Mustika mustikaning roso, urip sejatining urip, kang mahanani gelar gulung kang gumelar aneng ngalam dunyo, kang biso mumpuni roso sedarum iku gemblenging roso, mumpuni roso sekalir.
Purwaning dumadine manungso tan liyo soko dening roh suci kang sinabdo tumurun gumelar aneng ngalam dunyo, kang sarwo tuwuh-manuwuh dedalane manunggal kinantenan sarwo midjil.
Gelar gumelare manungso soko dening manunggaling roso sejati, manunggaling bopo klawan ibu, sakarone podo rebut roso, rangkul rinangkul den podo uwal uwaliro lamun wis podo midjil.
Mulo sakabehing poro manungso elingo purwaning dumadi, sun njarwani marganipun naliko jenengsiro kinandut mring ibuniro, ibuniro rino klawan dalu tan kendat anggone meminto mring sihing gustine, pamintonipun ibuniro murih widodo lan dadi tulusing kang kinandut, sangang warso nandang sengsoro, mbenjang mios wanito wiwah kakung amung sipat dermo nompo ingkang kagungan urip.
Aksara Jawanipun :
ꦩꦸꦱ꧀ꦠꦶꦏꦤꦶꦁꦫꦺꦴꦱꦺꦴ
꧋ꦩꦸꦱ꧀ꦠꦶꦏꦩꦸꦱ꧀ꦠꦶꦏꦤꦶꦁꦫꦺꦴꦱꦺꦴ꧈ꦈꦫꦶꦥ꧀ꦱꦼꦗꦠꦶꦤꦶꦁꦈꦫꦶꦥ꧀ꦏꦁꦩꦲꦤꦤꦶꦒꦼꦭꦂꦒꦸꦭꦸꦁꦏꦁꦒꦸꦩꦺꦭꦂꦄꦤꦺꦁꦔꦭꦩ꧀ꦝꦸꦚꦺꦴ꧈ꦏꦁꦧꦶꦱꦺꦴꦩꦸꦩ꧀ꦥꦸꦤꦶꦫꦺꦴꦱꦺꦴꦱꦼꦣꦫꦸꦩ꧀ꦆꦏꦸꦒꦼꦩ꧀ꦧ꧀ꦭꦼꦔꦶꦁꦫꦺꦴꦱꦺꦴ꧈ꦩꦸꦩ꧀ꦥꦸꦤꦶꦫꦺꦴꦱꦺꦴꦱꦼꦏꦭꦶꦂ꧉
꧋ꦥꦸꦂꦮꦤꦶꦁꦣꦸꦩꦣꦶꦤꦺꦩꦤꦸꦁꦱꦺꦴꦠꦤ꧀ꦭꦶꦪꦺꦴꦱꦺꦴꦏꦺꦴꦣꦼꦤꦶꦁꦫꦺꦴꦃꦱꦸꦕꦶꦏꦁꦱꦶꦤꦧ꧀ꦝꦺꦴꦠꦸꦩꦸꦫꦸꦤ꧀ꦒꦸꦩꦺꦭꦂꦄꦤꦺꦁꦔꦭꦩ꧀ꦝꦸꦚꦺꦴ꧈ꦏꦁꦱꦂꦮꦺꦴꦠꦸꦮꦸꦃꦩꦤꦸꦮꦸꦃꦣꦼꦣꦭꦤꦺꦩꦤꦸꦁꦒꦭ꧀ꦏꦶꦤꦤ꧀ꦠꦺꦤꦤ꧀ꦱꦂꦮꦺꦴꦩꦶꦣ꧀ꦗꦶꦭ꧀꧈
꧋ꦒꦼꦭꦂꦒꦸꦩꦺꦭꦫꦺꦩꦤꦸꦁꦱꦺꦴꦱꦺꦴꦏꦺꦴꦣꦼꦤꦶꦁꦩꦤꦸꦁꦒꦭꦶꦁꦫꦺꦴꦱꦺꦴꦱꦼꦗꦠꦶ꧈ꦩꦤꦸꦁꦒꦭꦶꦁꦧꦺꦴꦥꦺꦴꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦆꦧꦸ꧈ꦱꦏꦫꦺꦴꦤꦺꦥꦺꦴꦣꦺꦴꦉꦧꦸꦠ꧀ꦫꦺꦴꦱꦺꦴ꧈ꦫꦁꦏꦸꦭ꧀ꦫꦶꦤꦁꦏꦸꦭ꧀ꦝꦺꦤ꧀ꦥꦺꦴꦣꦺꦴꦈꦮꦭ꧀ꦈꦮꦭꦶꦫꦺꦴꦭꦩꦸꦤ꧀ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦺꦴꦣꦺꦴꦩꦶꦣ꧀ꦗꦶꦭ꧀꧈
