go.id/index.php/lektur/article/view/170/202.
(8) Qurotul Ain – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Qurotul_Ain.
(9) Syekh Quro dan Penyebaran Islam di Tanah Jawa – SINDOnews.com. https://daerah.sindonews.com/berita/1115430/29/syekh-quro-dan-penyebaran-islam-di-tanah-jawa.
(10) https://romansabandung.com/syekh-quro-dan-pondok-pesantren-pertama-di-jawa-barat/https://islamic-center.or.id/syeikh-quro-ulama-betawi-pertama/
SEJARAH SYEKH QURO KARAWANG (MAULANA HASANUDDIN CHAMPA) & HUBUNGANNYA DENGAN BETAWI DAN JAWA BARAT
Syekh Quro, siapa yang tidak kenal nama yang satu ini, khususnya diwilayah Karawang. Bahkan nama beliau ini juga dikenal dikawasan jawa barat. Dalam Sejarah Jawa Barat dan Betawi nama yang satu ini cukup sering diulas. Ridwan Saidi, sejarawan betawi dalam bukunya yang berjudul "Babad Tanah Betawi, hal 109, penerbit gria media prima, mengangkat nama beliau ini sebagai penyebar agama islam pertama di betawi. BABE Ridwan sangat fanatik dengan sosok Syekh Quro ini, beberapa kali dalam diskusi sejarah betawi, BABE RIDWAN selalu bangga dengan sosok Syekh Quro, namun sayangnya BABE RIDWAN kurang respek dengan sosok Fatahillah (yang beliau anggap membunuh 3000 orang betawi saat membebaskan sunda kelapa). Sengaja saya tampilkan beberapa pernyataan Babe Ridwan karena nanti peran Syekh Quro ini akan terlihat, apakah beliau memang ada hubungan dengan Betawi atau tidak atau kalaupun ada bagaimana porsinya, tulisan ini nanti akan bisa dinilai oleh para pembaca dalam menentukan peran serta Syekh Quro baik di Betawi maupun di Jawa Barat.
Dalam satu buku yang juga saya peroleh dari dinas museum banten lama yang ditulis dengan gaya ilmiyah yang berjudul Riwayat Kesultanan Banten, halaman 5 tahun 2006 olehTubagus Hafiz Rafiudin, sosok Syekh Quro bahkan ditulis dengan jelas sebagai guru besar Agama Islam Di Champa. Pada halaman awal itu nama Syekh Quro langsung tertera sebagai guru besar dan orang yang berpengaruh pada tokoh tokoh atau raja/sultan pada kerajaan Pajajaran, kesultanan Cirebon maupun kesultanan Banten kelak.
Bagi orang Cirebon, Indramayu dan juga banten, nama yang satu ini juga cukup mendapat perhatian, karena sepak terjang dakwahnya yang dapat dikatakan sukses besar. Dakwahnya damai, santun dan cerdik. Beliau berdakwah dengan kemampuan ilmu alqur'annya. Ulama besar yang bergelar Syekh Qurotul’ain ini ternyata nama aslinya adalah Syekh Mursyahadatillah atau Syekh Hasanudin. Beliau adalah seorang yang arif dan bijaksana dan termasuk seorang ulama yang hafidz Al-qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya. Syekh Quro adalah putra ulama besar Mekkah, penyebar agama Islam di negeri Campa (Kamboja) yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang ternyata masih merupakan keluarga besar Azmatkhan, karena ayah Syekh Yusuf Siddiq ternyata Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro. Sayyid Yusuf Siddiq sendiri ibunya adalah Puteri Linang Cahaya binti Raja Sang Tawal/ Sultan Baqi Syah/ Sultan Baqiuddin Syah (Malaysia). Putri Linang cahaya ini dalam kitab Ensiklopedia Nasab Al Husaini dan juga situs Madawis telah melahirkan 3 anak, yaitu: Pangeran Pebahar, Fadhal (Sunan Lembayung), Sunan Kramasari (Sayyid Sembahan Dewa Agung), Syekh Yusuf Shiddiq. Ibu dari Sayyid Yusuf Siddiq ini adalah istri ke 3 dari Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro. Jadi Syekh Quro ini adalah cucu dari Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro, artinya beliau Syekh Quro adalah keluarga besar Walisongo.
Adapun nasab Syekh Quro berdasarkan kitab nasab yang disusun Oleh Al Allamah Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafiz dan Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, penerbit Madawis, Edisi Tahun 2014 adalah sebagai berikut :
1. Muhammad Rasulullah SAW
2. Fatimah Az-zahra
3. Husein As-shibti
4. Ali Zaenal Abidin
5. Muhammad Al-Baqir
6. Jakfar As-Shodiq
7. Ali Al-Uraidhi
8. Muhammad An-Naqib
9. Isa Ar-Rumi
10. Ahmad Al-Muhajir
11. Ubaidhillah
12. Alwi Al Awwal
13. Muhammad Shohibus Souma'ah
14. Alwi Atsani
15. Ali Kholi' Qosam
16. Muhammad Shohib Marbat
17. Alwi Ammul Faqih
18. Abdul Malik Azmatkhan
19. Abdullah Amir Khan
20. Sultan Ahmad Syah Jalaluddin
21. Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro
22. Syekh Yusuf Siddiq
23. Syekh Hasanuddin/Maulana Hasanuddin/Syekh Quro Azmatkhan
Pada waktu kedatangan beliau ditanah Jawa, terutama kawasan Jawa bagian barat (saat itu belum ada istilah barat atau timur), wilayah Jawa Bagian Barat masih dibawah kekuasaan Negeri Pajajaran yang saat itu menganut agama Hindu, dengan seorang Raja yang bernama Prabu Anggalarang, Kekuasaan raja pajajaran tersebut meliputi wilayah Karawang dan juga sekitarnya, sebelum datang ke tanah Karawang sekitar tahun 1409 Masehi, Syekh Quro menyebarkan Agama islam di negeri Campa, dari sini beliau lalu ke daerah Malaka dan dilanjutkan ke daerah Martasinga Pasambangan dan Japura akhirnya sampai ke Pelabuhan Muara Jati Cirebon, disini beliau disambut dengan baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati, yang masih keturunan Prabu Wastu Kencana dan juga oleh masyarakat sekitar, mereka sangat tertarik dengan ajaran yang disampaikan oleh Syekh Quro yang di sebut ajaran agama Islam.
Kedatangan awal Syekh Quro tentu tidak mengherankan jika ditinjau dari sisi ilmu nasab dan sejarah, karena sebelum kedatangan beliau, keluarga besar AZMATKHAN atau walisongo sudah periode awal sudah mulai bergerak, dimulai dari Sayyid Husein Jamaluddin, kemudian anak anaknya dan dilanjutkan dengan keturunanya. Jika ditinjau dari nasab dan periodesasi walisongo, beliau ini satu angkatan dengan Maulana Malik Ibrahim dan walisongo angkatan angkatan pertama. Sayangnya memang, dibandingkan dengan walisongo yang lain, sosok beliau ini jarang dikaji dalam bentuk tulisan sejarah atau ilmiah, padahal jasa beliau dalam menyebarkan agama islam itu sangat besar. Jasa beliau ini tidak boleh dianggap kecil, karena beliau inilah yang merupakan pelopor penyebaran agama islam di Jawa Barat, sebelum eranya Sunan Gunung Jati.
Sebelum kedatangan Syekh Quro, dapat dikatakan penyebaran Islam belum sporadis, namun sejak kedatangan Syekh Quro ini, Islam mulai mendapat tempat dihati rakyat. namun demikian, penyebaran agama Islam yang disampaikan oleh syekh Quro di tanah Jawa bagian barat ini rupanya sangat mencemaskan Raja Pajaran Prabu Anggalarang, sehingga pada waktu itu penyebaran agama Islam dengan titahnya harus segera dihentikan. Perintah dari Raja Pajajaran tersebut dipatuhi oleh Syeh Quro yang memang pendekatan dakwahnya sangat persuasif. Namun kepada utusan dari Raja Pajaran yang mendatangi Syekh Quro, Syekh Quro mengingatkan kepada utusan tersebut untuk kemudian disampaikan kepada raja pajajaran, "meskipun ajaran agama Islam dihentikan, namun penyebarannya kelak akan meluas hebat, dan justru dari keturunan Prabu Anggalarang nanti akan ada yang menjadi seorang Waliyullah".