꧋ꦩꦸꦭꦺꦴꦱꦏꦧꦺꦲꦶꦁꦥꦺꦴꦫꦺꦴꦩꦤꦸꦁꦱꦺꦴꦄꦼꦭꦶꦔꦺꦴꦥꦸꦂꦮꦤꦶꦁꦣꦸꦩꦣꦶ꧈ꦱꦸꦤ꧀ꦚ꧀ꦗꦂꦮꦤꦶꦩꦂꦒꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦤꦭꦶꦏꦺꦴꦗꦼꦤꦼꦁꦱꦶꦫꦺꦴꦏꦶꦤꦤ꧀ꦝꦸꦠ꧀ꦩꦿꦶꦁꦆꦧꦸꦤꦶꦫꦺꦴ꧈ꦆꦧꦸꦤꦶꦫꦺꦴꦫꦶꦤꦺꦴꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦝꦭꦸꦠꦤ꧀ꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠ꧀ꦄꦁꦒꦺꦴꦤꦺꦩꦼꦩꦶꦤ꧀ꦠꦺꦴꦩꦿꦶꦁꦱꦶꦲꦶꦁꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦤꦺ꧈ꦥꦩꦶꦤ꧀ꦠꦺꦴꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦆꦧꦸꦤꦶꦫꦺꦴꦩꦸꦫꦶꦃꦮꦶꦣꦺꦴꦣꦺꦴꦭꦤ꧀ꦝꦣꦶꦠꦸꦭꦸꦱꦶꦁꦏꦁꦏꦶꦤꦤ꧀ꦝꦸꦠ꧀ꦱꦔꦁꦮꦂꦱꦺꦴꦤꦤ꧀ꦝꦁꦱꦼꦁꦱꦺꦴꦫꦺꦴ꧈ꦩ꧀ꦧꦼꦚ꧀ꦗꦁꦩꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦮꦤꦶꦠꦺꦴꦮꦶꦮꦃꦏꦏꦸꦁꦄꦩꦸꦁꦱꦶꦥꦠ꧀ꦝꦼꦂꦩꦺꦴꦤꦺꦴꦩ꧀ꦥꦺꦴꦆꦁꦏꦁꦏꦒꦸꦔꦤ꧀ꦈꦫꦶꦥ꧀꧈
Maknanipun :
Hakikat jiwa, hakikat hidup sejati, yang merupakan gelar gulungan yang terbentang di dunia, yang mampu dirasakan, adalah kepenuhan jiwa, yang mampu dirasakan sendirian.
Asal mula keberadaan manusia tidak asing bagi roh suci yang diutus untuk menyebar di dunia, yang semuanya tumbuh dan berkembang di jalan kesatuan jiwa.
Hakikat pertumbuhan manusia adalah melalui kesatuan jiwa sejati, kesatuan ayah dan ibu, keduanya berbagi jiwa, saling merangkul dan saling melepaskan ketika keduanya bersatu.
Itulah sebabnya semua manusia mengingat awal keberadaan mereka, mereka menjelaskan alasannya mengapa ketika namamu lahir dari ibumu, ibumu selalu berdoa kepada Tuhan, ibu dari ibumu adalah seorang janda dan ia tulus kepada yang melahirkan, sembilan tahun mengandung, hingga akhir hayat seorang wanita dengan suaminya adalah kodrat pemberi kehidupan.
Konsep Mustikaning Roso dalam terminologi Al-Qur'an :
1. Qalbun Salīm (Hati yang Selamat/Suci).
Mustikaning Roso sering dimaknai sebagai puncak kejernihan batin. Dalam Al-Qur'an, ini setara dengan Qalbun Salīm, yakni hati yang bersih dari penyakit hati dan hanya terpaut kepada Allah (QS. Asy-Syu'ara: 89).
Asy-Syu'ara' · Ayat 89
اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۗ ٨٩
illâ man atallâha biqalbin salîm
Artinya : Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, yang selamat dari noda dan dosa.