Beberapa saat kemudian beliau pamit pada Ki Gedeng Tapa untuk kembali ke negeri Campa, di waktu itu pula Ki Gedeng Tapa menitipkan putrinya yang bernama Nyi Mas Subang Larang, untuk ikut dan berguru pada Syekh Quro. Tak lama kemudian Syekh Quro datang kembali ke negeri Pajajaran kembali beserta Rombongan para santrinya, dengan menggunakan Perahu dagang sebagian ahli sejarah mengatakan beliau ikut bersama rombongan titian muhibah laksamana cheng ho (nanti akan dibahas dibawah ini). Dalam rombongan yang bersama beliau diantaranya adalah, Nyi Mas Subang Larang, Syekh Abdul Rahman. Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Abdilah Dargom.
Setelah Rombongan Syekh Quro melewati Laut Jawa dan Sunda Kelapa dan masuk Kali Citarum yang waktu itu di Kali tersebut ramai dipakai Keluar masuk para pedagang ke Pajajaran, akhirnya rombongan beliau singgah di Pelabuhan Karawang.
Menurut Buku Sejarah Jawa Barat Oleh Yosep Iskandar, tahun 1997 Halaman 250, Syekh Quro masuk Karawang sekitar 1416 M. Syekh Quro masuk bersama rombongan besar titian muhibah Laksamana Cheng Ho. Armada Cheng Ho sendiri berangkat atas perintah Kaisar Cheng-Tu atau Kaisar Yunglo, Kaisar Dinasti Ming yang ketiga. Armada laut itu berjumlah 63 kapal, dengan prajurit lautnya sebanyak 27.800 orang termasuk Syekh Quro dan rombongannya. Oleh Karena Syekh Quro atau Maulana Hasanuddin atau Syekh Hasanuddin bermaksud menyebarkan agama islam, Laksamana Cheng Ho mengizinkan, apalagi Cheng Ho dan Syekh Quro sama-sama ahlul bait. Dalam Pelayarannya menuju Majapahit Armada Cheng Ho singgah disebuah daerah yang bernama Pura, nah saat di Pura inilah rombongan besar Syekh quro turun, sedangkan armada cheng ho menuju muara jati cirebon dan beristirahat seminggu lamanya untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jawa timur.
Syekh Hasanuddin tinggal beberapa lama di Pura Karawang dibawah kegiatan Pemerintahan dan kewenangan Jabatan Dalem (masih bawahan pajajaran). Karena rombongan Syekh quro tersebut, sangat menjunjung tinggi peraturan kota Pelabuhan, aparat setempat sangat menghormati dan memberikan izin untuk mendirikan Mushola ( 1418 Masehi) sebagai sarana Ibadah sekaligus tempat tinggal mereka. Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syekh Quro terus menyampaikan Dakwah-dakwahnya di Mushola yang dibangunnya (sekarang Mesjid Agung Karawang). Dalam berdakwah ajaran Syekh Quro mudah dipahami dan mudah diamalkan, ia beserta santrinya juga memberikan contoh pengajian Al-Qur’an menjadi daya tarik tersendiri di sekitar karawang.
Di tempat ini pula Syekh Quro menikah dengan Ratna Sondari, putri penguasa daerah karawang yaitu bernama Ki Gedeng Karawang, dari pernikahannya beliau memperoleh putra yang dikenal dengan nama Syekh Ahmad, yang selanjutnya menjadi penghulu (na'ib pertama di Karawang. Cucunya Syekh Ahmad dari putrinya Nyi Mas Kedaton bernama Musanudin yang kelak menjadi lebai di Cirebon dan memimpin tajug sang cipta rasa pada masa pemerintahan susunan jati
Ulama besar ini sering mengumandangkan suara Qorinya yang merdu bersama murid-muridnya, Nyi Subang Larang, Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur dan santri lainnya seperti , Syekh Abdiulah Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Modafah alias Ayekh Maghribi keturunan dari sahabat nabi (sayidina Usman bin Affan).
Berita kedatangan kembali Syekh Quro, rupanya terdengar oleh Prabu Anggalarang yang pernah melarang penyebaran agama islam di tanah Jawa, sehingga Prabu Anggalarang mengirim utusannya untuk menutup kembali pesantren Syekh Quro. Rupanya ketidak sukaan Raja ini belum pupus terhadap ajaran Islam. Utusan yang datang kali ini ketempat Syekh Quro adalah Putra Mahkota Kerajaan Pajajaran sendiri yang bernama Raden Pamanah Rasa (kelak bernama Prabu Siliwangi, raja pajajaran yang legendaris). Sesampainya di pesantren tersebut sang putra putra mahkota tersebut justru hatinya tertambat oleh alunan suara yang merdu yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Larang, ”dalam mengalunkan suara pengajian Al-Qur’an,”. Nyai Subang Larang bin Ki Gedeng Tapa adalah Alumnus pertama Pesantren Quro Dalem Karawang, pesantren Pertama Di Jawa Barat yang didirikan oleh Syekh Quro tahun 1416 Masehi. Silsilah Nyai Subang Larang sendiri masih merupakan kerabat dekat kerajaan pajajaran, sehingga mau tidak mau penguasa pajajaran juga merasa serba salah menyikapi adanya pesantren ini, apalagi dalam berdakwah pondok pesantren ini tidak melakukan kekerasan, pendekatan dakwah pesantren adalah persuasif, damai, santun dan cerdas.