2. Lubb atau Ulul Albab (Inti Pemahaman)
Kata Mustika merujuk pada "inti" atau "permata" yang paling berharga. Dalam Al-Qur'an, istilah Lubb (jamaknya: Albab) digunakan untuk menyebut inti dari akal dan perasaan yang mampu menangkap kebenaran sejati di balik fenomena alam dan kehidupan (QS. Ali 'Imran : 190-191).
QS. Ali 'Imran ayat 190-191 adalah ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tanda-tanda kebesaran Allah pada penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang sebagai petunjuk bagi orang-orang berakal (ulul albab), yaitu mereka yang senantiasa berzikir dan bertafakur (memikirkan) ciptaan-Nya, mengakui kebesaran-Nya, serta memohon perlindungan dari siksa neraka. Ayat ini mengajak untuk merenungkan alam semesta sebagai bukti keesaan Allah dan mendorong ketaatan.
Ali 'Imran · Ayat 190
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠
inna fî khalqis-samâwâti wal-ardli wakhtilâfil-laili wan-nahâri la'âyâtil li'ulil-albâb
Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Setelah menjelaskan keburukan-keburukan orang Yahudi dan menegaskan bahwa langit dan bumi milik Allah, pada ayat ini Allah menganjurkan untuk mengenal keagungan, kemuliaan, dan kebesaranNya. Sesungguhnya dalam penciptaan benda-benda angkasa, matahari, bulan, beserta planet-planet lainnya dan gugusan bintang-bintang yang terdapat di langit dan perputaran bumi pada porosnya yang terhampar luas untuk manusia, dan pergantian malam dan siang, pada semua fenomena alam tersebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal yakni orang yang memiliki akal murni yang tidak diselubungi oleh kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan.
Ali 'Imran · Ayat 191 :
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١٩١
alladzîna yadzkurûnallâha qiyâmaw wa qu‘ûdaw wa ‘alâ junûbihim wa yatafakkarûna fî khalqis-samâwâti wal-ardl, rabbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilâ, sub-ḫânaka fa qinâ ‘adzâban-nâr
Artinya : (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Orang-orang berakal yaitu orang-orang yang senantiasa memikirkan ciptaan Allah, merenungkan keindahan ciptaan-Nya, kemudian dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat kauniyah yang terbentang di jagat raya ini, seraya berzikir kepada Allah dengan hati, lisan, dan anggota tubuh. Mereka mengingat Allah sambil berdiri dan berjalan dengan melakukan aktivitas kehidupan. Mereka berzikir kepada-Nya seraya duduk di majelis-majelis zikir atau masjid, atau berzikir kepada-Nya dalam keadaan berbaring menjelang tidur dan saat istirahat setelah beraktivitas, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi sebagai bukti kekuasaan Allah yang Mahaagung seraya berkata, “Ya Tuhan kami! Kami bersaksi bahwa tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia melainkan mempunyai hikmah dan tujuan di balik ciptaan itu semua. Mahasuci Engkau, kami bersaksi tiada sekutu bagi-Mu. Kami mohon kiranya Engkau melimpahkan taufik agar kami mampu beramal saleh dalam rangka menjalankan perintah-Mu, dan lindungilah kami dari murka-Mu sehingga kami selamat dari azab neraka.
3. Bashirah (Mata Batin)
Mustikaning Roso berkaitan dengan ketajaman rasa sejati untuk melihat kebenaran. Al-Qur'an menyebut kemampuan ini sebagai Bashirah, yaitu penglihatan hati yang tajam dan tidak tertipu oleh lahiriah (QS. Al-An'am: 104).
103
Al-An'am · Ayat 104
قَدْ جَاۤءَكُمْ بَصَاۤىِٕرُ مِنْ رَّبِّكُمْۚ فَمَنْ اَبْصَرَ فَلِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَاۗ وَمَآ اَنَا۠ عَلَيْكُمْ بِحَفِيْظٍ ١٠٤
qad jâ'akum bashâ'iru mir rabbikum, fa man abshara fa linafsih, wa man ‘amiya fa ‘alaihâ, wa mâ ana ‘alaikum biḫafîdh
Artinya : Sungguh, telah datang kepadamu bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Siapa yang melihat (bukti-bukti itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri dan siapa yang buta (tidak melihat bukti-bukti itu), maka (akibat buruknya) bagi dirinya sendiri, sedangkan aku (Nabi Muhammad) bukanlah pengawas(-mu).
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Kemampuan penglihatan manusia amat terbatas seperti diisyaratkan oleh ayat sebelum ini. Namun demikian, manusia dianugerahi oleh Allah dengan mata batin. Ayat ini menegaskan bahwa sungguh, bukti-bukti yang nyata dan sangat jelas telah datang dari Tuhanmu yang disampaikan melalui wahyu. Barang siapa melihat kebenaran itu dengan mata hatinya, maka manfaatnya bagi dirinya sendiri, bukan untuk orang lain, dan barang siapa buta mata batinnya dan tidak melihat kebenaran itu, maka dia sendiri-lah yang akan rugi, bukan orang lain. Dan aku, yakni Nabi Muhammad, bukanlah penjaga-mu, tetapi aku hanya sekadar menyampaikan nasihat.
4. Nafs al-Mutmainnah (Jiwa yang Tenang)
Pencapaian tertinggi dari "Roso" adalah ketentraman batin yang mendalam. Al-Qur'an menyebut kondisi jiwa yang telah mencapai kemurnian dan ketenangan ini sebagai Nafs al-Mutmainnah (QS. Al-Fajr: 27).
Al-Fajr · Ayat 27
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ٢٧
yâ ayyatuhan-nafsul-muthma'innah
Artinya : Wahai jiwa yang tenang,
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Allah berfirman kepada manusia yang beriman dan beramal saleh, “Wahai jiwa yang tenang, tenteram, damai, dan tidak takut apa pun serta tidak merasa sedih karena apa pun.
Penjelasannya :
Mustikaning Roso dalam perspektif Islam adalah bentuk akulturasi nilai-nilai Tasawuf yang menekankan pada penyucian jiwa (Tazkiyatun Nafs) untuk mencapai kedekatan (Ma'rifat) kepada Sang Pencipta.
Akulturasi nilai-nilai tasawuf di Indonesia merupakan proses perpaduan antara ajaran spiritualitas Islam dengan tradisi lokal tanpa menghilangkan esensi keduanya. Proses ini menjadi salah satu strategi utama Islamisasi di Nusantara karena sifatnya yang akomodatif terhadap alam pikiran masyarakat setempat.
Bentuk dan Contoh Akulturasi
1. Seni Sastra dan Pertunjukan: Penggunaan karya sastra tradisional (seperti di Aceh, Jawa, dan Bugis) untuk menyampaikan ajaran sufi. Contoh nyata adalah pemanfaatan wayang dan seni batik yang memadukan estetika lokal dengan simbol-simbol ketauhidan.
2. Ritual dan Tradisi Adat: Integrasi nilai tasawuf ke dalam upacara siklus hidup seperti kelahiran, perkawinan, kematian, serta tradisi kenduri atau selamatan. Contoh spesifik adalah tradisi Tarawangsa yang mengandung nilai syukur perspektif tasawuf.
3. Kepercayaan dan Pandangan Hidup: Munculnya sintesis antara tasawuf Islam dengan kebatinan Jawa (kejawen), di mana konsep zuhud (hidup sederhana) selaras dengan nilai kebijaksanaan lokal dalam menjaga kemurnian batin.
4. Praktik Keagamaan: Penggabungan tradisi sufistik seperti zikir dan doa bersama ke dalam praktik budaya masyarakat pedesaan.
Nilai-Nilai Tasawuf yang Terakulturasi
Nilai-nilai utama yang sering diserap dalam budaya lokal meliputi:
- Sabar dan Ikhlas: Menjadi landasan dalam menghadapi tantangan hidup.
- Syukur: Diwujudkan melalui berbagai upacara adat sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan.
- Zuhud: Sikap mengendalikan diri dari keterikatan duniawi secara berlebihan.
- Tawakal dan Rendah Hati: Membangun hubungan harmonis antar sesama manusia dan pencipta.
Proses akulturasi ini membuktikan eksistensi Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin, mampu berdialog dengan kebudayaan baru untuk menciptakan kohesi sosial masyarakat yang majemuk.
Tazkiyatun Nafs
Tazkiyatun Nafs secara harfiah berarti penyucian jiwa atau pembersihan diri dari kotoran batin. Dalam tradisi Islam, ini adalah proses berkelanjutan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan membersihkan hati dari penyakit moral dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji [1, 2].