Prabu Pamanah Rasa akhirnya mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut. Atas kehendak yang Maha Kuasa Prabu Pamanah Rasa menaruh perhatian khususnya pada Nyi Subang Larang yang cantik dan merdu suaranya, akhirnya Prabu Pamanah Rasa melamar dan ingin mempersunting Nyi Subang Larang sebagai permaisurinya. Pinangan tersebut diterima tapi dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus, yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berwirid. Pernikahan ini membuktikan jika beliau Prabu Pamanah Rasa adalah Islam. Tidak mungkin rasanya tokoh sekelas Syekh Quro akan mudah menikahkan Nyai Subang Larang sembarangan.
Selain itu Nyi Subang Larang mengajukan syarat lain yaitu, agar kelak anak-anak yang lahir dari mereka harus menjadi Raja. Semua permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa. Atas petunjuk Syekh Quro, Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah.
Di tanah suci Mekkah, Prabu Pamanah Rasa disambut oleh seorang kakek penyamaran dari Syekh Maulana Jafar Sidik. Prabu Pamanah Rasa merasa keget, ketika namanya di ketahui oleh seorang kakek. Dan Kekek itu, bersedia membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat. Sang Prabu Pamanah Rasa denga tulus dan ikhlas mengucapkan Dua Kalimah Syahadat yang makna pengakuan pada Allah SWT sabagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan Muhammad adalah utusannya.
Semenjak itulah, Prabu Pamanah Rasa masuk agama Islam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau Tasbeh, mulai dari itu Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang agama islam yang sebenarnya. Prabu Pamanah Rasa segera kembali ke Kraton Pajajaran untuk melangsungkan pernikahannya dengan Nyi Subang Larang. Waktu terus berjalan maka pada tahun 1422 M pernikahan di langsungkan di Pesantren Syekh Quro dan dipimpin langsung oleh Syekh Quro. Setelah menikah Prabu Pamanah Rasa dan dinobatkan sebagai Raja Pakuan Pajajaran dengan gelar Prabu Siliwangi.
Hasil dari pernikahan tersebut mereka dikarunai 3 anak yaitu :
1. Raden Walangsungsang ( 1423 Masehi)
2. Nyi Mas Rara Santang ( 1426 Masehi)
3. Raja Sangara ( 1428 Masehi).
Setelah melewati usia remaja Raden Walangsunsang bersama adiknya Nyi Mas Rara Santang pergi meninggalkan Pakuan Pajajaran dan mendapat bimbingan dari ulama besar Syekh Nur Jati Azmatkhan di Perguruan Islam Gunung Jati Cirebon.
Setelah kakak beradik menunaikan ibadah Haji, maka Raden Walang Sungsang Menjadi Pangeran Cakra Buana dengan sebutan Mbah Kuwu Sangkan dengan beristerikan Nyi Mas Endang Geulis Putri Pandita Ajar Sakti Danuwarsih. Sedangkan Nyi Mas Rara Santang waktu pergi ke naik haji ke Mekkah diperisteri oleh Abdullah Umdatuddin (ada yang mengatakan Sultan Mesir, kemungkinan besar mesir adalah tempat belajar atau transit dakwah Sayyid Abdullah Umdatuddin, karena pada era itu tidak ada nama Syarif Abdullah dalam peta pemimpin mesir), sedangkan Raja Sangara menyebarkan agama islam di tatar selatan dengan sebutan Prabu Kian Santang (Sunan Rohmat), wafat dan dimakamkan di Godog Suci Garut. Nyi Mas Rara Santang setalah menikah dengan Sayyid Abdullah Umdatuddin/Sultan Champa/Maulana Hud, Namanya diganti menjadi Syarifah Mudaim, dari hasil pernikahannya dikaruniai dua orang putra, masing-masing bernama Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Abdullah Umdatuddin sendiri memiliki beberapa istri, salah satunya adalah Syarifah Zaenab/Putri Champa binti Ibrahim Zaenuddin Al Akbar Asmorokondi. Dari Syarifah Zaenab lahir Raden Fattah Azmatkhan/Sultan Demak 1, artinya antara Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah satu bapak beda ibu.