Berikut adalah tiga pilar utama dalam proses Tazkiyatun Nafs :
1. At-Takhalli (Pembersihan)
Tahap awal adalah membersihkan hati dari sifat-sifat tercela (Al-Madzmumah). Fokus utamanya adalah menghilangkan penghalang antara hamba dan penciptanya, seperti :
- Syirik: Menyekutukan Allah.
- Penyakit Hati: Iri hati (hasad), sombong (takabbur), pamer (riya), dan cinta dunia yang berlebihan (hubbud dunya).
2. At-Tahalli (Penghiasan)
Setelah dibersihkan, jiwa harus diisi dan dihiasi dengan sifat-sifat mulia (Al-Mahmudah). Hal ini dilakukan melalui pembiasaan ibadah dan akhlak baik, seperti:
- Sabar dan Syukur: Menerima ketetapan Allah dan berterima kasih atas nikmat-Nya.
- Ikhlas: Melakukan segala sesuatu hanya karena Allah.
- Tawakal: Berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah berikhtiar.
3. At-Tajalli (Penyingkapan)
Ini adalah tahap di mana seorang hamba merasakan kedekatan yang luar biasa dengan Allah. Pada tingkat ini, cahaya ketuhanan menyinari hati sehingga seseorang merasakan ketenangan batin (ithmi'nan) dan kemanisan iman dalam setiap tindakannya.
Cara Mempraktikkan Tazkiyatun Nafs :
1. Muhasabah: Rutin melakukan evaluasi diri atas dosa dan kesalahan setiap hari.
2. Mujahadah: Bersungguh-sungguh dalam melawan hawa nafsu dan konsisten dalam beribadah.
3. Dzikir dan Doa: Menjaga lisan dan hati untuk selalu mengingat Allah agar hati menjadi tenang.
4. Menjaga Makanan: Memastikan hanya mengonsumsi sesuatu yang halal, karena makanan berpengaruh pada kesucian hati.
Sekilas Kitab Ihya Ulumuddin
Didalam ajaran Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali adalah menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama melalui perpaduan antara aspek syariat (zahir) dan tasawuf (batin) untuk mencapai kesempurnaan akhlak dan kedekatan dengan Allah.
Kitab ini disusun dalam empat bagian utama (empat perempat) yang merangkum perjalanan spiritual seorang Muslim :
1. Rub’ul Ibadat (Ibadah): Menjelaskan rahasia di balik tata cara ibadah (seperti salat dan puasa) agar tidak sekadar menjadi ritual fisik, tetapi memiliki makna spiritual yang mendalam.
2. Rub’ul Adat (Tradisi): Membahas adab dalam kehidupan sehari-hari, seperti makan, pernikahan, dan etika sosial, agar setiap aktivitas duniawi bernilai ibadah.
3. Rub’ul Muhlikat (Hal-hal yang Membinasakan): Menguraikan penyakit hati yang merusak amal, seperti sombong, ria, dan amarah, serta cara-cara mengobatinya.
4. Rub’ul Munjiat (Hal-hal yang Menyelamatkan): Menjelaskan tahapan spiritual (maqamat) untuk mencapai keselamatan, seperti tobat, sabar, syukur, tawakal, dan cinta (mahabbah) kepada Allah.
Inti Ajarannya :
1. Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs): Menekankan pentingnya membersihkan hati dari sifat buruk untuk membentuk karakter yang mulia.
2. Keseimbangan Dunia-Akhirat: Mengajarkan bahwa ilmu agama adalah alat untuk menggapai kebahagiaan sejati di akhirat tanpa mengabaikan tanggung jawab di dunia.
3. Kesempurnaan Akhlak: Tujuan akhir pendidikan dan ilmu dalam pandangan Al-Ghazali adalah transformasi karakter menjadi lebih baik dan berakhlak mulia.
Ma'rifat
Ma'rifat (atau makrifat) secara etimologis berarti mengetahui secara mendalam atau mengenal dengan sungguh-sungguh. Dalam konteks spiritual dan tasawuf Islam, makrifat adalah pengetahuan mendalam dan intuitif tentang Allah SWT yang diperoleh melalui penyucian hati dan pengalaman spiritual langsung, bukan hanya melalui pembelajaran rasional.
Kajian Lebih Dalam :
1. Mengenal Allah (Ma'rifatullah): Ini adalah aspek sentral dari makrifat, yang berarti mengenal Allah dengan sifat-sifat-Nya yang benar sebagaimana Dia mensifati diri-Nya dalam Al-Qur'an. Orang yang mencapai makrifatullah tidak hanya tahu tentang Allah, tetapi sadar sepenuhnya akan eksistensi dan kebesaran-Nya, seolah-olah hatinya menyaksikan-Nya.
2. Cara Pencapaian: Berbeda dengan ilmu biasa yang didapat melalui akal dan pembelajaran, makrifat membutuhkan perjuangan spiritual (mujahadah), penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs), dan praktik ibadah yang konsisten.
3. Tingkatan: Para sufi seperti Dzun Nun Al-Mishri membagi makrifat menjadi beberapa tingkatan, dengan tingkatan tertinggi hanya dapat dicapai oleh mereka yang benar-benar menyucikan hatinya.
Ciri-ciri Orang yang Mencapai Ma'rifat
Orang yang mencapai tingkatan makrifat (disebut juga 'arif billah) umumnya menunjukkan ciri-ciri berikut :
1. Meninggalkan Keduniaan: Mereka lebih fokus mencari ridha Allah dan kurang terikat pada urusan duniawi.
2. Kualitas Ibadah yang Terjaga: Ibadah mereka menjadi lebih baik dan konsisten, terutama saat sendirian, karena merasa selalu diawasi oleh Allah.
3. Memiliki Ketenangan Hati: Pencapaian makrifat membawa kebahagiaan sejati dan kedamaian hati yang mendalam.
4. Optimis: Kekuatan iman yang lahir dari makrifat membuat mereka kuat dalam menghadapi cobaan hidup dan selalu optimis.
Secara ringkas, makrifat adalah perjalanan rohani untuk mengenal Tuhan secara mendalam menggunakan hati, yang menghasilkan kecerdasan rohaniah dan kesadaran akan eksistensi keutuhan Ilahi.
Hubungan filosofis Mustikaning Roso dengan ayat-ayat Al-Qur'an :
1. Rasa Tenang (Muthmainnah)
Mustikaning Roso adalah kondisi hati yang telah mencapai ketenangan puncak karena selalu mengingat Tuhan. Hal ini selaras dengan :
- QS. Ar-Ra’d: 28: "...Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
Ar-Ra'd · Ayat 28
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
alladzîna âmanû wa tathma'innu qulûbuhum bidzikrillâh, alâ bidzikrillâhi tathma'innul-qulûb
Artinya : (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Mereka yang mendapat petunjuk adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan hati mereka menjadi tenang dan tenteram dengan banyak mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan banyak mengingat Allah hati menjadi tenteram.
- QS. Al-Fajr: 27-28: "Wahai jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya."
Al-Fajr · Ayat 27
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ٢٧
yâ ayyatuhan-nafsul-muthma'innah
Artinya : Wahai jiwa yang tenang,
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Allah berfirman kepada manusia yang beriman dan beramal saleh, “Wahai jiwa yang tenang, tenteram, damai, dan tidak takut apa pun serta tidak merasa sedih karena apa pun.
Al-Fajr · Ayat 28
ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ ٢٨
irji‘î ilâ rabbiki râdliyatam mardliyyah
Artinya : kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Kembalilah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan mendidikmu, dengan hati yang rida atas pahala dan nikmat yang Allah siapkan untukmu, dan di ridai-Nya karena Allah telah menerima amalan salehmu.
2. Kesadaran Jati Diri (Manunggaling Roso)
Istilah "Manunggaling Roso" atau bersatunya rasa manusia dengan kehendak Ilahi sering divisualisasikan sebagai bentuk kepasrahan total. Ayat yang relevan adalah :
- QS. Qaf: 16: "...dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri." (Menekankan bahwa "rasa" Tuhan hadir dalam diri manusia).
Qaf · Ayat 16
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ ١٦
wa laqad khalaqnal-insâna wa na‘lamu mâ tuwaswisu bihî nafsuh, wa naḫnu aqrabu ilaihi min ḫablil-warîd
Artinya : Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah mengetahui apa yang dibisikkan oleh manusia dan tidak ada sesuatu pun yang samar atau tersembunyi bagi-Nya. Dan sungguh, Kami, yakni Allah dengan kuasa-Nya bersama ibu bapak yang dijadikannya sebagai perantara telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, baik kebaikan maupun kejahatan, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Yakni Allah Maha Mengetahui keadaan manusia walau yang paling tersembunyi sekali pun.
- QS. Al-Baqarah: 115: "Dan milik Allah-lah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah..."