Adapun anak ke 3 dari Prabu Siliwangi yang bernama Raja Sengara kelak bernama Kian Santang yang salah satu keturunannya adalah KH ABDULLAH BIN NUH (ulama besar Indonesia). Kian Santang mengikuti jejak kakak kakaknya untuk menjadi pendakwah, namanya menjadi legenda dibumi jawa barat. Kisahnya cukup banyak, baik itu fakta ataupun mitos. Kian Santang terus bergerak kearah Jawa Barat untuk mengislamkan penduduk penduduk yang masih beragama hindu. Ayahnya sendiri yaitu Prabu Pamanah Rasa atau Prabu Siliwangi masih sering menjadi perdebatan tentang agama yang dianut, apakah ia islam atau hindu. Memang pasca pernikahan beliau dengan Nyai Subang Larang, Prabu Siliwangi kembali ke kerajaannya dimana kondisinya sangat hindu sentris, sehingga keberadaan beliau bisa saja dipengaruhi kembali ajaran lamanya, apalagi intrik intrik dalam kerajaan sangat kuat. istri dan anak-anak Prabu Siliwangi sendiri cukup banyak dan rata rata agama mereka adalah hindu, sehingga boleh jadi mereka juga bisa memberikan pengaruh besar pada keimanan beliau, sebaliknya ketiga anaknya yang lahir dari Nyai Subang Larang terselamatkan akidahnya karena berada pada pendidikan sang ibu yang merupakan jebolan pertama pesantren Quro Dalem Karawang. Ketiga anak beliau dari Nyai Subang Larang ini rupanya tidak kerasan di Kraton Pajajaran dan mereka lebih memilih hidup dengan ibu dan santri santri pesantren Quro. Yang juga harus dikritisi, menurut saya tidak benar jika Kian Santang mengejar ngejar ayahnya untuk masuk islam, apakah memang demikian??? apakah islam mengarjakan paksaan? saya rasa tidak, sebagai orang orang yang dididik oleh keluarga besar walisongo, saya fikir tidak mungkin Kian Santang memaksa ayahnya. cerita darimana ini??? apakah tidak malah merendahkan Kian Santang sebagai seorang pendakwah???. Kita tidak tahu masalah keimanan Prabu Siliwangi diakhir hidupnya. Namun fakta ia menikah secara islam memang benar, karena ia menikah disaksikan Syekh Quro dan juga para Santri Syekh Quro.
Dari beberapa paparan saya diatas, mungkin pembaca sudah bisa menilai bagaimanakah sebenarnya peranan Syekh Quro baik di Betawi maupun di Jawa Barat.
SUMBER REFERENSI :
1. ENSIKLOPEDIA NASAB ALHUSAINI SELURUH DUNIA, OLEH AL ALLAMAH SAYYID BAHRUDDIN AZMATKHAN AL HAFIZH & SAYYID SHOHIBUL FAROJI AZMATKHAN AL HAFIZH (THEGRAND-MUFTI KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM), PENERBIT MADAWIS 2011.
2. SEJARAH JAWA BARAT, OLEH YOSEF ISKANDAR, PENERBIT CV GEGER SUNTEN, BANDUNG , 1997.
3. BABAD TANAH BETAWI, RIDWAN SAIDI, PENERBIT GRIA MEDIA, JAKARTA, 2002.
4. RIWAYAT KESULTANAN BANTEN, TUBAGUS HAFIDZ RAFIUDIN, BANTEN, 2006.
5. CHENG HO-MISTERI PERJALANAN MUHIBAH DI NUSANTARA, PROF. KONG YUANZHI, PUSTAKA OBOR, JAKARTA, 2011
6. DARI SITUS/WEBSITE PON PES RAUDATUL IRFAN (PONDOK PESANTREN DI KARAWANG YANG DIDIRIKAN OLEH KH MEMED TURMUDZI BIN KH ZARKASI -(MURID KH TB AHMAD BAKRI (MAMA SEMPUR).