Al-Baqarah · Ayat 115
وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ١١٥
wa lillâhil-masyriqu wal-maghribu fa ainamâ tuwallû fa tsamma waj-hullâh, innallâha wâsi‘un ‘alîm
Artinya : Hanya milik Allah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Dan milik Allah timur dan barat. Artinya, Allah adalah Tuhan bumi seluruhnya. Ke mana pun kamu menghadap ketika menunaikan salat, di sanalah wajah Allah, yaitu kiblat yang diinginkan Allah bagimu. Sungguh, Allah Mahaluas, tidak sempit dan tidak terbatas, Maha Mengetahui siapa yang menghadap kepada-Nya di mana pun ia berada.
3. Rasa Sejati (Fitrah)
Mustikaning Roso dianggap sebagai pembersihan diri dari kabut nafsu untuk kembali ke asal (fitrah). Konsep penyucian jiwa (Tazkiyatun Nafs) ini terdapat dalam :
- QS. Asy-Syams: 9: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu."
Asy-Syams · Ayat 9
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ ٩
qad aflaḫa man zakkâhâ
Artinya : sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwa itu dan menyucikannya dari segala kekotoran seperti syirik, kufur, takabur, iri, dengki, kikir, tamak, dan sebagainya, lalu menghiasinya dengan sifat-sifat baik seperti iman, ikhlas, sabar, syukur, dan sebagainya.
- QS. Al-A'la: 14: "Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman)."
Al-A'la · Ayat 14
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ ١٤
qad aflaḫa man tazakkâ
Artinya : Sungguh, beruntung orang yang menyucikan diri (dari kekafiran)
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri dengan beriman kepada Allah secara hakiki, membersihkan diri dari dosa,
Penggambaran Visualisasi Simbolis
Secara visual, Mustikaning Roso sering digambarkan melalui :
- Kaligrafi Jawa-Islam: Gabungan huruf hijaiyah dengan ornamen gunungan atau sulur-suluran yang melambangkan pertumbuhan spiritual.
- Cahaya (Nur): Mengacu pada QS. An-Nur: 35, yang melambangkan cahaya Tuhan yang menerangi relung hati terdalam manusia.
An-Nur · Ayat 35
۞ اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌۙ ٣٥
allâhu nûrus-samâwâti wal-ardl, matsalu nûrihî kamisykâtin fîhâ mishbâḫ, al-mishbâḫu fî zujâjah, az-zujâjatu ka'annahâ kaukabun durriyyuy yûqadu min syajaratim mubârakatin zaitûnatil lâ syarqiyyatiw wa lâ gharbiyyatiy yakâdu zaituhâ yudlî'u walau lam tamsas-hu nâr, nûrun ‘alâ nûr, yahdillâhu linûrihî may yasyâ', wa yadlribullâhul-amtsâla lin-nâs, wallâhu bikulli syai'in ‘alîm
Artinya : Allah (pemberi) cahaya (pada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang (pada dinding) yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang (yang berkilauan seperti) mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah memberi petunjuk menuju cahaya-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Allah adalah pemberi cahaya, karenanya Dia menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi cahaya bagi kehidupan manusia. Allah adalah pemberi cahaya pada langit dan bumi, baik cahaya material yang kasat mata maupun cahaya immaterial seperti keimanan, pengetahuan, dan lainnya. Perumpamaan kecerlangan cahaya-Nya yang menerangi hati orang-orang mukmin seperti sebuah lubang yang tidak tembus sehingga tidak diterpa angin yang dapat memadamkan cahaya, dan membantu mengumpulkan cahaya lalu memantulkannya; yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca dan tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun, yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, sehingga pohon itu selalu mendapat sinar matahari sepanjang hari. Kejernihan minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, berlapis-lapis; pelita adalah cahaya, demikian pula kaca dan minyak yang begitu jernih, sehingga sempurnalah sinarnya. Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, yaitu siapa saja yang mengikuti petunjuk Al-Qur’an, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia agar mereka mudah memahami kandungannya dan mengambil pela-jaran darinya hingga akhirnya mau beriman. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu; tidak ada sedikit pun yang tersembunyi dari-Nya.
Jika perlu mencari gambar fisik (seperti lukisan atau kaligrafi), karya-karya bertema tasawuf Jawa biasanya menggunakan simbolisme air bening, cahaya di dalam jantung, atau meditasi (zikir) untuk merepresentasikan puncak rasa ini.
Artikel Kanti Suci Project



